Kesejahteraan 600 Ribu Petani Tembakau Lokal ada di tangan Industri Rokok

0
463
Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian RI, Hendratmojo Bagus Hudoro. Foto : Alma/nawacita

Jakarta, Nawacita – Tembakau masih menjadi salah satu sumber mata pencaharian sebagian masyarakat di Indonesia. Ini terbukti, data hingga akhir tahun 2020 mencatat ada sebanyak 595.497  atau hampir 600 ribu petani yang hidup dari hasil menanam tembakau.

 

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah dibawah naungan Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro mengungkapkan hal tersebut saat wawancara ekslusif dengan jurnalis nawacita.co di kantornya pekan lalu, Kamis (22/4/2021). Dijelaskan Bagus, hampir 600.000 orang di Indonesia bekerja sebagai petani tembakau dan menjadi sumber mata pencaharian utamanya. 

“Selama ini tembakau menjadi komoditas yang seksi, karena dari sisi produk hilirnya ini menjadi satu komoditas nasional karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata Bagus, kepada Nawacita.co.

Hingga kini hampir di seluruh wilayah di Indonesia terdapat lahan tembakau dengan berbagai jenis. Mulai dari Aceh, Sumatera, Jawa, Madura, NTT, NTB hingga Sulawesi. Dari data statistik total luas areal tembakau 235.969,05 hektare dengan produksi tembakau mencapai 261.450,87 ton per tahun.

Di Indonesia hingga kini terdapat 10 jenis tembakau yang potensi pengembangannya tersedia pada sentra-sentra pengembangan di Pulau Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara Barat.

“Dari data statistik yang ada di Dirjen Perkebunan total areal kinerja tembakau nasional disisi Hulu itu mencapai areal tembakau 235.969,05 ha dengan produksi mencapai 261.450,87 ton dan petani yang terlibat kurang lebih 600.000 orang,” jelasnya.

Selain sebagai mata pencaharian, tembakau dianggap komoditas seksi karena hubungan sinergi petani dengan produsen dalam hal ini industri sangat kuat. Namun permasalahan yang dihadapi saat ini yakni tidak semua jenis tembakau yang dihasilkan para petani diserap oleh para industri.

Sebab, tidak beberapa industri rokok memerlukan bahan baku tembakau yang tidak bisa diproduksi di Indonesia atau jumlah bahan baku yang ada di Indonesia jumlahnya sangat sedikit. Sehingga para industri memilih untuk melakukan import guna memenuhi kebutuhan bahan baku mereka. “Ketersediaan tembakau dengan kebutuhan industri menjadi ukuran kesejahteraan petani tembakau,” jelasnya.

Bagus mengungkapkan pada tahun 2020 volume importir mencapai 110,27 ton dengan nilai impor mencapai $550,41. Dengan berbagai jenis, diantaranya jenis Virginia, Burley dan Oriental.

“Ketika petani menghasilkan tembakau dalam jumlah banyak dan tidak terserap tentunya juga akan berpengaruh terhadap kelanjutan usaha petani tembakau,” pungkasnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY