Waspada Kekeringan dan Karhutla, Wagub Jatim Serukan Siaga Lintas Sektor
SURABAYA, Nawacita – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan seluruh pihak harus siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering menjelang musim kemarau 2026.
Hal itu disampaikan Emil usai rapat koordinasi lintas sektor di Dyandra Convention Center, Selasa (7/4/2026), yang dihadiri unsur Forkopimda, BPBD, Perhutani, hingga perwakilan kementerian terkait.
“Dari paparan kondisi cuaca, kita putuskan semua harus siaga. Ini melibatkan seluruh unsur, termasuk aparat keamanan dan pemangku kepentingan di sektor kehutanan serta pertanian,” ujarnya.
Baca Juga: UMKM dan Pasar Tradisional Jadi Prioritas, Emil Tanggapi Kenaikan Harga Plastik
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jatim mendorong percepatan masa tanam, terutama pada April hingga Mei saat ketersediaan air masih mencukupi. Emil menekankan pentingnya jeda tanam yang singkat, maksimal dua minggu setelah panen, guna menjaga produktivitas pertanian.
Selain itu, optimalisasi penggunaan air juga dilakukan melalui penerapan metode pertanian hemat air seperti alternate wet and drying serta pemanfaatan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.
Di sisi infrastruktur, Pemprov Jatim telah mengoperasikan lebih dari 2.000 sumur bor, dengan tambahan sekitar 1.800 unit yang ditargetkan tahun ini. Berbagai bendungan dan embung di sejumlah daerah juga dimaksimalkan sebagai penampung air.
“Fungsi dam dan embung ini sangat krusial untuk menghadapi kekeringan. Hampir semua wilayah sudah memiliki, tinggal kita optimalkan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur memiliki titik rawan kekeringan, termasuk daerah lumbung pangan seperti Banyuwangi, Pantura, hingga kawasan Mataraman seperti Ngawi, Ponorogo, dan Madiun.
“Kerawanan itu tersebar, hanya berbeda timing. Ada yang mulai Juni, tapi puncaknya serentak di Agustus,” pungkasnya.
Selain kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian serius, mengingat kondisi kering berisiko meningkatkan kejadian tersebut di kawasan hutan Jawa Timur.
(Alus)



