Thursday, March 5, 2026

Unesa Hadirkan Kelas Ngaji Bahasa Isyarat untuk Mahasiswa Tuli

Unesa Hadirkan Kelas Ngaji Bahasa Isyarat untuk Mahasiswa Tuli

SURABAYA, Nawacita – Upaya menghadirkan ruang belajar yang inklusif terus dilakukan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Salah satunya melalui program ngaji Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat yang diperuntukkan bagi mahasiswa dari komunitas Tuli selama bulan Ramadan.

Kasubdit Pusat Unggulan IPTEK Disabilitas Unesa, Prof. Budiyanto, menjelaskan bahwa program ini telah menjadi agenda rutin setiap Ramadan dan mulai berjalan secara efektif sejak dua tahun terakhir.

“Program ngaji dengan bahasa isyarat ini sudah menjadi kegiatan tahunan. Sejak 2025 pelaksanaannya semakin terstruktur dan kembali digelar tahun ini selama Ramadan,” ujar Budiyanto, saat ditemui Kamis (5/3/2026).

- Advertisement -

Ia menjelaskan, kegiatan pembelajaran dilaksanakan setiap Senin dan Kamis dengan peserta utama mahasiswa dari komunitas Tuli di Unesa. Tahun ini tercatat 27 mahasiswa Tuli mendaftar sebagai peserta, meski pada pertemuan awal jumlah yang hadir belum maksimal karena cuaca buruk.

Baca Juga: Unesa Kebanjiran Peminat SNBP 2026, Naik 26 Persen dari Tahun Lalu

Menariknya, program ini tidak hanya menghadirkan pengajar dari luar kampus. Mentor utama berasal dari Komunitas Tuli Unesa (KOTUNESA) yang juga merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus semester akhir.

“Mentornya mahasiswa kita sendiri yang sudah menguasai bahasa isyarat. Ia melatih teman-temannya membaca huruf hijaiyah hingga belajar membaca Al-Qur’an, dimulai dari surat-surat pendek,” jelasnya.

Budiyanto menambahkan, minat terhadap program ini terus meningkat. Setiap Ramadan jumlah peserta bisa mencapai sekitar 40 orang, meski sementara ini mayoritas berasal dari mahasiswa Tuli Unesa.

Saat ini, jumlah mahasiswa penyandang disabilitas di Unesa tercatat lebih dari 130 orang, dengan kategori yang beragam mulai dari Tuli, tunanetra, disabilitas fisik, hingga autisme.

“Melalui program ini kami ingin memastikan bahwa pembelajaran agama juga dapat diakses secara setara oleh mahasiswa disabilitas,” pungkas Budiyanto. (Alus)

RELATED ARTICLES
bank jatim
- Advertisment -

Terbaru