Pakar kritik Koperasi Merah Putih dari Impor Mobil hingga Sorot Persaingan Indomaret-Alfamart
Surabaya, Nawacita.co – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menanggapi polemik impor mobil untuk Koperasi Desa Merah Putih dengan nada realistis.
Menurutnya, jika keputusan sudah diambil dan barang bahkan telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dengan uang muka 30 persen dibayarkan, ruang perdebatan menjadi sempit.
“Kalau sudah diputuskan dan barangnya sudah datang, kita bisa bicara apa? Kita belajar saja dari situ,” Rhenald saat dikonfirmasi pada Senin, (2/3/2026).
Namun demikian, Rhenald menekankan bahwa setiap kebijakan belanja harus memberi dampak maksimal bagi perekonomian dalam negeri. Ia mengingatkan agar peluang peningkatan produktivitas dan penciptaan lapangan kerja tidak justru “dihamburkan” ke negara lain melalui impor.
Baca Juga: Belanja Negara harus Direm, Risiko Fiskal Kian Nyata
“Hemat-hemat di Indonesia untuk menciptakan pekerjaan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti struktur anggaran Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, yang terlalu besar saat ini adalah belanja modal (capital expenditure/CAPEX), sementara belanja operasional (operational expenditure/OPEX) justru perlu diperkuat agar koperasi mampu berjalan efektif dan kompetitif.
“Lebih baik dana operasionalnya ditambah. Supaya bisa bersaing,” katanya.
Rhenald mengingatkan, persaingan ritel sudah sangat ketat dengan pemain mapan seperti Indomaret dan Alfamart yang memiliki jaringan luas dan menyerap banyak tenaga kerja.
“Jangan mematikan Indomaret dan Alfamart. Tenaga kerjanya sudah banyak di situ. Bersaing saja, sehat bersaing,” tandasnya.
Pesan yang ia titipkan sederhana: kebijakan ekonomi harus memperkuat ekosistem usaha nasional, bukan menciptakan benturan yang merugikan pasar dan tenaga kerja.
Reporter: Alus


