Tito Karnavian: Jadi Kapolri Bikin Pusing

0
482
Kapolri Jenderal Tito Karnavian
Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Jakarta, NawacitaKapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku menjadi seorang kepala Kepolisian Republik Indonesia adalah pekerjaan yang kompleks dan bikin pusing.

Hal itu dikatakan Tito dalam sambutannya di launching Buku Democratic Policing karyanya dengan koleganya Prof. Hermawan Sulistyo di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (21/11/2017).

Dia menjelaskan Polri adalah lembaga kepolisian nomor dua terbesar di dunia. Jika dibandingkan dengan China yang kepolisiannya nomor satu, memiliki sistem lebih bagus dan bisa dikendalikan.

“Sistem mereka satu partai, sistem sosialis, yang bisa menggunakan iron hand, first hand,” ujar Tito.

Tito kemudian membandingkan lagi dengan Singapura. Dia menyebut kapolri Singapura bisa dengan santai’ ketika pagi buta saat hendak ke kantor dibanding dirinya yang langsung dihadapkan dengan sejumlah laporan.

“Jadi kalau saya bandingkan kerjaan saya dengan teman saya kepala polisi Singapura, ya kepala komisioner Singapura bisa sambil mantuk-mantuk datang ke kantor,” ujar Tito

“Kita begitu datang, begitu bangun tidur langsung sudah ratusan laporan dari seluruh Polda-polda polres-polres masalah kebakaran ini, masalah polres diserang ini, masalah penyanderaan, dan banyak sekali. Belum lagi komplain-komplain pribadi, banyak sekali,” tandas Tito.

Tito mengaku menjadi seorang Kapolri adalah salah satu pekerjaan terberatnya. Mustahil dirinya bekerja sendiri memimpin. Dia punya cara agar mengubah ‘mindset’ para anggota yakni dengan instrumen.

“Mustahil seorang Kapolri akan mampu merubah polisi yang jumlahnya 440 ribu personel, 33 polda, 491 polres, hampir 5.000 Polsek. 440 ribu manusia lebih besar dari satu negara Brunei, oleh karena itu perlu ada instrumen yang membuat agar pikiran dan atas sampai ke bawah itu sama tentang polisi di negara demokrasi,” beber Tito.

“Kita perlu membuat instrumen yang bisa menjadi ‘payung’ dan setelah itu buku dicetak, disebarluaskan, dan itu setelah itu disampaikan kepada para pemikir, para Kapolda, masing-masing menerjemahkan lagi ke bawah. kita harapkan pemikiran para pusbakpol anggota ini tentang bagaimana menempatkan diri dan sekaligus merubah kultur menjadi polisi di negara yang pemilihnya adalah rakyat, ini harus sama dari atas ke bawah. Nah itulah saya kira pentingnya buku ini dibuat oleh kami,” papar Tito.

inlh

LEAVE A REPLY