Wednesday, February 25, 2026

5 Jam Terendam, Warga Puri Gunung Anyar Tagih Janji Penanganan Banjir ke DPRD Surabaya

5 Jam Terendam, Warga Puri Gunung Anyar Tagih Janji Penanganan Banjir ke DPRD Surabaya

SURABAYA, Nawacita – Persoalan banjir menahun kembali mencuat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kota Surabaya melalui Komisi C, Rabu (25/2/2026).

Rapat tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi C, Aning Rahmawati, dan dihadiri perwakilan warga, Lurah Gunung Anyar Tambak, DSDABM, Bappeda, serta Bagian Hukum dan Kerjasama Pemkot Surabaya.

Keluhan utama disampaikan warga Perumahan Puri Gunung Anyar Regency, khususnya RT 06 RW 07, Kelurahan Gunung Anyar Tambak. Ketua RT setempat, Mukani, mengungkapkan bahwa kawasan yang dihuni sekitar 300 rumah tersebut menjadi titik terendah sehingga kerap dilanda genangan setinggi 50–70 sentimeter saat hujan lebat berbarengan dengan pasang air laut (rob).

- Advertisement -

“Air bisa bertahan lebih dari lima jam, meski pintu air sudah ditutup dan pompa dinyalakan,” ujar Mukani.

Mukani menjelaskan, terdapat delapan gang dengan total panjang kurang lebih 1.000 meter yang hingga kini belum tertangani optimal. Dari tujuh titik genangan parah, baru sebagian yang diusulkan mendapat intervensi karena keterbatasan anggaran.

Baca Juga: Tekan Pengangguran Anak Muda, DPRD Surabaya Gulirkan Program Intervensi Gen Z di Tiap RW

“Dua titik saja estimasinya sekitar Rp750 juta. Sementara total kebutuhan bisa mencapai Rp1 miliar lebih,” katanya.

Meski demikian, warga tetap mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang telah memberikan bantuan pompa serta melakukan perbaikan pintu air. Upaya tersebut dinilai cukup membantu mempercepat surutnya genangan, meskipun belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Kabid Infraswil Bappeda Surabaya, Windo Gusman Prasetyo, menjelaskan bahwa kawasan Gunung Anyar Tambak memang belum terintegrasi dalam sistem drainase utama kota. Wilayah tersebut belum masuk dalam Surabaya Drainage Master Plan, sehingga sistem saluran yang ada, termasuk sistem Kebonagung, belum mampu mengakomodasi perkembangan kawasan hunian baru.

“Karena ini penambahan kawasan permukiman, saluran tersiernya belum terbangun secara sistematis. Tahun ini akan kami lakukan kajian menyeluruh, termasuk kemungkinan merevisi sistem Kebonagung atau membangun sistem drainase baru,” jelasnya.

Kajian tersebut ditargetkan rampung dalam satu hingga dua bulan ke depan, yang kemudian dilanjutkan dengan survei lapangan bersama konsultan.

Sementara itu, Kabid Pematusan DSDABM, Adi Gunita, menyebut pihaknya tengah mengevaluasi efektivitas rumah pompa Kebonagung. Opsi reposisi maupun optimalisasi pompa terbuka untuk dilakukan, termasuk pemaksimalan tiga pompa dongfeng di kawasan terdampak serta satu pompa tambahan di wilayah sekitar.

Ia juga menekankan pentingnya penyerahan fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum-fasos) oleh pengembang, agar intervensi pemerintah dapat dilakukan secara menyeluruh dan tidak terkendala aspek legalitas aset.

Menutup rapat, Aning Rahmawati menegaskan bahwa persoalan banjir di Gunung Anyar Tambak tidak dapat diselesaikan dengan solusi parsial semata, seperti peninggian paving atau pembangunan gorong-gorong.

“Kalau sistemnya tidak dibangun, air akan berputar dari rumah warga ke sungai lalu kembali lagi. Ini harus diselesaikan secara sistemik,” tutupnya. (Deni)

RELATED ARTICLES
bank jatim
- Advertisment -

Terbaru