Kapal Lebih Besar Tak Kunjung Hadir, ASDP Hanya Bisa Berjanji
Banyuwangi, nawacita – Kemacetan panjang hingga 31 kilometer sempat melumpuhkan Pelabuhan Gilimanuk, Bali di Hari Raya Nyepi dan idulfitri. Meski antrean akhirnya berhasil diurai menjadi nol kilometer sebelum penutupan operasional, insiden ini kembali menyoroti kerentanan sistem penyeberangan Selat Bali yang berulang kali gagal mengatasi lonjakan kendaraan saat momen krusial.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) pun angkat bicara. Namun alih-alih menghadirkan solusi konkret untuk mencegah terulangnya kemacetan massal di masa mendatang, perusahaan pelat merah itu kembali melontarkan janji jangka panjang.
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, saat mengunjungi Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Kamis (19/3/2026), mengakui bahwa kapal-kapal yang beroperasi di lintas Ketapang-Gilimanuk relatif berukuran kecil. Daya tampungnya dinilai tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penumpang dan kendaraan yang terus meningkat.
“Kami juga meminta operator kapal lainnya mengganti kapal yang lebih besar dari sekarang,” ujar Yossianis.
ASDP berencana mengganti kapal-kapal kecil dengan unit berukuran minimal 2.700 GT mulai tahun ini. Dermaga pun akan ditingkatkan kapasitasnya dari yang semula mampu menampung kapal 3.000 GT menjadi 5.000 GT. Namun rencana ini belum dilengkapi dengan target waktu yang jelas serta kepastian kesiapan infrastruktur pendukung.
“Penataan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk akan kita siapkan supaya ke depan lebih lancar,” kata Yossianis, tanpa merinci kapan pembangunan dermaga baru dimulai dan berapa anggaran yang disiapkan.
Kemacetan Berulang, Respons hanya Retorika
Kemacetan 31 kilometer di Gilimanuk bukanlah kali pertama terjadi. Setiap kali memasuki musim mudik atau libur panjang, lintas penyeberangan Selat Bali selalu menjadi langganan kepadatan ekstrem. Masyarakat kerap terjebak berjam-jam bahkan berhari-hari di jalur menuju pelabuhan.
Namun respons yang diberikan ASDP cenderung repetitif dan sekedar retorika lips service. Janji penambahan kapal, evaluasi operasional, dan koordinasi lintas sektor. Belum pernah ada terobosan signifikan yang benar-benar memutus mata rantai kemacetan struktural di pelabuhan tersibuk di Indonesia timur tersebut.
Alih-alih memberikan solusi atas kegagalan sistem yang berulang, Yossianis justru menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan instansi terkait.
“Terima kasih atas kesabaran masyarakat, serta sinergi seluruh pihak yang memungkinkan antrean dapat terurai hingga nol kilometer sebelum penutupan Nyepi,” pungkasnya.
Pernyataan itu menuai kritik. Pengamat transportasi menilai ASDP terlalu mengandalkan kesabaran pengguna jasa dan koordinasi ad hoc, tanpa membenahi akar persoalan: keterbatasan infrastruktur dan kesenjangan antara kapasitas angkut dengan volume kendaraan yang terus membengkak.
Janji Kapal Besar, Tapi Kapan?
ASDP menyebut kapal-kapal kecil yang akan diganti akan dialihkan ke daerah lain yang membutuhkan. Namun bagi masyarakat pengguna lintas Ketapang-Gilimanuk, yang tersisa hanyalah pertanyaan: kapan kapal besar itu benar-benar beroperasi? Dan apakah penambahan kapal saja cukup tanpa diiringi manajemen trafik yang lebih baik dan integrasi sistem tiket yang lebih adil?
Hingga berita ini diturunkan, ASDP belum merilis peta jalan yang detail mengenai tahapan penggantian armada dan pembangunan infrastruktur. Sementara itu, ancaman kemacetan serupa akan kembali muncul pada musim mudik berikutnya—kecuali janji-janji itu segera diwujudkan menjadi tindakan nyata. kom/bdo/pas



