Wednesday, March 11, 2026

Rumah Sakit Cenderung Sepi saat Bulan Ramadan, Ini Penjelasan Dokter

Rumah Sakit Cenderung Sepi saat Bulan Ramadan, Ini Penjelasan Dokter

Jakarta, Nawacita | Ada pemandangan yang cukup berbeda di koridor rumah sakit maupun klinik selama bulan Ramadan. Tingkat keterisian tempat tidur atau okupansi pasien rawat inap biasanya cenderung menurun jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Konsultan Gastrointestinal dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengonfirmasi fenomena ini. Menurutnya, ada dua faktor utama yang menyebabkan jumlah pasien di rumah sakit tidak seramai biasanya selama bulan puasa.

Faktor pertama berkaitan dengan aspek psikologis dan keinginan pasien untuk menjalani ibadah di lingkungan rumah. Banyak pasien yang sebenarnya memiliki indikasi medis untuk dirawat, namun memilih untuk menunda prosedur tersebut jika kondisinya dirasa masih bisa dikelola secara mandiri.

- Advertisement -

Baca Juga: Es Teh jadi Andalan saat Buka Puasa, Amankah untuk Pencernaan?

“Sebenarnya memang betul ya, jadi selama berpuasa ini ada dua hal yang cenderung membuat perawatan RS tidak seramai kalau pasien tidak berpuasa. Terutama pada sebagian pasien dengan sakit tidak berat atau kategori ringan-sedang. Ada indikasi rawat, tapi karena tidak mau dirawat (saat Ramadan), jadi di rumah saja,” jelas Prof Ari, Rabu (11/3/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa pilihan ini hanya berlaku bagi penyakit ringan. Jika kondisi penyakitnya masuk kategori lebih berat, maka prosedur rawat inap tetap wajib dilakukan.

Masyarakat Justru Lebih Sehat saat Berpuasa

Faktor kedua yang menarik adalah perubahan pola hidup yang membuat kondisi tubuh masyarakat justru menjadi lebih stabil selama Ramadan. Prof. Ari menyebutkan bahwa banyak penyakit yang kambuh karena pola makan dan minum yang tidak terkontrol di luar bulan puasa.

Baca Juga: 4 Minuman yang harus Dihindari agar Puasa Tidak Cepat Haus

“Secara umum, pasien datang ke RS itu karena masalah makanan dan minuman. Selama puasa, makanan atau minuman yang biasanya (berlebihan) dikonsumsi jadi tidak dikonsumsi, sehingga kemungkinan kekambuhan penyakit itu menurun,” tambahnya.

Bagi pasien maag, pola makan yang menjadi lebih teratur saat sahur dan berbuka, serta berkurangnya kebiasaan mengonsumsi camilan tidak sehat, membuat risiko kekambuhan menurun drastis. Hal yang sama berlaku bagi pemilik kadar gula darah tinggi.

“Pada orang-orang sakit maag, dengan dia makan teratur saat puasa, mengurangi camilan tidak sehat, dan menjaga diri dengan baik, maka tingkat kambuhnya menurun. Sama dengan orang dengan kadar gula yang tinggi, selama berpuasa kadar gula darahnya cenderung terkontrol,” ungkapnya. dtk

RELATED ARTICLES
bank jatim
- Advertisment -

Terbaru