Menggali Mutiara Pancasila dari Pesantren Fauzan, Garut – Jawa Barat.

0
357

Garut, Nawacita.co –  Dalam rangka penggalian kembali nilai-nilai Pancasila, yang mulai tergerus modernisasi, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), yang saat ini dipimpin oleh Prof. Hariyono, mengunjungi Pondok Pesantren Fauzan, yang dipimpin KH. Aceng Abdul Mujib, yang terletak di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Rabu, 27 maret 2019, pada pukul 16.00 WIB.

Tim Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di temui langsung oleh pimpinan Pesantren Fauzan, KH. Aceng Abdul Majid dan beberapa peserta lainnya, Rully (budayawan), Tri Utami (budayawan), Joko (tokoh pemuda), Bayu (dosen), Aat (tokoh masyarakat), Kang Man (tokoh masyarakat), Rahma (dosen), Yudi (tokoh masyarakat), Rizal (tokoh masyarakat), Hamdani (tokoh masyarakat)

KH. Aceng Abdul Majid menjelaskan “Pada dasarnya kita semua adalah pemerhati lingkungan, prinsip yang menjadikan dasar dalam Islam adalah jangan sekali-kali berbuat kerusakan di bumi ini. Allah menciptakan bumi ini dalam keadaan baik, dan selanjutnya saat ini kita menyaksikan kerusakan lingkungan dimana-mana, di lautan dan di daratan karena ulah manusia”.

“maka untuk mengembalikn kebaikan alam dan orisinal alam kita harus menciptakan bagaimana masyarakat ramah dan sayang pada lingkungan. Para ulama selalu menyampaikan kepada para santri dan masyarakat bahwa buang sampah sembarangan itu adalah haram, dimana haram disini adalah dengan artian jika dilakukan berdosa, maka di pesantren di terapkan pada para santri adalah jika ada orang yang ketahuan membuang sampah sembarangan, itu akan dikenakan sanksi atau denda dengan kesepakatan sebelumnya” lanjut sang kyai

“Saya terapkan kepada anak saya dari pagi ke pagi lagi, saya tidak ingin melihat sampah yang berada tidak pada tempatnya, maka dari itu dirumah saya sendiri ada kurang lebih 10 tempat sampah, karena bagaimana kita mau sehat kalau lingkungan kita saja kotor, dan kami di pesantren alhamdulillah sudah menerapkan kebersihan itu sebagian dari iman” tandasnya.

“Islam memprioritas suatu gagasan bagaimana membuat proses penyadaran yang paling utama, dengan kesadaran terhadap lingkungan maka orang akan peduli” tambah Ustad Nurdin.

KH. Aceng Abdul Majid menjelaskan “Terkait pengolahan sampah, di pesantren kami dengan jumlah santri yang banyak sampah masih menjadi masalah. dengan harapan adanya pertemuan bersama BPIP ini kita bisa menghasilkan solusi selain hidup sehat dan bersih, selain itu kita bisa memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang produktif. Bagaimana sampah bisa membuat siklus produktivitas mata rantai ekonomi antara santri dan juga masyarakat. sehingga harapan kami pesantren bisa memberikan manfaat dan contoh kepada masyarakat agar bisa menjadi bukti, bagaimana menerapkan kesadaran hidup bersih dan mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, karena saat ini masyarakat sulit mencotoh apabila belum ada bukti. Di pesantren ini kami juga membuat Puskesdes (Pusat Kesehatan Desa) untuk santri, dan juga untuk warga yang tidak mampu berobat silahkan kesana yang dokter nya karena setiap bulan sudah disiapkan anggaran pesantren untuk bayar jasa dokter dan obat-obatnya” Jelasnya kepada rombongan BPIP.

Menanggapi pernyataan demi pernyataan tersebut, Prof. Hariyono menjelaskan “melalui sila ke 2 Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, hari ini kita saksikan betapa pentingnya peran pesantren dalam membangun budaya bersih – sehat serta ramah terhadap lingkungan. Kyai Aceng Abdul Majid telah menanamkan sejak dini nilai-nilai pancasila melalui program kebersihan dan cinta lingkungan, sehingga para santri memiliki tanggung jawab sekaligus juga menjadi teladan dan contoh bagi masyarakat sekeliling, semua hal tersebut dalam konteks yang lebih luas adalah sebagai wujud cinta tanah air” tandas Penjabat Kepala BPIP saat ini.

Dny

LEAVE A REPLY