Nawacita.co – Pemadaman internet di Iran masih berlanjut sepekan setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target strategis di negara tersebut.
Kondisi ini membuat jutaan warga Iran tetap terisolasi dari akses informasi dan komunikasi digital.
Lembaga pemantau internet global NetBlocks melaporkan bahwa hingga akhir pekan ini lalu lintas internet di Iran masih berada di sekitar 1% dari tingkat normal, menandakan hampir seluruh jaringan digital nasional masih tidak berfungsi.
“Sudah satu minggu sejak Iran jatuh ke dalam kegelapan digital akibat pemadaman internet nasional yang diberlakukan rezim,” tulis NetBlocks dalam pernyataan terbarunya di media sosial, Minggu (8/3/2026).
Baca Juga: Perang Iran vs Israel Berlanjut, Bagaimana Awal Konflik Terjadi
Pemadaman yang berlangsung lebih dari 168 jam itu membuat masyarakat Iran kesulitan memperoleh pembaruan informasi mengenai perkembangan konflik, menghubungi keluarga, hingga mengakses layanan daring penting. Sementara itu, pejabat pemerintah dan media negara disebut masih memiliki akses jaringan.
Konflik Militer Berlanjut
Di saat yang sama, operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran masih berlanjut.
Kampanye serangan tersebut diluncurkan untuk menargetkan kapabilitas nuklir dan misil balistik Iran, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan di Teheran.
Serangan udara dilaporkan terus dilakukan terhadap sejumlah fasilitas strategis yang diduga terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Situasi ini memperbesar kekhawatiran bahwa konflik tidak hanya berlangsung di medan perang konvensional, tetapi juga meluas ke ranah digital.
Diduga Campuran Pemadaman Internal dan Serangan Siber
Sejumlah analis menilai gangguan internet di Iran kemungkinan bukan hanya akibat kebijakan pemerintah yang membatasi akses jaringan domestik.
Baca Juga: Perang SEAblings vs Knetz Makin Memanas, Gerakan Boikot Korea Menyebar di Asia Tenggara
Kepala tim intelijen ancaman siber dari platform keamanan Flashpoint, Kathryn Raines, sebelumnya mengatakan bahwa gangguan tersebut kemungkinan dipicu oleh kombinasi penekanan internet oleh pemerintah dan gangguan siber eksternal.
“Penyebab pastinya belum jelas, tetapi hampir pasti merupakan kombinasi antara pembatasan yang diperintahkan negara dan gangguan siber eksternal,” ujarnya.
Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab pemadaman internet tersebut.
Ancaman Perang Siber Meningkat
Perusahaan keamanan siber juga memperingatkan bahwa Iran berpotensi merespons konflik ini dengan serangan siber balasan terhadap negara atau institusi yang dianggap sebagai lawan.
Kepala operasi kontra-adversary di CrowdStrike, Adam Meyers, mengatakan pihaknya telah mendeteksi aktivitas yang konsisten dengan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran.
Menurutnya, kelompok tersebut mulai melakukan reconnaissance digital dan melancarkan serangan denial-of-service (DDoS) terhadap sejumlah target.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik Iran dengan AS dan Israel kini tidak hanya berlangsung di udara dan darat, tetapi juga memasuki fase perang siber yang semakin intensif, dengan infrastruktur digital menjadi salah satu target utama.


