Wednesday, February 25, 2026

CEO Telegram Diselidiki Rusia atas Tuduhan Bantu Kegiatan Terorisme

CEO Telegram Diselidiki Rusia atas Tuduhan Bantu Kegiatan Terorisme

Jakarta, Nawacita | CEO dan co-founder Telegram Pavel Durov diselidiki oleh pihak berwenang Rusia atas tuduhan membantu kegiatan terorisme. Penyelidikan ini dilaporkan hanya seminggu setelah Rusia membatasi traffic Telegram.

Menurut laporan Financial Times, media milik pemerintah Rusia menuduh Durov memfasilitasi serangan terhadap Rusia. Telegram juga dituding sebagai senjata intelijen strategis untuk Ukraina dan negara-negara Barat.

Rossiiskaya Gazeta, media milik pemerintah Rusia mengatakan penyelidikan ini dibuka berdasarkan informasi dari badan intelijen federal Rusia. Telegram dituding mencegat data lokasi, menjual informasi rahasia, serta mengintimidasi tentara dan keluarga mereka.

- Advertisement -

Durov, yang kini tidak lagi tinggal di Rusia, mengkritik investigasi yang diluncurkan pemerintah Rusia. Ia menyebut penyelidikan itu sebagai upaya untuk menekan hak atas privasi dan kebebasan berpendapat.

Baca Juga: Kapal Perang Iran-Rusia-China Merapat di Laut Afrika Selatan, Siaga Satu PD3?

“Sebuah tontonan menyedihkan dari negara yang takut pada rakyatnya sendiri,” tulis Durov dalam postingannya di media sosial, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (25/2/2026).

Saat ditanya tentang penyelidikan terhadap Durov, juru bicara pemerintah Rusia Dmitry Peskov mengatakan pihak berwenang telah menemukan sejumlah materi di Telegram yang berpotensi menimbulkan ancaman bagi Rusia.

“Sejumlah besar pelanggaran dan keengganan administrasi Telegram untuk bekerja sama dengan pihak berwenang telah kami catat. Pihak berwenang sedang mengambil tindakan yang mereka anggap tepat,” ujar Peskov.

Rossiiskaya Gazeta, mengutip pernyataan petinggi pemerintah Rusia, mengklaim Telegram telah digunakan dalam 13 dugaan rencana Ukraina yang menargetkan perwira militer senior Rusia, serta dalam puluhan ribu pengeboman, serangan pembakaran, dan pembunuhan sejak awal perang.

Baca Juga: Rudal S-300 Rusia Tembak Jatuh Jet Tempur F-16 AS di Ukraina

Traffic Telegram di Rusia sudah dibatasi sejak awal bulan ini. Pembatasan ini tampaknya dilakukan untuk mendorong warga Rusia beralih ke aplikasi lokal bernama Max.

Pembatasan Telegram dikritik oleh banyak pihak, termasuk kelompok pro-Rusia. Menurut mereka pemblokiran ini merugikan operasi garda depan Rusia di Ukraina karena tentara mereka menggunakan Telegram untuk berkomunikasi dan mengoordinasikan pergerakan mereka.

Pihak berwenang Rusia di dekat perbatasan Ukraina juga menggunakan Telegram untuk mengirimkan peringatan tentang serangan drone dan rudal yang datang. Bahkan juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan Telegram untuk berkomunikasi dengan media. dtk

RELATED ARTICLES
bank jatim
- Advertisment -

Terbaru