Sulit Tidur di Malam Hari? Waspada Dampaknya bagi Kesehatan Mental
JAKARTA, Nawacita — Banyak dari kita yang sering kali menganggap remeh momen ketika harus berguling-guling di tempat tidur atau terbangun berkali-kali di tengah malam. Padahal, kualitas tidur bukan sekadar perkara melepas lelah setelah seharian beraktivitas, melainkan salah satu pilar fundamental yang menyokong kesehatan fisik sekaligus mental manusia.
Tidur yang terganggu sebenarnya bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan mental yang lebih dalam, seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Hubungan antara tidur dan kesehatan mental bersifat dua arah; kualitas tidur yang buruk dapat memperparah kondisi mental seseorang, sementara gangguan psikologis itu sendiri sering kali menjadi dalang utama di balik rusaknya siklus istirahat kita.

Psikiater intervensi dari Yatharth Hospitals dan direktur Psymate Healthcare, dr Samant Darshi, mengatakan masalah tidur sering kali memiliki kaitan erat dengan gejala klinis tertentu. Menurutnya, jenis gangguan tidur yang dialami seseorang bisa menunjukkan spektrum masalah mental yang berbeda.
“Meski penderita masalah depresi dapat dengan mudah mengalami insomnia terminal, di mana mereka kesulitan tidur karena biasanya terbangun di tengah malam dan tidak mampu tidur kembali, orang dengan gangguan kecemasan justru kesulitan untuk mulai memejamkan mata karena kekhawatiran mereka, sehingga mengalami insomnia awal,” ujar dr Darshi dikutip dari laman Hindustan Times pada Jumat (26/12/2025).
Hal ini mempertegas bahwa pola tidur kita sebenarnya adalah “peta” yang menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam pikiran. Lebih lanjut, dia menyoroti bagaimana depresi memengaruhi siklus tidur manusia secara berbeda, tergantung pada fase yang sedang dialami oleh pasien tersebut. Perubahan kimiawi di otak pada saat depresi dapat mengubah ritme sirkadian tubuh secara drastis.
“Siklus tidur juga dapat bervariasi berdasarkan setiap jenis tahap depresi. Pada pasien dengan tahap depresi unipolar, tingkat tidur biasanya rendah yang membuat mereka merasa lelah. Sebaliknya, pada tahap depresi bipolar, pasien dapat mengalami masalah hipersomnia atau tidur berlebihan,” ujarnya.
Baca Juga: Masalah Kesehatan Mental Gen-Z di Era VUCA, Bagaimana Menghadapinya?
Perbedaan mencolok ini menjadi sinyal penting bagi para ahli medis untuk mendiagnosis kondisi kejiwaan seseorang dengan lebih presisi melalui observasi kebiasaan tidur mereka. Dampak dari pengabaian terhadap kualitas tidur ini tidak bisa disepelekan karena dapat mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari secara signifikan.
Ketika seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup atau berkualitas, fungsi kognitif otak adalah hal pertama yang akan mengalami penurunan. Hal ini sering kali dibarengi dengan munculnya rasa mudah tersinggung, penurunan energi yang drastis, hingga kesulitan besar untuk berkonsentrasi dalam aktivitas sederhana sekalipun.
Oleh karena itu, gangguan tidur sekecil apa pun, mulai dari sekadar rasa gelisah di atas kasur hingga ketidakmampuan untuk terlelap, sebaiknya tidak diabaikan. Mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh tubuh melalui pola tidur adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga keseimbangan kesehatan mental jangka panjang. rpblk

