BI Pantau Perang Dagang AS-China hingga Kebijakan The Fed

0
530
Bank Indonesia
Bank Indonesia

Nawacita – Bank Indonesia (BI) terus memantau perkembangan ekonomi global. Beberapa peristiwa dan kebijakan menjadi bahan pertimbangan bank sentral dalam menyusun kebijakan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, kondisi likuiditas global yang mengetat dan ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi. Hal ini dipicu oleh rencana kenaikan FFR yang lebih agresif pasca FOMC Juni 2018 dan volatilitas imbal hasil surat utang AS yang masih tinggi.

“Ketidakpastian global yang masih tinggi juga dipengaruhi kebijakan bank sentral Uni Eropa (ECB) yang menurunkan net pembelian aset, kebijakan bank sentral Tiongkok (PBoC) yang menurunkan GWM, harga minyak yang naik, serta ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok yang kembali meningkat,” kata dia di Gedung BI, Jumat (29/6/2018).

Menurutnya, ketidakpastian kondisi global menjadi pemicu menguatnya mata uang dolar. Tak hanya ke Indonesia saja, penguatan dolar juga terjadi di banyak negara terutama negara berkembang.

“Ketidakpastian memicu pembalikan modal dari negara berkembang sehingga memperlemah mata uang banyak negara, termasuk Rupiah. Kondisi demikian memerlukan respons kebijakan yang tepat untuk memelihara imbal hasil pasar keuangan di negara berkembang agar tetap menarik bagi investor,” ucap Perry.

Kendati demikian, Perry mengakui kenaikan pertumbuhan ekonomi global masih berlanjut di tengah kondisi likuiditas global yang mengetat dan ketidakpastian pasar keuangan. Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan tetap mencapai 3,9%, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,8%, didorong berlanjutnya akselerasi ekonomi AS, masih kuatnya pertumbuhan ekonomi Eropa serta tetap tingginya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

“Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik meningkatkan volume perdagangan dunia, yang kemudian berdampak pada harga komoditas yang tetap kuat,” tukas dia.

oke

 

 

LEAVE A REPLY