Dukung Film Dayak, Gubernur Kaltim: Jaga Autentisitas Budaya
Samarinda, Nawacita | Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud (Harum), menyatakan dukungan penuh sekaligus memberikan apresiasi tinggi terhadap rencana produksi Film Dayak sebagai upaya strategis menjaga keaslian dan martabat budaya Dayak.
Menurut Gubernur Harum, film tersebut harus mampu merepresentasikan nilai budaya, filosofi, serta kearifan lokal masyarakat Dayak secara autentik, bukan sekadar mengedepankan unsur sensasional.
“Film ini tidak hanya sensasional, tetapi juga harus melibatkan tokoh adat, akademisi, budayawan, dan para penasihat, termasuk kepala daerah. Ada lima gubernur di Kalimantan yang dapat diajak berdiskusi,” ujar Harum saat menerima Tim Produksi Film Dayak yang dipimpin Ketua Thoeseng Aseng, di Ruang Rapat Gubernur Kaltim, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga: Gubernur Tinjau KEK Maloy, Dorong Pusat Ekonomi Baru Non-Ekstraktif di Kaltim
Harum menekankan pentingnya mengangkat nilai kearifan lokal yang tetap relevan dengan dinamika modernisasi. Ia berharap film tersebut mampu menyampaikan pesan kuat tentang harmoni dengan alam, termasuk nilai toleransi dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak.
“Hukum adat adalah identitas Kalimantan. Karena kita berbicara tentang Bumi Borneo, maka hukum adat harus dijaga sebagai bagian dari identitas Borneo,” tegasnya.
Dalam proses produksi, Gubernur Harum juga menyarankan agar pemberdayaan sumber daya lokal menjadi prioritas. Selain memperkuat identitas budaya, film ini diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana promosi destinasi wisata Kalimantan Timur.
Baca Juga: Gubernur Kaltim Resmikan Jembatan Sungai Nibung, Perkuat Konektivitas Kutai Timur
“Kami berharap Film Dayak ini menjadi etalase promosi destinasi wisata di Kalimantan, khususnya Kaltim, seperti Batu Dinding di Kabupaten Mahakam Ulu dan Desa Budaya Pampang Samarinda, sehingga berdampak pada sektor pariwisata dan UMKM masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Produksi Film Dayak Thoeseng Aseng menjelaskan bahwa film tersebut akan mengisahkan perjalanan sejarah masyarakat Dayak, mulai dari masa konflik antar sesama suku maupun dengan suku lain, hingga berakhir dengan kesepakatan damai sebagai simbol persatuan dan rekonsiliasi.
“Proses syuting akan dilaksanakan di berbagai daerah. Di Kaltim, beberapa lokasi di antaranya Hulu Mahakam dan Desa Budaya Pampang Samarinda, serta lokasi lain di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara,” jelas Thoeseng Aseng. kltmprv


