Paling Tinggi Ke-5 Dunia, Tahun ini Jakarta Bangun Menara Signature

0
678
Gambar Rencana Menara Signature.
Gambar Rencana Menara Signature.

JAKARTA, Nawacita – Jakarta masih menjadi pusat bisnis yang menjanjikan. Kebutuhan gedung-gedung vertikal untuk perkantoran maupun hunian juga terus berkembang. Tak sekadar berwujud bangunan, gedung-gedung baru juga diciptakan sebagai pencakar langit berkelas dunia dengan arsitektur yang indah.

Tahun ini Jakarta juga menggeber pembangunan gedung tinggi baru yang akan menapaki tertinggi kelima di dunia. Gedung bernama Menara Signature ini tingginya mencapai 638 meter. Gedung prestisius ini akan berdiri menjulang di Jalan Sudirman Jakarta. Operasional gedung ini ditargetkan bisa dilakukan mulai 2025. Kehadiran Menara Signature ini akan menambah jumlah gedung vertikal di Ibu Kota yang tahun ini telah mencapai 867 unit.

Berdasarkan catatan Real Estate Indonesia (REI), daya huni maupun daya untuk kebutuhan kantor di Jakarta dari tahun ke tahun masih sangat besar dan terus bertumbuh. Meski kondisi lahan di Jakarta kian sempit, namun lahan-lahan yang masih tersedia akan terus berpotensi untuk dikembangkan sebagai bangunan atau gedung vertikal.

Baca Juga: Masalah Pendanaan Ibu Kota Baru REI Siap Terlibat

Pada beberapa tahun terakhir, para pengembang lebih mengarah pada pembangunan hunian maupun kebutuhan kantor yang dekat dengan lokasi transit oriented development(TOD). Dengan dekat TOD, para penghuni tak lagi takut dengan ancaman kemacetan lalu lintas.

Sekretaris Jenderal Sekjen (REI) Paulus Totok Lusida mengakui DKI Jakarta masih terus dilihat sebagai ekonomi value yang keberadaannya tidak diragukan lagi. “Jadi Jakarta itu sudah tidak perlu diciptakan sebagai kantong ekonomi lagi karena memang sudah menjadi pusat ekonomi,” ujarnya.

REI juga mencatat kebutuhan hunian di Jakarta kian dibutuhkan, apalagi sejak perhelatan pemilu presiden selesai. Berdasarkan kebutuhan konsumsi kredit, pertumbuhan sektor properti sudah berada di atas 10%, yakni dari 22% sebelum pilpres menjadi 24,5%. Kendati secara kebutuhan maupun penyerapan masih tinggi, namun jumlah pembangunan gedung vertikal di Jakarta tergolong melambat.

Kebutuhan hunian maupun perkantoran masih bisa dipenuhi dengan keberadaan gedung yang ada sekarang. Merujuk data Council of Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), Indonesia berhasil menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit sebanyak lima gedung pada 2018. Indonesia menduduki peringkat kelima dalam kategori negara yang menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit.

Ada lima gedung yang berhasil diselesaikan pada 2018, yakni Treasury Tower (279,5 meter), Casa Domaine Tower 1 (230 m), Casa Domaine Tower 2 (209,9 m), World Trade Center 3 (209,1 m), dan Sequish Tower (206,3 m). Kemudian China tetap mempertahankan sebagai negara yang paling banyak menyelesaikan proses konstruksi gedung pencakar langit selama 2018.
Baca Juga: Jakarta Nyaris Masuk Daftar 100 Besar Kota Paling Mahal di Dunia
China menyelesaikan 88 gedung pencakar langit atau 61,5% dari total pembangunan gedung pencakar langit di dunia. “Itu menjadi rekor bagi China yang lebih banyak dibandingkan tahun lalu yakni selisih delapan gedung,” demikian keterangan CTBUH. Pada 2016 China mampu menyelesaikan pembangunan 86 gedung dengan ketinggian di atas 200 meter.

Kenapa China mendominasi dalam pembangunan gedung bertingkat? “China selalu melakukan disrupsi dalam industri konstruksi global, khususnya baja,” demikian keterangan CTBUH dilansir CNN. Selain itu, China juga memberikan kelonggaran dalam pembiayaan utang dan pertumbuhan ekonomi domestik yang sangat tinggi.

Untuk peringkat kedua adalah Amerika Serikat dengan 13 gedung pencakar langit yang selesai. Itu meningkat dibandingkan 2017 di mana hanya 10 gedung. Posisi selanjutnya adalah Uni Emirat Arab dengan 10 gedung pencakar langit. Posisi keempat adalah Malaysia dengan penyelesaian tujuh gedung pencakar langit.

Lantas, kawasan mana yang paling berkembang dalam pembangunan gedung pencakar langit? CTBUH menyebutkan Asia tetap mendominasi dalam pembangunan gedung bertingkat pada 2018 dengan jumlah 109 gedung pencakar langit atau 76% dari total di seluruh dunia. Jumlah itu sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan 2017 di mana terdapat penyelesaian pembangunan 113 gedung pencakar langit di atas 200 meter.

Kalau di Timur Tengah hanya 13 gedung pencakar langit. Sedangkan Amerika Utara hanya 16 gedung pencakar langit. Bagaimana di Eropa? Ternyata hanya satu gedung yakni Nurol Life di Istanbul Turki dengan ketinggian 220 meter.

Serapan Tinggi

Head of Markets lembaga riset Jones Lang LaSalle (JLL) Angela Wibawa mengatakan, total penyerapan ruang perkantoran di triwulan kedua di Jakarta mencapai 24.000 meter persegi di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) dengan perusahaan berbasis teknologi mengambil porsi sebesar 43%. “Untuk di kawasan non-CBD terjadi penyerapan yang lebih tinggi. Ini disebabkan oleh tiga gedung perkantoran yang selesai dibangun dan salah satunya digunakan oleh pemilik gedung,” ungkapnya.

Hasil riset yang dilakukan oleh JLL juga menunjukkan, total penyerapan ruang sewa perkantoran CBD selama semester pertama 2019 juga tergolong baik karena telah melebihi 50% dari total rata-rata penyerapan selama 10 tahun terakhir. Tingkat hunian juga tetap stabil dari triwulan sebelumnya.

Namun, harga sewa perkantoran turun sebesar 1,3% untuk bangunan kelas A. Di sektor ritel, tingkat permintaan masih cukup stabil dengan sektor fast fashion dan makanan-minuman (F&B) sebagai peritel yang paling aktif. Tingkat penjualan kondominium masih berada pada posisi yang lemah. Namun, revisi peraturan pajak diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar kondominium.

Pasar ritel pada triwulan kedua ini terlihat masih tetap stabil yang ditunjukkan oleh aktifnya peritel dari sektor fashion dan F&B dengan tingkat hunian tetap stabil di angka 88%. Beroperasinya mass rapid transit (MRT) kian melengkapi kebutuhan pengguna dengan konsep grab and go.

Konsep semacam ini diharapkan dapat berkembang seiring bertambahnya rute baru MRT atau light rail transit (LRT). Pertumbuhan pembangunan gedung vertikal baru di Jakarta mengalami perlambatan sejak 2017. Menurunnya, pembangunan gedung-gedung berlantai sembilan ke atas ini lebih banyak dipengaruhi faktor ekonomi.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta Heru Hermawanto mengungkapkan, penurunan pembangunan gedung masih terjadi pada periode 2019-2020 . “Sektor perekonomian untuk properti menurun dan mempengaruhi pembangunan. Dari yang biasanya 15 unit per tahun, paling saat ini hanya lima unit gedung,” kata Heru.

Dia menjelaskan, selama ini pengendalian gedung tinggi tidak dilakukan di wilayah tertentu. Artinya, pembangunan gedung bebas dilakukan di mana saja sesuai Rencana Dasar Tata Ruang Wilayah (RDTR). “Pemerintah pusat kan juga punya andil untuk kebijakan gedung karena banyak aspek. Aspek ekonomi misalnya, dari pajak, moneter, dan sebagainya. Kalau pemerintah daerah dari izin dan regulasi,” pungkasnya.

Namun, kalangan DPRD mengkritisi eksekutif yang lemah dalam melakukan penataan masalah gedung vertikal. Ini seperti disampaikan anggota Komisi D DKI Jakarta Ricardo. Indikasi lemahnya penataan itu antara lain masih banyaknya peristiwa kecelakaan di dalam gedung, baik kebakaran ataupun roboh, seperti yang di lantai gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018.
Baca Juga: Potensi Kawasan Suramadu Jadi Waterfront City Terbaik
Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia Agus Pambagio juga meminta Pemprov DKI Jakarta menindak tegas pemilik gedung atau bangunan yang menyalahi aturan. “Harus dihukum. Mereka yang memiliki gedung tinggi, namun salahi aturan, satu-satu caranya yah dihukum dan ditindak tegas,” kata Agus. Agus menilai, tindak tegas itu menunjukkan bahwa perda, pergub, maupun aturan hukum lainnya masih berdiri tegak.

Dengan demikian, penyelewengan tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Sekalipun pada akhirnya nanti terjadi koefisien lantai bangunan (KLB) dan pemilik membayar beberapa uang, kata Agus, namun tindakan tegas harus dilakukan. Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga juga melihat KLB tak menguntungkan DKI lantaran pembayarannya hanya sekali.

Padahal, pembangunan gedung harus diukur secara jangka panjang. Ketika gedung telah dibangun, harus diperhatikan soal ketersediaan listrik, air, hingga dampak kemacetan. Di sisi lain, pembangunan gedung harus memperhatikan keselamatan salah satunya keadaan darurat seperti kebakaran, gempa bumi, hingga evakuasinya.

sdnws.

LEAVE A REPLY