Friday, May 1, 2026

Cuaca Ekstrem Hantam Sekolah, Kepala Dindik Jatim Langsung Turun Lapangan

Malang, Nawacita — Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur mulai berdampak langsung pada sektor pendidikan. Dalam sepekan terakhir, dua insiden serius terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari atap ruang kelas ambruk hingga ancaman longsor yang membayangi area belajar siswa.

Peristiwa paling mencolok terjadi di SMKN 1 Ampelgading, Kabupaten Malang. Tiga ruang kelas dilaporkan ambruk akibat hujan deras disertai angin kencang pada Sabtu (28/3) sekitar pukul 23.15 WIB. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena peristiwa terjadi di luar jam kegiatan belajar.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, yang turun langsung meninjau lokasi pada Senin (30/3), menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meski dalam keterbatasan.

“KBM tetap berjalan dengan memanfaatkan ruang laboratorium dan aula. Kami juga sedang menginventarisasi kebutuhan perbaikan,” ujarnya.

Data sementara menunjukkan tiga kelas terdampak mengalami kerusakan berat, yakni XI APHP 1, XI APHP 2, dan XI APHP 3. Seluruh bagian atap dilaporkan runtuh, disertai kerusakan pada fasilitas belajar seperti meja dan kursi.

Aries menegaskan, perbaikan akan dipercepat sesuai arahan Gubernur Jawa Timur, dengan target renovasi rampung dalam waktu satu bulan. Proses pembersihan material saat ini juga melibatkan tim BPBD dan gotong royong masyarakat sekitar.

Menurutnya, kejadian dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Desa Tirtomarto, Kecamatan Ampelgading, dalam beberapa hari terakhir. Bahkan sebelum ambruk, genteng dilaporkan mulai berjatuhan satu per satu hingga akhirnya rangka atap berbahan galvalum runtuh total.

Pasca kejadian, pihak sekolah langsung melakukan langkah mitigasi dengan mensterilkan lokasi, memutus aliran listrik di area terdampak, serta berkoordinasi dengan aparat gabungan untuk mengantisipasi risiko lanjutan.

Sekolah Ambruk
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai di Malang.

Namun, insiden di Malang bukan satu-satunya. Ancaman serupa juga muncul di SMAN 1 Sumber, Kabupaten Probolinggo, di mana tanah longsor terjadi pada Jumat (27/3) sore.

Longsor terjadi di area lereng setinggi sekitar 8 meter dengan panjang terdampak mencapai 10–14 meter. Retakan tanah sebelumnya telah terdeteksi sebagai tanda awal, sebelum akhirnya terjadi pergerakan tanah yang berpotensi mengancam bangunan sekolah dan area sekitar, termasuk tembok SMP Negeri 1 Sumber.

“Tanah bergerak perlahan hingga akhirnya longsor. Area ini masih berpotensi mengalami pergerakan lanjutan,” jelas Aries.

Sebagai langkah darurat, pihak sekolah bersama instansi terkait telah memasang sandbag dan terpal untuk menahan resapan air serta mencegah longsor susulan. Hingga kini, kawasan tersebut masih dalam pemantauan intensif.

Rangkaian kejadian ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk mempercepat audit kelayakan infrastruktur sekolah, khususnya di daerah rawan bencana. Tanpa langkah antisipatif yang sistematis, keselamatan siswa dan tenaga pendidik berpotensi terancam setiap kali cuaca ekstrem melanda. bdo

- Advertisement -
Riko Abdiono
Riko Abdionohttp://rikolennon24.blogspot.com
Penulis adalah Jurnalis sejak 2004 di Harian Surabaya Pagi
RELATED ARTICLES

Terbaru