Surabaya, Nawacita.co — Industri perfilman nasional kembali menghadirkan inovasi melalui film fiksi ilmiah bertema keluarga berjudul Pelangi di Mars. Karya terbaru dari Mahakarya Pictures bersama MBK ini memadukan petualangan futuristik dengan pesan emosional tentang persahabatan, ketangguhan, dan harapan bagi masa depan bumi.
Disutradarai oleh Upie Guava, film ini berlatar tahun 2100, ketika bumi mengalami krisis air akibat pencemaran dan eksploitasi berlebihan. Cerita berfokus pada Pelangi, seorang anak perempuan yang lahir dan tumbuh di Mars, serta memiliki peran penting dalam menjembatani hubungan antara manusia dan robot.
Karakter Pelangi diperankan oleh Messi Gusti, yang digambarkan sebagai gadis berusia 12 tahun yang hidup sendiri setelah ditinggal ibunya, Pratiwi, yang diperankan Lutesha. Kehidupan sunyi Pelangi berubah ketika ia bertemu dengan sekelompok robot rusak yang telah lama ditinggalkan di planet tersebut.
Bersama para robot, Pelangi menjalankan misi penting untuk menemukan mineral langka bernama Zeolith Omega. Mineral ini diyakini mampu memurnikan air di bumi dan menjadi harapan terakhir bagi kelangsungan hidup manusia.
Dalam keterangan resminya, Upie Guava menyebut film ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya film anak di Indonesia, khususnya dalam genre fiksi ilmiah. Ia menilai sci-fi memiliki peran strategis dalam membangun imajinasi serta visi masa depan generasi muda.
“Melalui cerita yang melibatkan eksplorasi luar angkasa dan kolaborasi lintas bangsa, anak-anak diharapkan terdorong untuk bermimpi menjadi ilmuwan, astronot, hingga penjelajah antariksa,” ungkap Upie, kemarin (23/3/2026).
Pelangi di Mars diproduksi menggunakan teknologi Extended Reality (XR), yang memungkinkan penciptaan latar virtual secara real-time selama proses syuting. Teknologi ini diadaptasi dari luar negeri, namun seluruh pengembangannya dilakukan oleh tenaga kreatif Indonesia.
Film ini merupakan hasil kolaborasi antara Guava Film, DossGuava Studio, dan PFN, dengan komitmen menghadirkan karya 100 persen produksi lokal.
Penggunaan teknologi XR menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemeran. Messi Gusti mengungkapkan bahwa ia harus berakting tanpa kehadiran fisik karakter robot, sehingga membutuhkan imajinasi kuat dalam setiap adegan. Selain itu, kostum astronot yang berat juga menjadi kendala dalam pergerakan selama proses syuting.
Film ini turut memperkenalkan pendekatan baru dengan memisahkan peran body actor dan voice actor untuk karakter robot. Pengisi suara karakter Batik, Bimo Kusumo Yudo, menyebut langkah ini sebagai peluang baru bagi profesi kreatif di industri film nasional. Hal serupa disampaikan oleh Vanya Rivani yang memerankan robot Kimchi.
Produser utama Dendi Reynando menegaskan bahwa film ini tidak hanya bertujuan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium edukatif untuk membangun imajinasi anak-anak Indonesia. Ia berharap Pelangi di Mars dapat memperkuat posisi kekayaan intelektual (IP) lokal agar mampu bersaing dengan produk luar negeri, khususnya di sektor hiburan anak.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop dalam waktu dekat dan ditargetkan meraih jutaan penonton sebagai langkah awal menuju pengembangan sekuel. Promosi telah dilakukan di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Semarang, hingga sejumlah wilayah di Sumatera.
Dengan mengusung cerita global dan tokoh utama dari Indonesia, Pelangi di Mars diharapkan menjadi tonggak baru dalam perkembangan film anak dan fiksi ilmiah di Tanah Air. Deni



