Keponakan Setya Novanto Dituntut 12 Tahun Penjara

0
198
Keponakan Ketua DPR Setya Novanto Irvanto Hendra Pambudi (tengah)
Keponakan Ketua DPR Setya Novanto Irvanto Hendra Pambudi (tengah)

JAKARTA, Nawacita —  Mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan Pengusaha Made Oka Masagung dituntut 12 tahun penjara oleh jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kedua terdakwa proyek pengadaan KTP-el itu juga dituntut membayar denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

“Kami menuntut agar majelis hakim menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan korupsi secara bersama-sama,” ujar jaksa KPK Wawan Yunarwanto  di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (6/11)

Dalam pertimbangan, Jaksa menilai perbuatan Irvanto dan Made Oka tidak mendukung pemerintah yang sedang giatnya memberantas korupsi. Kemudian, akibat perbuatan keduanya sangat bersifat masif yakni menyangkut pengelolaan data kependudukan nasional dan dampak perbuatan keduanya masih terasa sampai saat ini dan telah merugikan keuangan negara.  Kedua terdakwa, juga dinilai berbelit-belit dalam memberikan keterangan di penyidikan dan persidangan.

Sementara untuk pertimbangan untuk Irvanto yang didapat selama persidangan,  menurut Jaksa, Irvanto terbukti merekayasa proses lelang dalam proyek pengadaan KTP-el. Ia juga dianggap telah menjadi perantara suap untuk sejumlah anggota DPR RI.

Keponakan Setya Novanto itu dinilai ikut andil dalam memenangkan perusahaan tertentu dalam pengadaan KTP-el. Bahkan, Irvanto juga turut menghadiri pertemuan dengan orang-orang yang selanjutnya disebut Tim Fatmawati yang dibentuk untuk memenangkan salah satu perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Irvanto dan Andi Narogong bersama Tim Fatmawati juga terbukti bersepakat untuk mengatur proses pelelangan akan diarahkan untuk memenangkan salah satu konsorsium yang akan dibentuk. Selain itu, ia juga dinilai berperan memberikan uang  kepada Setya Novanto.

Irvanto terbukti beberapa kali menerima uang Johannes Marliem selaku penyedia produk biometrik merek L-1 yang seluruhnya berjumlah 3,5 juta dollar Amerika Serikat. Uang tersebut disebut sebagai fee sebesar 5 persen untuk mempermudah pengurusan anggaran KTP-el.

Sementara untuk Made Oka, dari fakta persidangan menurut Jaksa terbukti menjadi perantara uang suap untuk Novanto.  Diketahui, awalnya Konsorsium PNRI yang memenangkan lelang proyek KTP-el tidak mendapatkan uang muka.

Untuk itu, sejumlah pengusaha dalam Konsorsium PNRI yakni, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Johannes Marliem, Anang Sugiana Sudihardjo dan Paulus Tannos melaporkannya kepada Setya Novanto. Atas laporan tersebut, Novanto menyampaikan akan memperkenalkan Made Oka untuk mengatasi pendanaan pelaksanaan proyek.

Setelah pertemuan itu, Novanto memperkenalkan Made Oka kepada Paulus Tannos di rumah Novanto dan Made Oka menyanggupi untuk membantu. Saat itu, Novanto pun meminta Made Oka untuk menerima fee dari konsorsium.

Sesuai kesepakatan di antara pengusaha pada 14 Juni 2012, fee untuk Novanto dikirimkan melalui Made Oka. Made Oka menyalahgunakan kedudukannya sebagai pemilik OEM Investment Pte.Ltd menerima fee sejumlah 1,8 juta dollar Amerika Serikat.

Uang tersebut berasal dari Johannes Marliem, salah satu penyedia produk biometrik merek L-1 melalui rekening OEM Investment, Pte. Ltd pada OCBC Center Branch Nomor Rekening 501029938301 dengan underlying transaction

“software development final payment”.

Selain itu, pada 10 Desember 2012, Made Oka kembali menerima uang fee untuk Setya Novanto dari Direktur Utama PT Quadra Solutions Anang S Sudihardjo sebanyak 2 juta dollar AS. Penyerahan melalui rekening pada Bank DBS Singapura Nomor 0003-007277-01-6-022 atas nama Delta Energy Pte.Ltd yang juga merupakan perusahaan milik Made Oka.

Menurut jaksa, transaksi disamarkan dengan perjanjian penjualan saham sebanyak 100 ribu lembar milik Delta Energy di Neuraltus Pharmaceutical Incorporation, suatu perusahaan yang berdiri berdasarkan hukum negara bagian Delaware, Amerika Serikat.

Selain itu, Made Oka juga mengirimkan sebagian uang dari Johannes Marliem kepada keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi, melalui rekening milik Muda Ikhsan Harahap di Bank DBS Nomor Rekening 017-4-090023 sejumlah 315,000 dollar AS.

Menurut jaksa, uang-uang yang diterima oleh Setya Novanto dari Made Oka dan Irvanto, jumlahnya mencapai 7,3 juta dollar AS.

Selain Novanto, perbuatan Made Oka dan Irvanto telah memperkaya sejumlah orang dan korporasi. Perbuatan yang dilakukan bersama-sama itu telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun.

Dalam persidangan, JPU KPK juga menolak permohonan sebagai justice collaborator yang diajukan Irvanto karena tidak memenuhi syarat sebagai saksi pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum “Dari hasil penelitian dan hal-hal yang terjadi di persidangan, jaksa berpendapat terdakwa satu Irvanto Hendra Pambudi tidak memenuhi kualifikasi sebagai justice collaborator,” ujar jaksa Ni Nengah Gina Saraswati.

Diketahui,  dikabulkannya permohonan justice collaborator bila sang pemohon mengakui perbuatan dan memberikan keterangan signifikan untuk mengungkap pelaku lain yang lebih besar. Status itu juga tidak boleh disematkan kepada pelaku utama tindak pidana.

Irvanto dan Made Oka dijerat Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

repblk

LEAVE A REPLY