Kontras di Sektor Pangan: Peternak Merugi, Nelayan dan Perikanan Tangkap Menguat

Kontras di Sektor Pangan: Peternak Merugi, Nelayan dan Perikanan Tangkap Menguat

SURABAYA, Nawacita – Kinerja peternak di Jawa Timur melemah pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) turun 1,83 persen akibat merosotnya harga sejumlah komoditas ternak, sementara biaya yang harus ditanggung petani justru meningkat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menjelaskan penurunan NTPT terjadi karena Indeks yang Diterima Petani (It) turun 1,57 persen, sedangkan Indeks yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,27 persen.

“Penurunan harga paling besar terjadi pada kelompok ternak kecil seperti kambing, domba, dan babi, disusul unggas, hasil ternak berupa telur, hingga ternak besar seperti sapi potong,” ujar Herum, Jumat (3/7/2026).

Di sisi lain, biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga peternak terus meningkat. Kenaikan Ib dipicu naiknya Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,34 persen serta Indeks Konsumsi Rumah Tangga (KRT) sebesar 0,15 persen.

Baca Juga: Anak Nelayan Terdampak Bencana Sumatra dapat Bantuan Pendidikan

Berbeda dengan sektor peternakan, subsektor perikanan justru menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani Perikanan (NTPPi) naik 0,22 persen karena kenaikan harga hasil tangkapan lebih tinggi dibandingkan peningkatan biaya yang dikeluarkan.

“Peningkatan tersebut terutama ditopang sektor perikanan tangkap yang naik 1,10 persen, meski perikanan budidaya mengalami penurunan 0,45 persen,” ungkap Herum.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Nelayan (NTN) meningkat 0,98 persen. Kenaikan ini didorong membaiknya harga ikan hasil tangkapan laut, seperti ikan layang, teri, dan kembung, serta hasil tangkapan perairan umum seperti kepiting air tawar, udang, dan belut.

Sementara itu, Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) turun 0,44 persen. Penurunan dipengaruhi melemahnya harga komoditas budidaya air payau, terutama rumput laut dan kerapu, meski budidaya laut dan air tawar masih mencatat pertumbuhan.

“Data tersebut menunjukkan kondisi sektor primer di Jawa Timur masih bergerak beragam. Saat peternak menghadapi tekanan akibat turunnya harga komoditas dan naiknya biaya produksi, nelayan justru menikmati perbaikan daya tukar berkat meningkatnya nilai hasil tangkapan,” tutup Herum.

(Alus)

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru