4 Destinasi Baru Diprioritaskan, Karena RI Masuk 6 Besar Negara Terindah Dunia

0
219
Indonesia Negara Terindah ke-6.
Indonesia Negara Terindah ke-6.

JAKARTA, Nawacita Belum lama ini, Indonesia masuk dalam enam besar negara terindah di dunia. Ini menjadikan pariwisata di Tanah Air mulai dikenal di mata dunia.

Presiden Joko Widodo menyebut, sektor pariwisata berpeluang untuk menjadi penyumbang devisa terbesar bahkan melebihi sektor-sektor lain yang selama ini menjadi unggulan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pariwisata Indonesia hanya perlu digarap agar bisa memberikan devisa yang besar. “Peluang pariwisata sangat besar sekali, kita masuk 6 besar negara terindah di dunia kemudian kita juga masuk 10 besar negara yang wajib dikunjungi,” kata Presiden Jokowi, dalam acara Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Puri Agung Convention Hall Jakarta, Senin 11 Februari 2019.

Menurut Presiden, penghargaan-penghargaan itu, menjadi brand dan modal tersendiri bagi pariwisata Indonesia. Ini brand yang tinggal digarap agar pariwisata bisa memberikan devisa paling banyak, meskipun devisa pariwisata sudah mencapai 17 miliar dolar AS sudah mengalahkan kelapa sawit, mengalahkan CPO. Sekarang sudah paling tinggi.

Presiden pernah menyampaikan kepada Menteri Pariwisata (Menpar) secara khusus terkait besaran anggaran untuk promosi pariwisata.

“Saya pernah menyampaikan ke Menpar sebenarnya butuhnya berapa sih untuk promosi. Pak Menpar minta Rp7 triliun dari sebelumnya Rp1 triliun. Enggak apa-apa sebenarnya tapi pertanyaannya produknya sudah siap belum, saya lihat destinasinya belum siap,” kata Presiden.

Oleh karena itu, dia memerintahkan Menteri PUPR untuk konsentrasi menggarap empat destinasi pariwisata prioritas dari 10 Bali Baru yang sedang dikembangkan dari sisi infrastruktur.

Sebanyak empat destinasi pariwisata prioritas yang dikonsentrasikan untuk dibangun infrastruktur pendukungnya lebih dulu yakni Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, dan Borobudur.

Presiden menegaskan, infrastruktur dibangun besar-besaran tahun ini karena juga terkait dengan pengembangan pariwisata termasuk ketersediaan pasokan listrik.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Jokowi meminta kepada Pemerintah Daerah untuk merespons pembangunan infrastruktur khususnya jalan tol dengan kebijakan terkait pariwisata. Dia mencontohkan tol trans-Jawa yang sudah tersambung diharapkan aksesnya untuk diintegrasikan dengan kawasan-kawasan wisata daerah.

“Kita harapkan tolong tol ini disambungkan dengan kawasan-kawasan wisata yang ada di daerah Bapak Ibu sekalian,” kata Jokowi.

Jika tidak sanggup, Presiden menegaskan agar Pemda segera melaporkan kepada Kementerian PUPR agar dibangun dan diambil alih oleh pemerintah pusat. “Tapi jangan semuanya dibangun pemerintah pusat,” katanya.

Intinya Presiden ingin agar akses tersebut disambungkan dengan kawasan wisata yang ada, sehingga keberadaan tol betul-betul mampu menggerakkan ekonomi khususnya melalui sektor pariwisata.

Pada kesempatan yang sama Presiden mengapresiasi kinerja sektor pariwisata Indonesia yang tumbuh tiga kali lipat dari pertumbuhan ekonomi dunia atau mencapai 22 persen.

Oleh karena itu, dia meminta kepada para pelaku industri untuk memberikan saran dan masukan melalui Menpar Arief Yahya terkait kebutuhan infrastruktur pendukung agar semakin tepat sasaran.

Presiden mencontohkan pembangunan Bandara Silangit, Medan, Sumatera Utara, yang mampu menggerakkan perekonomian setempat. Dia sempat meminta maskapai Garuda untuk menguji coba rute penerbangan melalui Silangit yang awalnya diragukan rendah “lead factor”-nya.

“Setelah terbang, tidak sampai sebulan laporan ke saya ternyata penuh terus, sekarang ada lima flight ke Silangit. Hal-hal tersebut harus diinisiasi untuk mengetahui seperti apa kebutuhan pasar,” ujar Presiden.

ins.

LEAVE A REPLY