Bahas Masa Depan Akuntansi di Era AI, Etika, dan Keberlanjutan di KRA XII UNAIR
Surabaya, Nawacita– Dalam sebuah forum Konferensi Internasional KRA XII Tahun 2025 dengan tema acara “Empowering the Future of Education and Research: The Nexus of AI, Ethics, and Sustainability”.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) mengumpulkan guru-guru SMA dan SMK se Jawa Timur hingga beberpa Perguruan tinggi dari dalam Negeri dan luar Negeri pada Senin (2/6/2025).

Sekaligus diresmikan Oleh Inspektur Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia & Anggota DPN IAI, Rektor Universitas Airlangga (UNAIR), Mohammad Nasih, dan Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) sekaligus Dekan FEB UNAIR, Dian Agustia.
Rektor Universitas Airlangga, Mohammad Nasih, menyampaikan pandangan mendalam mengenai bagaimana profesi ini harus bertransformasi menghadapi era baru. mengangkat isu Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah membawa dampak signifikan pada hampir semua bidang kehidupan, tak terkecuali dunia akuntansi.

“Akuntansi bukan sekadar pencatatan keuangan. Ia adalah bagian dari sistem produksi, bagian dari layanan strategis yang berperan sebagai decision support system pendukung keputusan yang taktis dan strategis,” ujarnya.
Selain itu, Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) Dian Agustia, mengungkapkan ada banyak yang menganggap akuntansi hanya sebatas penyaji laporan keuangan. “Namun, dalam pandangan sang akademisi, paradigma ini harus berubah,” ucapnya.
“Mahasiswa akuntansi harus diarahkan untuk tidak hanya menyusun informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan memberi arah. Karena kita tengah berpacu dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat.” tambah wanita yang sekaligus menjabat sebagai Dekan FEB Universitas Airlangga.
Baca Juga: Profesor FEB UNAIR Dikukuhkan, Misi Wujudkan Kesejahteraan Lebih Bermakna
Forum ini menjadi momentum refleksi penting bagi para akademisi dan praktisi akuntansi.
“AI memang tidak bisa dihindari, namun manusia tetap memegang kendali arah.” tutur Dian.
Ia menambahkan Etika dan keberlanjutan menjadi kompas moral yang membedakan peran akuntan dari sekadar mesin penghitung. “Ini bukan hanya soal keilmuan, tetapi soal dampak. Bagaimana pendidikan dan riset kita berdampak pada dunia nyata, itulah yang menentukan masa depan profesi akuntansi.”
Dian menutup dengan semangat kolaborasi dan inovasi, dunia akuntansi Indonesia tengah bersiap menatap masa depan—yang bukan hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat dalam integritas dan tangguh dalam menjaga keberlanjutan. (Alus)


