Kenapa Kelelawar Kerap Dikaitkan dengan Penyakit? Ini Penjelasannya
Jakarta, Nawacita | Kelelawar kerap dikaitkan dengan wabah penyakit akibat virus, salah satunya kasus pandemi COVID-19. Namun, kenapa kelelawar sering dikaitkan dengan pembawa virus dan penyakit?
Di alam liar, keberadaan kelelawar sebenarnya bermanfaat penting bagi rantai makanan dan ekosistem. Kelelawar memakan serangga sehingga bisa menjadi pengendali hama alami, serta membantu penyerbukan pohon dan tanaman.
Saat ini, kelelawar merupakan kelompok hewan yang cukup besar dengan spesies paling banyak dan beragam di dunia. Kawanan ini berada di peringkat kedua sebagai mamalia dengan jumlah terbanyak sekitar 20 persen atau sekitar 1.400 spesies dari total spesies mamalia.
Itulah mengapa sangat memungkinkan jika kelelawar menebar beragam jenis sumber penyakit yang rumit dan bervariasi.
Kelelawar Bisa Hidup Berdampingan dengan Virus
Anggota Emerging Pathogens Institute di University of Florida, Jim Wellehan, DVM menjelaskan kelelawar termasuk hewan istimewa karena mampu hidup berdampingan dengan virus. Mereka memiliki cara terbang yang unik dan kemampuan beradaptasi dengan jenis patogen baru.
“Orang selalu mencari alasan mengapa kelelawar itu ajaib, dan kenyataannya adalah kelelawar hanya terpapar banyak hal dan memilih gen-gen tersebut sesuai dengan paparan tersebut,” kata Wellehan, dikutip dari news.ufl.edu pada Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: Mahasiswa Kedokteran Hewan Unair Dikirim ke Sejumlah Wilayah Jatim, Ada Apa?
Spesies kelelawar sendiri telah hidup selama lebih dari 50 juta tahun dan mengalami evolusi. Selama periode panjang itu, kelelawar telah menyebar patogen yang menimbulkan virus ebola, virus hendra, virus nipah, dan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.
Kemampuan terbang kelelawar yang cukup menakjubkan bisa membantu mereka terhindar dari predator dan mencari sumber makanan baru dengan beradaptasi di tempat yang baru. Itulah mengapa kelelawar dapat lolos dari periode evolusi yang begitu panjang.
Kelelawar juga mampu terbang untuk menempuh jarak jauh dan melewati banyak hambatan geografis. Mamalia ini juga dikenal sebagai hewan sosial yang kerap hidup berdampingan dan saling merawat satu sama lain. Hal inilah yang memicu penularan patogen di antara sesamanya.
Lolos Seleksi Alam karena Keragaman Genetik
Selama mempelajari teori evolusi, Wellehan menyimpulkan bahwa yang mampu bertahan hidup adalah yang paling kuat, cepat dan cerdas. Namun, saat ia mengamati manusia ternyata asumsinya itu tidaklah benar, justru yang banyak lolos dari proses evolusi adalah mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang baik.
“Hal terpenting adalah memiliki cukup keragaman genetik dalam populasi Anda sehingga seseorang memiliki gen kekebalan yang efektif melawan patogen berikutnya yang bahkan belum ada. Dengan peningkatan pencampuran dan tingkat kontak mereka, kelelawar telah melakukan ini lebih sering daripada kebanyakan hewan,” jelasnya.
Baca Juga: Vatikan Izinkan Umat Katolik Terima Donor Organ dari Hewan, Ini Syaratnya
Biasanya, patogen akan membuat infeksi inang barunya yang mana belum memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk bertahan. Namun, seiring berjalannya waktu patogen dengan inangnya terpaksa untuk beradaptasi dengan berevolusi. Jumlah spesies yang banyak inilah menjadikan kelelawar membawa banyak virus terkait mamalia.
Kendati demikian, kelelawar bukan hewan yang kebal dengan patogen, hanya saja ia mampu berevolusi dengan cepat melalui penyakit menular. Ilmu kedokteran menyebut penularan patogen itu sebagai bagian yang dinamis.
Kelelawar Bisa Terkena Penyakit
Kelelawar juga dapat terkena penyakit lyssavirus atau rabies, dan sindrom hidung putih. Sindrom yang dimaksud adalah infeksi jamur pada hidung kelelawar saat ia sedang berhibernasi.
Habitat kelelawar yang terganggu justru memiliki peran besar terhadap penyebaran patogen pada populasi mereka. Pada akhirnya akan berdampak buruk juga terhadap manusia karena efek domino yang disebabkan.
“Ketika populasi mengalami tekanan, saat itulah keseimbangan ekologis bergeser, dan penularan zoonosis terjadi. Ternyata, jika kita menganggap diri kita sebagai sesuatu yang terpisah dari alam, hal itu tidak berjalan dengan baik,” tutur Wellehan.
Jadi, meski kelelawar kerap dikaitkan dengan nuansa seram Halloween atau rumah hantu, ia memiliki kekuatan berupa imunitas tubuhnya dan kemampuan evolusi yang baik. Jutaan tahun, mereka mampu hidup berdampingan dengan virus-virus baru dan terus berevolusi. dtk

