Kurs Rupiah Tertekan, Beban Industri dan Harga Pangan Mengintai
Surabaya, Nawacita.co – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan menekan sektor industri. Hal itu disampaikan Koordinator Program Studi S1 Ilmu Ekonomi FEB Universitas Airlangga, Ilmiawan Auwalin, Jumat (29/5/2026).
Menurut Ilmiawan, dampak pelemahan rupiah paling terasa pada produk impor seperti kedelai, bawang putih, dan bahan bakar. Kenaikan harga bahan baku impor tersebut otomatis akan meningkatkan biaya produksi pelaku usaha.
“Produsen tidak mungkin menanggung seluruh kenaikan biaya. Akhirnya akan ditransfer ke harga jual produk dan berdampak ke masyarakat sebagai konsumen,” ujarnya.
Ia mencontohkan, kenaikan harga kedelai akan berdampak langsung pada produsen tahu dan tempe. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan, tetapi juga hingga pedesaan karena produk tersebut menjadi kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, Ilmiawan menilai dampak terhadap inflasi tidak sepenuhnya besar karena ada beberapa komoditas lain yang justru mengalami penurunan harga, seperti telur.
Baca Juga: Kedokteran UNAIR Masih Jadi Jurusan Paling Bergengsi di UTBK 2026
Selain sektor pangan, pelemahan rupiah juga dinilai memberi tekanan pada industri di Jawa Timur yang masih bergantung pada bahan baku dan peralatan impor. Kenaikan biaya impor berpotensi meningkatkan ongkos produksi dan menekan kinerja industri apabila tidak diimbangi peningkatan penjualan.
“Kalau biaya produksi naik tetapi penjualan tidak ikut naik, tentu akan berdampak negatif bagi industri,” katanya.
Karena itu, pemerintah diminta menyiapkan kebijakan khusus untuk menjaga stabilitas industri nasional. Salah satu langkah yang bisa dipertimbangkan yakni subsidi atau insentif bagi sektor industri, meski kebijakan tersebut tetap harus menyesuaikan kemampuan fiskal negara.
Sementara untuk sektor bahan bakar minyak (BBM), Ilmiawan menyebut pemerintah masih memiliki ruang untuk menahan kenaikan harga karena BBM termasuk kategori administered price atau harga yang diatur pemerintah.
“Kalau BBM naik, dampaknya langsung terasa ke masyarakat luas. Karena itu pemerintah biasanya berupaya menahan kenaikan harga,” pungkasnya.
Reporter: Alus

