Amerika Tuduh China dan Rusia Bekerja Sama Sebar Hoax COVID-19

0
481
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

WASHINGTON, Nawacita – Amerika Serikat (AS) menuduh China dan Rusia meningkatkan kerja sama untuk menyebarkan narasi palsu terkait pandemi virus Corona. AS menyebut China mengadopsi teknik yang diasah oleh Rusia.

“Bahkan sebelum krisis COVID-19, kami menilai tingkat koordinasi tertentu antara Rusia dan RRC dalam ranah propaganda,” kata Lea Gabrielle, koordinator Global Engagement Center Departemen Luar Negeri AS, yang melacak propaganda asing. “Tetapi dengan pandemi ini, kerja sama telah meningkat dengan cepat,” ia menambahkan kepada wartawan.

“Kami melihat konvergensi ini sebagai hasil dari apa yang kami anggap sebagai pragmatisme antara kedua aktor yang ingin membentuk pemahaman publik tentang pandemi COVID-19 untuk tujuan mereka sendiri,” jelasnya seperti dikutip dari AFP, Sabtu (9/5/2020).
Baca Juga: Amerika Serikat Investigasi Asal Penyebaran Virus Corona di Wuhan

Global Engagement Center sebelumnya mengatakan bahwa ribuan akun media sosial yang terhubung dengan Rusia menyebarkan konspirasi tentang pandemi, termasuk menuduh bahwa virus yang pertama kali terdeteksi tahun lalu di kota metropolitan China, Wuhan, diciptakan oleh AS.

Menurut Global Engagement Center, China sekali lagi mengintensifkan kampanye daringnya untuk mempertahankan penanganan pandemi, yang telah menewaskan sekitar 270 ribu orang di seluruh dunia, dan mengkritik AS. “Beijing beradaptasi secara real time dan semakin menggunakan teknik yang telah lama dipekerjakan oleh Moskow,” kata Gabrielle. “China semakin banyak menggunakan jaringan bot untuk memperkuat pesannya,” imbuh Gabrielle.
Baca Juga: Jerman Ragukan Tuduhan Amerika COVID-19 Berasal dari Lab China

Ia mengatakan bahwa akun diplomatik resmi China tiba-tiba terjadi peningkatan pada akhir Maret, dengan menambahkan sekitar 30 pengikut baru setiap hari menjadi lebih dari 720, seringkali berasal dari akun yang baru dibuat. Ia mengatakan bahwa China pertama kali diamati menggunakan metode online seperti itu untuk “menabur perselisihan politik” di wilayah otonomnya di Hong Kong, yang telah menyaksikan demonstrasi besar pro-demokrasi.

China membuat marah AS ketika seorang juru bicara Kementerian Luar Negerinya mentweet konspirasi bahwa militer AS membawa virus ke Wuhan. Namun perang retorika keduanya mereda setelah pembicaraan telepon antara Presiden Donald Trump dan rekannya asal China, Xi Jinping.

Ketegangan kembali melonjak ketika Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mendorong teori bahwa virus itu berasal dari laboratorium China, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia dan ahli epidemiologi top pemerintah AS mengatakan tidak ada bukti mengenai hal ini.

sdnws.

LEAVE A REPLY