Penjelasan Psikolog Tentang Banyaknya Musisi Kondang Bunuh Diri

0
231
Chris Cornell, Vokalis Band Grunge Soundgarden.
Chris Cornell, Vokalis Band Grunge Soundgarden.

JAKARTA, Nawacita – Maraknya kasus bunuh diri di kalangan musisi menimbulkan keprihatinan tersendiri. Sebut saja vokalis Nirvana, Kurt Cobain yang bunuh diri di rumahnya di Seattle pada 5 April 1994. Ada juga Chris Cornell, vokalis band grunge Soundgarden yang ditemukan tewas di kamar hotelnya di Detroit setelah tampil di sebuah konser pada 17 Mei 2017. Selain kedua musisi tersebut, Avicii juga ditemukan tewas di kamar hotelnya di Oman, 20 April 2018.

Hal yang sama juga dilakukan oleh vokalis Linkin Park, Chester Bennington yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kediamannya di Los Angeles County, 20 Juli 2017. Musisi Korea Selatan juga menambah daftar panjang musisi kondang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, yakni member boy band SHINee, Jonghyun yang dikabarkan depresi dan meninggal pada 18 Desember 2017. Terakhir, penyanyi dan penari The Prodigy, Keith Flint ditemukan tewas di rumahnya di Essex, Inggris, Senin (4/3/2019).

Terkait maraknya kasus bunuh diri dikalangan musisi kondang, Psikolog dari Rumah Sakit Royal Progress Jakarta, Nana Gerhana, M.Psi menjelaskan bahwa stres dan depresi masih menjadi penyebab utama seseorang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Mereka yang melakukan bunuh diri, dikatakan Nana umumnya memiliki tekanan-tekanan dalam hidupnya. Seperti halnya para musisi yang dituntut untuk selalu sempurna dan menghasilkan karya hingga persaingan yang ketat antar musisi.

“Penyebab utama bunuh diri adalah stress dan depresi. Bunuh diri adalah langkah seseorang mengakhiri penderitaannya. Pemikiran dan tindakan bunuh diri umumnya ditemui pada orang yang memiliki tekanan-tekanan dalam hidupnya. Seperti yang sering diberitakan profesi musisi dan artis memiliki tekanan yang besar untuk berkarya dan bersaing,” papar Nana saat dihubungi, Selasa (5/3/2019).

“Tuntutan untuk menghasilkan karya terbaik dan bersaing untuk memiliki nilai jual tinggi, membuat musisi berlomba-lomba menjadi yang teratas. Mereka tentu saja harus mengorbankan waktu, pikiran, kesehatan, keluarga, materi, dan lain sebagainya. Kurangnya waktu berkualitas untuk diri sendiri menjadikan mereka rentan mengalami depresi,” tambahnya.

Sementara, penyebab depresi diungkapkan Nana sangat beragam. Namun, pada dasarnya, depresi memiliki akar permasalahan yang berbeda-beda pada satu orang dengan lainnya. Misalnya, Nana mencontohkan, seperti faktor konflik internal dan eksternal dalam diri yaitu kegagalan, keuangan, keluarga, kesehatan hingga ketergantungan narkoba. Sedangkan, popularitas sebagai artis seringkali menjadi masalah. Dikatakan Nana, hal ini seperti dua sisi mata uang, selain hal positif ada juga hal negatif yang umumnya dirasakan para artis.

“Seperti tidak lagi memiliki kebebasan sehingga takut atau bahkan menjadi paranoid karena terus menjadi sorotan sampai hal yang bersifat pribadi, terus menerus berperilaku sesuai tuntutan dan merasa terkekang hak asasinya. Sebelum bunuh diri umumnya klien menunjukkan perasaan sedih, sering melamun (kosong atau hampa), putus asa,” ujar dia.

Fenomena maraknya musisi kondang bunuh diri juga didukung dengan data dari departemen kesehatan America Serikat, Center for Disease Control tahun 2018 yang menunjukkan pekerja dibidang seni menduduki peringkat ke-2 sebagai profesi yang rentan kasus bunuh diri di Amerika. Di Indonesia , menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1.000 kasus pertahun dan terus bertambah setiap tahunnya.

“Di Indonesia sendiri faktor ekonomi menjadi penyebab utama bunuh diri dan musisi belum menempati posisi teratas,” kata dia.

sdnws.

LEAVE A REPLY