Tuesday, February 10, 2026

Mengenal Logam Tanah Jarang, Harta Karun RI Dipakai Untuk Komponen iPhone hingga Militer

Mengenal Logam Tanah Jarang, Sejarah serta Faktanya

JAKARTA, Nawacita – Mengenal Logam Tanah Jarang, Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE) diyakini memberikan nilai ekonomi yang tinggi saat dikelola dengan baik. Sebab, unsur-unsur yang terkandung dalam LTJ ternyata dibutuhkan pada pembuatan material produk teknologi modern seperti baterai, ponsel, kendaraan listrik, hingga militer.

China telah memonopoli produksi REE gobal sampai 97 persen di tahun 2009 sehingga memicu kekhawatiran yang dinamakan Rare Earth Crisis. Kata “jarang” atau “rare” yang melekat ada istilah Logam Tanah Jarang tidak menandakan kandungan tiap unsurnya sedikit.

Sebaliknya, keterdapatannya di kerak bumi rata-rata lebih tinggi dari berbagai unsur yang selama ini ditemui seperti unsur Au, Mo, As, atau Be. Dalam Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 5 No. 3 (2010) disebutkan, sebutan “jarang” mengacu pada unsur-unsur dalam LTJ yang jarang sekali terakumulasi dalam jumlah yang ekonomis untuk dilakukan penambangan.

- Advertisement -

LTJ sering didapati menyatu pada batuan asam alkali yang lazim ditemukan pada lingkungan geologi kontinen. Lingkungan ini berbeda dengan yang dimiliki Indonesia.

Kendati demikian, salah satu LTJ yang ada di Indonesia adalah unsur Serium. Unsur tersebut menjadi produk sampingan penambangan timah di Parmonangan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Sumber daya Serium tersebut lebih kurang 145,8 gram per ton dari 2.546 ton bijih (17.481 boot bijih).

Definisi Logam Tanah Jarang dan Sejarahnya

Mengutip laman Pusat Kajian Sumberdaya Bumi Non-Konvensional Fakultas Teknik UGM, Marc Humphries mendefinisikan Rare Earth Element dan yttrium sebagai kelompok unsur logam yang masuk pada golongan transisi atau kelompok kimia lantanida menurut tabel periodik. Rare Earth Element dikenal pula dengan istilah rare earth metals (logam tanah jarang) atau rare earths (tanah jarang).

Pada buku Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia (2019) yang diterbitkan Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara,dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM, REE terdiri dari 17 unsur di dalamnya. Unsur-unsur pada REE meliputi scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y). Unsur scandium (Sc) dan yttrium (Y) tetap dimasukkan pada pada REE. Keduanya memiliki kesamaan sifat fisika dan kimiawi pada golongan lantanida.

Mengulik sejarahnya, bahasan mengenai REE diawali dari penemuan unsur yttrium untuk pertama kali di akhir abad 18. Penemunya adalah Gadolin, seorang ahli kimia dan mineralogi, pada tahun 1794. Selanjutnya, para ahli kimia dan mineralogi lain melakukan penelitian dan berhasil mengidentifikasi 14 unsur lain yang termasuk dalam LTJ.

Penemuan terakhir unsur LTJ terjadi pada tahun 1907. Kala itu, peneliti mengidentifikasi adanya unsur lutetium dan promethium sehingga total unsur dalam REE menjadi 17 unsur. Unsur promethium ditemukan Marinsky pada tahun 1943 setelah terjadi reaksi nuklir.

Kumpulan unsur-unsur tersebut disatukan dengan nama Rare Earth Element dan tidak memakai nama dari penemunya. Penamaan ini merupakan istilah yang disepakati untuk digunakan sejak abad 19. Latar belakangnya yaitu telah ditemukan sebuah kumpulan REE di dunia pada tambang di Ytterby, Swedia.

Baca Juga: Harta Karun di Lumpur Lapindo Jadi Incaran Dunia

Tambang Ytterby adalah tambang feldspar dan kuarsa yang bahan bakunya dari granit pregmatit. Hasil tambang dipakai untuk memenuhi permintaan porselen di Inggris Raya dan Polandia. Tambang yang beroperasi mulai tahun 1700-1933 juga mengandung hampir seluruh unsur yang ada dalam REE.

Mengenal Logam Tanah Jarang
Mengenal Logam Tanah Jarang, Harta Karun RI Dipakai Untuk Komponen iPhone hingga Militer.

Kenapa Logam Tanah Jarang Berharga

Unsur dalam Logam Tanah Jarang adalah komoditi strategis. LTJ menjadi sangat berharga karena dibutuhkan oleh beragam bidang, mulai dari industri elektronik sampai transportasi modern. Berikut berbagai contoh penggunaan unsur-unsur LTJ dalam industri:

  • Lanthanum: Baterai, campuran logam, hybrid engines
  • Cerium: Katalis, petroleum refining, campuran logam
  • Praseodymium: Magnet
  • Neodymium: Katalis, hard drive pada laptop dan headphone, hybrid engines
  • Samarium: Magnet
  • Europium: Warna merah pada layar tv dan monitor komputer
  • Terbium: Phosporus, magnet permanen
  • Dysporium: Magnet permanen, hybrid engines
  • Erbium: Phosporus
  • Yttrium: Pewarna merah, lampu fluorescent, keramik, media pencampur logam
  • Holmium: Pewarna gelas, laser
  • Thullum: Komponen alat sinar-X
  • Lutetium: Katalis pada petroleum refining
  • Ytterbium: Laser, campuran baja
  • Gadolinium: Neomagnet

Indonesia kaya kandungan LTJ?

Melimpahnya LTJ membuat cita-cita Indonesia untuk menjadi “Raja Baterai” bukanlah hal mustahil. Komoditas ini memang belum diproduksi di Indonesia. Selain itu memang belum ada data utuh terkait total sumber daya logam tanah jarang ini karena masih minimnya penelitian terkait LTJ di Tanah Air

Dilansir dari media, berdasarkan buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019, sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti di beberapa wilayah tercatat setidaknya mencapai 72.579 ton, berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik.

Pusat Sumber Daya Geologi-Badan Geologi pada 2014 melakukan kajian untuk mengetahui potensi sumber daya LTJ dalam endapan tailing di wilayah Pulau Bangka dengan menggunakan metoda interpretasi remote sensing.

Hasil kajian menunjukkan tebal endapan tailing 4-6 meter, dengan luas total endapan tailing 500.000 hektare, sehingga diperoleh volume 5.500.000.000 meter kubik (m3). Dengan kadar total LTJ 9,5 gr/m3, maka tonase LTJ mencapai 52.387.500.000 gr atau 52.000 ton.

Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton. Sejumlah mineral yang mengandung LTJ seperti monasit, zirkon, dan xenotim, merupakan mineral ikutan dari mineral utama seperti timah, emas, bauksit, dan laterit nikel.

Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan ada sembilan lokasi yang telah terindikasi mengandung mineral logam tanah jarang. Eksplorasi awal telah dilakukan sejak 1991 dan beberapa lokasi telah terindikasi mengandung logam tanah jarang. Teranyar, pada 2018 lalu, lokasi yang terindikasi mengandung logam tanah jarang adalah Sumatra Selatan dan Riau.

Badan Geologi telah menyelidiki 29 lokasi yang berpotensi mengandung logam tanah jarang. Lokasi yang telah diselidiki tersebut berada di wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, Pulau Bintan Riau, Kepulauan Anambas Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.

Dari 29 lokasi tersebut, baru sembilan lokasi yang terungkap memiliki mineralisasi logam tanah jarang. Sembilan lokasi itu berada di Riau (dua titik), Pulau Bangka (dua titik), Belitung, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat.

“Ini baru eksplorasi awal dan belum rinci. Selebihnya 20 lokasi mineralisasi logam tanah jarang baru sebatas data keterdapatan dan indikasi. Jadi, belum optimal eksplorasinya,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar yang dilansir dari Bisnis.

Untuk saat ini,negara yang memiliki cadangan terbesar di dunia berada di China kemudian disusul oleh Amerika Serikat, Australia, dan India. Monopoli China dalam produksi logam tanah jarang tidak hanya memberinya keunggulan strategis atas negara-negara yang sangat bergantung pada komoditas tersebut, seperti AS yang mengimpor 80% logam tanah jarangnya dari China.

Monopoli ini juga menyebabkan rantai pasokan logam tanah jarang global tidak bisa diandalkan, hal ini pernah terjadi di tahun 2010 ketika China menurunkan ekspor kuota sebesar 37% yang menyebabkan harga logam tanah jarang dunia meroket.

Bahkan pada sebuah laporan dari media pemerintah China menyatakan jenis mineral tersebut bisa menjadi ‘senjata’ dalam perang dagang dengan pihak Washington. Kondisi ini bisa membuat AS tidak akan memiliki pasokan yang cukup karena perlu waktu untuk membangun kapasitas pemrosesan mereka sendiri yang saat ini masih nol.

“Tanah jarang yang erat kaitannya dengan magnet adalah bahan ideal untuk persenjataan dan industrinya sangat sensitif terhadap harga,” tutur Managing Director Adamas Intelligence Ryan Castilloux seperti dikutip media.

1. Untuk apa saja logam tanah jarang digunakan?

Logam tanah jarang atau rare earth digunakan dalam baterai isi ulang untuk mobil listrik dan hybrid, keramik canggih, komputer, pemutar DVD, turbin angin, katalis dalam mobil dan kilang minyak, monitor, televisi, penerangan, laser, serat optik, superkonduktor dan pemoles kaca.

Beberapa elemen tanah jarang, seperti neodymium dan dysprosium, sangat penting untuk motor yang digunakan dalam kendaraan listrik.

2. Logam tanah jarang untuk peralatan militer

Beberapa mineral rare earth sangat penting dalam peralatan militer seperti mesin jet, sistem panduan rudal, sistem pertahanan antirudal, satelit, serta laser.

Lantanum, misalnya, diperlukan untuk memproduksi perangkat penglihatan malam atau kacamata nightvision.

Departemen Pertahanan AS menyumbang sekitar 1 persen dari permintaan AS, yang menyumbang sekitar 9 persen dari permintaan global untuk tanah jarang, menurut laporan 2016 dari Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS.

trotponws.

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru