Kota Madinah Al Munawwarah, Kota Suci Kedua Bagi Umat Islam

0
1666
Madinah Al-Munawwarah yang berarti ‘kota bercahaya’ adalah sebuah kota di daerah Hijaz sekaligus ibukota dari Provinsi Madinah di Arab Saudi.

Nawacita Bagi umat Islam, Madinah Al-Munawwarah bukanlah kota yang asing. Apalagi mereka yang pernah melaksanakan ibadah haji atau umrah pasti menyukai dan mencintai kota ini.

Madinah Al-Munawwarah yang berarti ‘kota bercahaya’ adalah sebuah kota di daerah Hijaz sekaligus ibukota dari Provinsi Madinah di Arab Saudi. Di kota ini terdapat Masjid Nabawi (Masjid Nabi), tempat dimakamkannya utusan Allah untuk alam semesta, Nabi Muhammad SAW. Madinah merupakan suci kedua bagi umat Islam setelah Makkah.Apa saja keutamaan dan kesucian yang dimiliki Kota Madinah? Berikut ringkasan yang dikutip dari berbagai hadis Nabi dalam Kitab Shahih Bukhari.

 

1. Kesucian Kota Madinah
Dari Anas radhiallahu anhu (RA) mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Madinah itu haram (Tanah Suci) dari ini sampai ini, tidak boleh dipotong (ditebang) pohonnya, dan tidak boleh dilakukan bid’ah di dalamnya. Barangsiapa yang membuat bid’ah (atau melindungi orang yang berbuat bid’ah) di dalamnya, maka ia terkena laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.”

Abu Hurairah RA berkata: “Seandainya saya melihat biawak memakan rumput di Madinah, niscaya saya tidak akan menghardiknya.” Nabi SW bersabda, “Apa yang ada di antara dua batu hitam (tanda pembatas) Madinah itu diharamkan lewat lisanku.” (Dalam satu riwayat: “Apa yang ada di antara dua batu hitam Madinah adalah haram.”) Abu Hurairah berkata, “Nabi mendatangi bani Haritsah, lalu beliau bersabda, “Saya kira kalian wahai bani Haritsah, telah keluar dari Tanah Haram.” Kemudian beliau berpaling dan bersabda, “Namun, kalian masih ada di Tanah Haram.”

 

2. Madinah Itu Melenyapkan Manusia yang Buruk-Buruk
Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Saya diperintahkan pergi ke suatu desa yang memakan desa-desa yang lain, mereka menyebutnya Yatsrib. Yaitu, Madinah, yang meniadakan manusia (yang buruk) sebagaimana ubupan (embusan tukang besi) meniadakan kotoran besi.”

 

3. Iman Itu Akan Berhimpun ke Madinah
Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya iman itu berkumpul ke Madinah sebagaimana ular berkumpul di lubangnya.”

 

4. Dosa Orang yang Bermaksud Berbuat Buruk terhadap Para Penghuni Kota Madinah
Sa’ad RA berkata, “Saya mendengar Nabi bersabda, ‘Tidaklah seseorang membuat tipu daya terhadap penghuni Madinah melainkan ia akan hancur sebagaimana hancurnya garam dalam air.”

5. Benteng-Benteng Kota Madinah
Usamah RA berkata, “Nabi naik ke salah satu benteng Madinah lalu beliau bersabda, ‘Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? (Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah di sela-sela rumah-rumah kamu seperti tempat tempat jatuhnya tetesan air hujan.'”

6. Dajjal Tidak Bisa Memasuki Kota Madinah
Abu Bakar RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah masuk Kota Madinah ketakutan terhadap Dajjal, pada hari itu Madinah mempunyai tujuh buah pintu gerbang, di atas setiap pintu ada dua malaikat penjaga.”

Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah bersabda, ‘pada pintu-pintu kota Madinah ada malaikat yang menyebabkan tha’un ‘wabah’ dan Dajjal tidak memasukinya.”

Anas bin Malik RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak ada suatu negeri kecuali akan dimasuki oleh Dajjal selain Kota Makkah dan Madinah yang setiap pintu gerbangnya ada malaikat-malaikat yang berbaris menjaganya, (maka Dajal dan wabah tha’un tidak akan dapat mendekatinya insya Allah. Dan dalam satu riwayat: Dajjal datang sehingga turun di sudut Kota Madinah. Kemudian Madinah menggoncang penghuninya tiga kali. Sehingga, Allah mengeluarkan seluruh orang kafir dan munafik.”

Abu Sa’id al Khudri RA berkata, “Rasulullah menceritakan kepada kami sebuah cerita panjang tentang Dajjal. Beliau menceritakan Dajal itu kepada kami dengan bersabda, ‘Dajjal itu akan datang dan ia diharamkan masuk pintu Madinah. Lalu, ia singgah di sebagian Kota Madinah yang gersang (dalam satu riwayat: di dekat Madinah).

Pada saat itu keluarlah seorang laki-laki yang merupakan sebaik-baik manusia atau dari golongan manusia yang terbaik. Ia berkata, ‘Saya bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang Rasulullah telah menceritakan kepada kami tentang kamu.’ Lalu Dajjal berkata, ‘Bagaimana pendapatmu, jika aku matikan orang ini kemudian aku hidupkan lagi, apakah kamu masih meragukan terhadap persoalan itu?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’Kemudian ia menghidupkan lalu mematikannya. Ketika menghidupkannya, ia berkata, ‘Demi Allah, saya tidak pernah dapat melihat engkau yang lebih jelas daripada yang aku lihat hari ini.’ Lalu, Dajjal berkata, ‘Saya bunuh dia.’ (Dalam satu riwayat: Lalu Dajjal hendak membunuhnya). Namun, ia tidak diberi kekuasaan terhadapnya.”

 

7. Madinah Itu Dapat Melenyapkan Apa-apa yang Buruk
Zaid bin Tsabit RA berkata, “Ketika Nabi pergi ke Uhud, sebagian orang dari sahabat beliau kembali pulang (dan para sahabat Nabi pada waktu itu terbagi menjadi dua kelompok). Lalu yang satu golongan berkata, ‘Kita bunuh mereka.’ Golongan yang lain berkata, ‘Tidak, jangan bunuh mereka!’

Maka, turunlah ayat 88 Surah An-Nisaa’, ‘Maka, mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran disebabkan usaha mereka sendiri?’ Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Kota Madinah itu adalah (negeri yang bagus), ia mengeluarkan orang-orang (dalam satu riwayat: dosa-dosa, dan dalam riwayat lain: kotoran yakni manusia-manusia kotor), sebagaimana halnya api membersihkan karat besi (dalam satu riwayat: karat perak).”

8. Madinah Memiliki Raudhah (Taman-taman Syurga)
Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Di antara rumahku dengan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku itu ada di atas telagaku.”

Aisyah RA berkata, “Ketika Rasulullah tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal jatuh sakit. (Lalu saya menemui keduanya, saya berkata, ‘Duhai Ayahanda, bagaimana keadaanmu? Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?). Abu Bakar apabila terserang demam ia mengucapkan: ‘Setiap orang berpagi-pagi di kalangan keluarganya. Sedang kematian lebih dekat daripada sepasang sandalnya’

Dan Bilal, apabila demamnya telah hilang, ia menarik suara dengan perkataannya: ‘Ketahuilah, merinding bulu romaku. Apakah nanti malam aku masih bermalam di sebuah lembah sedang di sekitarku ada pohon idzkhir dan pohon jalil? Apakah pada suatu hari aku akan sampai ke perairan Majannah. Apakah akan tampak bagiku (bukit) Syamah dan Thafil?’ Ia berkata, “Ya Allah, laknatilah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka telah mengusir kami dari tanah kami ke tanah waba ‘wabah’.”

Lalu aku datang kepada Rasulullah menginformasikan hal itu. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah seperti cinta kami terhadap Mekkah atau bahkan melebihinya. Ya Allah, berkahilah di dalam (takaran) sha’ kami dan mud kami, sehatkanlah Madinah kepada kami, dan pindahkanlah panasnya ke Juhfah.”

Aisyah berkata, “Kami datang ke Madinah yang waktu itu merupakan bumi Allah yang paling banyak wabahnya.” Ia berkata, “Buth-han waktu itu mengalirkan air.” Ia maksudkan air yang telah berubah warna dan baunya.

Umar bin Khattab RA berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah aku suatu anugerah, yaitu mati syahid di jalan-Mu (yakni dalam membela agama Mu), dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu.”

sdnws.

LEAVE A REPLY