Malang, nawacita – Potensi curah hujan tinggi dan angin kencang yang masih terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur hingga arus balik Lebaran 2026 menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Berbagai upaya antisipasi, termasuk rekayasa cuaca, disiapkan agar arus mudik dan balik tahun ini berlangsung lancar dan aman.
Hal ini mengemuka setelah Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, mengikuti rapat koordinasi bersama jajaran kepolisian dan pemerintah daerah terkait masa Lebaran 2026. Dalam rapat tersebut, kesiapan pengamanan mudik disebut telah dimatangkan sejak beberapa hari lalu melalui apel kesiapsiagaan di lingkungan Kepolisian Daerah Jawa Timur. “Dalam rapat koordinasi kemarin disampaikan bahwa kita harus mengantisipasi kemungkinan curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem di sisa musim hujan ini,” kata Puguh, Minggu (22/3/2026).
Rekayasa Cuaca Sepanjang Arus Balik Lebaran
Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah program modifikasi cuaca (weather modification technology). Program ini direncanakan berlangsung selama masa angkutan mudik dan balik Lebaran, tepatnya mulai 16 Maret hingga 26 Maret 2026.
“Rencananya modifikasi cuaca dilakukan mulai 16 Maret hingga 26 Maret. Tujuannya untuk mengurangi risiko hujan dengan intensitas tinggi,” jelas anggota DPRD Jatim dapil Malang Raya itu.
Langkah ini dinilai krusial mengingat sejumlah wilayah di Jawa Timur memiliki kondisi tanah yang sudah jenuh akibat hujan selama beberapa bulan terakhir. Jika curah hujan kembali tinggi, potensi bencana seperti longsor dan banjir bisa terjadi.
Puguh menyoroti sejumlah daerah yang perlu mendapat perhatian khusus selama musim mudik hingga arus balik. Jalur selatan Jawa Timur yang dikenal rawan longsor menjadi salah satu prioritas. Selain itu, beberapa wilayah yang kerap mengalami banjir seperti Lamongan, Pasuruan, dan Probolingbo juga perlu dipantau secara intensif.
“Jangan sampai saat rumah ditinggalkan, justru terjadi bencana seperti longsor atau banjir yang menimbulkan kerugian,” tegasnya.
“Beberapa daerah yang sering banjir seperti Lamongan, Pasuruan, dan Probolinggo harus diantisipasi. Jangan sampai hujan dengan durasi lama memicu banjir saat arus balik libur lebaran berlangsung,” ujarnya.
Kawasan wisata yang diprediksi ramai pengunjung saat libur Lebaran juga perlu mendapat perhatian. Potensi bencana di lokasi wisata harus diantisipasi.
Pemerintah provinsi bersama organisasi perangkat daerah telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan darurat. Koordinasi dilakukan dengan instansi teknis, termasuk Balai Jalan Nasional dan Dinas Pekerjaan Umum, untuk mempercepat penanganan jika terjadi longsor di jalur arus balik lebaran.
“Kalau terjadi longsor, kami sudah berkoordinasi dengan BPJN dan Dinas PU Bina Marga, baik pusat maupun daerah, agar penanganan bisa segera dilakukan,” paparnya.
Antisipasi juga dilakukan untuk menghadapi kemungkinan tanggul jebol yang bisa memicu banjir. Di sisi lain, pemerintah menyiapkan dukungan logistik jika terjadi bencana yang memicu pengungsian.
“Kami sudah melakukan dropping logistik ke seluruh kabupaten dan kota. Jika terjadi pengungsian, logistik tersebut bisa langsung digunakan untuk membuka dapur umum,” terang Puguh.
Ia menambahkan, dukungan juga akan datang dari relawan yang bergabung dalam berbagai posko terpadu penanganan bencana selama masa libur Lebaran.
“Relawan juga bergerak membantu posko-posko terpadu bersama pemerintah dan instansi terkait,” pungkasnya.



