LaNyalla Apresiasi PP Ar-Rohman Berdayakan Masyarakat di Masa Pandemi

0
94

MAGETAN, Nawacita – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengapresiasi upaya Pondok Pesantren Ar Rohman Putra, Magetan, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar pondok selama pandemi Covid-19.

Menurut LaNyalla, penanganan dampak pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia selama satu setengah tahun, harus mendapat dukungan dari semua pihak.

“Apalagi efeknya cukup dalam. Tidak hanya dari sektor kesehatan saja tetapi juga dari sisi ekonomi,” tutur LaNyalla saat reses di Jawa Timur.

Ia mengungkapkan, Pondok pesantren yang terletak di Tegal Rejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, telah memberdayakan masyarakat sekitar pondok untuk mengembangkan beberapa produk dari sumber daya alam Magetan.

Salah satu yang diproduksi adalah black garlic yang banyak dicari konsumen karena dinilai bisa menangkal atau mengobati virus Covid-19.

“Setelah saya melihat suasana pondok di saat pandemi ini, saya sangat mengapresiasi upaya pondok pesantren Ar Rohman dalam menangani dampak pandemi di lingkungan pondok, termasuk dengan memberdayakan masyarakat sekitar,” ujar LaNyalla saat berkunjung ke PP Ar-Rohman untuk menyerap aspirasi masyarakat di Magetan, Kamis (29/7/2021).

LaNyalla menyatakan siap membantu pengembangan black garlic agar bisa dikerjasamakan dengan Kadin Magetan.

“Ini sangat bagus dan nanti bisa dikembangkan melalui kerja sama dengan Kadin Magetan guna mendukung program ekonomi kerakyatan,” katanya.

Selain itu, pondok tersebut juga telah mendirikan rumah isolasi mandiri untuk mengantisipasi santri yang terpapar Covid-19. Hal ini dilakukan melihat tingginya angka Bed Occupancy Rate (BOR) di hampir seluruh rumah sakit sehingga banyak pasien yang akhirnya ditolak.

Pada kesempatan tersebut, Pengasuh PP Ar-Rohman KH. Muhammad Ridho L.C, menjelaskan bahwa apa yang telah dilakukan adalah untuk menghadapi dampak yang ditimbulkan Covid-19.

“Karena rumah sakit banyak yang penuh, ya kami mendirikan rumah isolasi agar kalau ada santri yang terpapar bisa dirawat di sini,” ujar KH Muhammad Ridho.

Terkait produksi black garlic, menurutnya PP Ar Rohman telah memproduksi sebelum Covid-19 masuk Indonesia. Tetapi di masa pandemi permintaan terus meningkat karena banyak permintaan dari luar. Sehingga omzet terus mengalami kenaikan.

“Alhamdulillah, sebelum Covid-19 kami bisa Istiqomah memproduksi 2 kali. Di masa Covid-19 ini produksi kami terus naik,” ujar Muhammad Ridho.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk bahan baku, ia menggunakan bawang Lanang lokal yang ia peroleh dari petani disekitar pondok dan dari petani Sarangan. Harga bahan baku mencapai Rp 120 ribu per kg. Dalam sekali produksi, ia membutuhkan bahan baku bawang Lanang sebanyak 10 kilogram.

Sedangkan untuk biaya pengemasan per 10 kg mencapai Rp 800 ribu, sehingga total biaya yang dibutukan dalam sekali produksi mencapai Rp 2 juta. Dari 10 kg bawang putih tersebut akan dikemas menjadi 100 pack yang dijual seharga Rp 50 ribu per pack.

“Dengan biaya produksi Rp 2 juta, omzet bisa mencapai Rp 5 juta,” tandasnya.

Hanya saja, ia mengeluh lamanya proses pengurusan perijinan di BPPOM. Ia mengaku hingga saat ini pihaknya masih menunggu proses selanjutnya.

“Sebenarnya pada tahapan verifikasi lapangan kita lolos, nunggu tahap selanjutnya. Tetapi karena produk kami ini jenis herbal, maka BPPOM tidak bisa mengeluarkan PIRT,” akunya.

Selain sulitnya mengurus perijinan, ia juga berharap mampu meningkatkan sarana produksi karena sejauh ini proses produksi masih tradisional.

“Yang ingin kami kembangkan adalah peralatan atau sarana produksi. Karena kami masih membutuhkan sejumlah peralatan untuk bisa memacu produksi di saat banyak permintaan,” jelasnya. Alma

LEAVE A REPLY