Cerita Tentang Kopi di Kala Pandemi Covid-19

0
199
Kopi Solok Radjo: Ceri merah kopi Solok Radjo.
Kopi Solok Radjo: Ceri merah kopi Solok Radjo.

JAKARTA, Nawacita –  Berbicara tentang kopi, rasa-rasanya tidak terbatas seputar budi daya ataupun pemasaran produk. Kopi sudah menjadi bagian dari tradisi bahkan budaya Nusantara.

Budayawan Lampung Anshori Djausal mengatakan kopi telah menjelma menjadi gaya hidup, lambang kemapanan, absurditas kaum kreatif, bahkan suatu tingkat kemewahan.

Menurutnya, kopi telah menjelma menjadi produk kebudayaan. Awalnya budi daya kopi menganut sistem kearifan lokal atau Shade Cultivation.

Sistem budi daya tersebut yaitu kopi ditanam di bawah lindungan/naungan pohon yang memberikan habitat alami untuk berbagai satwa dan serangga, serta membangun keanekaragaman hayati hutan. Pupuk dihasilkan dari kompos kulit kopi, sehingga tidak perlu lagi menggunakan pupuk kimia dan pestisida.

Dalam perkembangannya, pada kurun waktu 1970 dan 1980, selama revolusi hijau, sistem bertanam kopi yang harus membabat hutan dan terkesan merusak keanekaragaman hayati (Sun Cultivation).

Budi daya kopi dengan sistem Sun Cultivation, yaitu konsep menebang semua pohon, menggunakan pupuk dan pestisida.  Akhirnya, sering kita dengar ada yang disebut perkebunan kopi.

Selain sistem budi daya yang berkembang, ternyata budi daya kopi masih menyisahkan masalah. Tidak semua petani kopi sejahtera.

Ya, petani dihadapkan harga komoditas yang naik-turun. “Sudah saatnya membangun kesadaran bahwa harga kopi harus cukup mahal sebagai ‘harga yang adil’, supaya petani kopi masih mau bertanam kopi,” ujarnya.

Saat ini, selain dihadapkan persoalan-persoalan klasik—tantangan pemasaran, harga komoditas hingga daya saing produk—pengembangan bisnis kopi dihadapkan masalah baru. Ya, pandemi virus corona atau (Covid-19).

bsn

LEAVE A REPLY