Perang SEAblings vs Knetz Makin Memanas: Berikut Kronologi, Dampak hingga Faktanya
JAKARTA, Nawacita – Perang SEAblings vs Knetz Makin Memanas, Di awal Tahun 2026, linimasa media sosial tidak lagi hanya dipenuhi dengan ulasan drama Korea (drakor) terbaru, melainkan dengan tagar perlawanan. Fenomena SEAblings vs Knetz menjadi salah satu perang digital terbesar dalam sejarah internet Asia Tenggara.
Konflik ini melampaui sekadar perdebatan antar penggemar, melainkan menyentuh isu sensitif mengenai rasisme, harga diri nasional, dan kekuatan ekonomi regional. Kali ini warganet SEAblings khususnya Indonesia menyerukan boikot terhadap drama Korea (drakor), termasuk musik Kpop.Untuk dijelaskan KNETZ adalah akun netizen media sosial dari Korea, dan SEABlings adalah netizen seluruh asia tenggara.
KNETZ Rasis dan menilai Wanita Wanita Asia Tenggara terkhusus Indonesia disamakan dengan Monyet dan terbelakang. Dibalas netizen Asia Tenggara dengan Wanita Korea adalah Plastik.
Masalah ini sudah sampai ke Pemerintah Korea Selatan dan sudah ada youtube menyebut kasus di perang di Media sosial telah mengganggu ke sektor pariwisata Korea. Keramaian ini diberitakan Soompi, media entertain Korea Selatan.
Seruan boikot ini diawali dari akun @robby_almuhani yang mengunggah gambar sejumlah poster drakor, ditimpa tulisan “Boycott Korean dramas!!!”.
Unggahan ini mencapai hamper 3 juta views karena begitu viral, hingga direspons banyak warganet termasuk Knetz.
Kronologi Awal: Insiden Kamera di Konser DAY6
Perseteruan ini bermula dari kejadian di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026 lalu. Dalam konser grup band asal Korea Selatan, DAY6, sejumlah fansite master asal Korea kedapatan membawa kamera DSLR profesional dengan lensa panjang, yang secara eksplisit dilarang oleh pihak penyelenggara karena mengganggu kenyamanan penonton lain.
Baca Juga: Boikot Korea Viral di Medsos Thailand, Ternyata Ini Penyebabnya?
Protes yang dilayangkan penonton lokal Malaysia di platform X (Twitter) justru ditanggapi dengan serangan defensif oleh oknum netizen Korea (Knetz). Komentar yang awalnya membela etika fansite berubah menjadi hinaan rasial yang merendahkan masyarakat Asia Tenggara, menyebut mereka sebagai “negara miskin” dan menggunakan istilah-istilah dehumanisasi.

Lahirnya Solidaritas SEAblings
Istilah SEAblings (Southeast Asia Siblings) muncul sebagai simbol persatuan netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Merasa dihina secara kolektif, mereka melakukan serangan balik yang terorganisir. Tidak hanya melalui roasting atau meme satire, tetapi juga melalui tekanan ekonomi.
Muncul Larangan Menonton Drakor?
Salah satu strategi yang digunakan SEAblings adalah menyuarakan boikot terhadap konten hiburan Korea Selatan. Berikut adalah alasan utama di balik gerakan tersebut:
- Kekuatan Pasar: Asia Tenggara adalah salah satu konsumen terbesar K-pop dan drakor di dunia. Netizen ingin menunjukkan bahwa tanpa dukungan kawasan ini, industri hiburan Korea akan mengalami kerugian besar.
- Menuntut Rasa Hormat: Gerakan ini bertujuan untuk memberi pelajaran kepada oknum netizen dan industri Korea agar lebih menghargai penggemar internasional tanpa memandang status ekonomi negara asal.
- Protes Terhadap Rasisme: Berhenti menonton drakor dianggap sebagai bentuk protes nyata terhadap normalisasi perilaku rasis yang sering dilakukan oknum Knetz di ruang digital.
Dampak Konflik bagi Penggemar, Apakah gerakan boikot drakor ini efektif?
Secara statistik, terjadi penurunan engagement pada beberapa platform streaming di kawasan ASEAN selama puncak konflik. Hal ini memaksa beberapa agensi besar di Korea Selatan untuk merilis pernyataan maaf guna meredam kemarahan penggemar.
Bagaimana nasib drakor di Indonesia ke depannya?
Meskipun drakor tetap memiliki basis penggemar setia, konflik ini memicu gelombang baru “nasionalisme konten”, di mana penonton mulai lebih melirik serial lokal atau drama dari negara Asia lainnya (seperti Thailand atau Tiongkok) sebagai alternatif hiburan.
Catatan Redaksi: Perseteruan digital ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang pentingnya etika lintas budaya di era globalisasi. Rasisme dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan, baik di dunia nyata maupun di ruang siber.
Pengertian SEAblings?
SEAblings adalah istilah yang berasal dari gabungan kata:
- SEA = Southeast Asia (Asia Tenggara)
- siblings = saudara
Istilah ini dipakai netizen Asia Tenggara sebagai simbol solidaritas digital, terutama saat menghadapi komentar yang dianggap merendahkan atau menyerang komunitas ASEAN.
Dalam konflik ini, SEAblings merujuk pada netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan negara Asia Tenggara lainnya yang “bersatu” di kolom reply.
Pengertian KNetz?
KNetz adalah singkatan dari Korean Netizens, istilah populer untuk menyebut netizen Korea Selatan yang aktif berkomentar di platform online, termasuk X (Twitter).
Dalam konteks SEAblings vs KNetz, istilah ini digunakan karena banyak akun yang diasosiasikan sebagai netizen Korea ikut terlibat dalam perdebatan.
Baca Juga: Daftar Negara Paling Kesepian di Dunia, Tunda Pernikahan Demi Kejar Karier
Kenapa SEAblings vs KNetz Jadi Pelajaran Penting?
Kasus ini menunjukkan 3 hal:
- Isu kecil bisa jadi perang besar karena algoritma media sosial memicu emosi.
- Solidaritas digital bisa muncul lintas negara, terutama saat ada isu penghinaan kolektif.
- Rasisme di internet itu nyata, dan sering muncul saat debat sudah tidak sehat.
Aksara Jawa: Benteng Digital yang Tak Tertembus AI
Salah satu senjata paling mematikan yang digunakan netizen Indonesia dalam aliansi SEAblings adalah Aksara Jawa (Hanacaraka). Penggunaan aksara tradisional ini bukan tanpa alasan.
Secara teknis, algoritma penerjemah populer seperti Google Translate atau Papago, yang sangat diandalkan netizen Korea, masih kesulitan memproses Aksara Jawa secara akurat, apalagi jika dicampur dengan dialek slang atau bahasa prokem.
Saat KNetz mencoba menerjemahkan “serangan” balik dari netizen Indonesia, mesin penerjemah seringkali hanya menampilkan hasil kosong atau terjemahan yang tidak masuk akal.
Hal ini menciptakan rasa frustrasi di pihak lawan sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi netizen lokal. Selain itu, penggunaan aksara ini juga menjadi cara efektif untuk menyampaikan pesan rahasia di kolom komentar tanpa bisa dipahami oleh pihak luar.
Kekuatan Bahasa Daerah dan Dialek Lokal
Selain aksara, penggunaan bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa (ngoko), Tagalog (Filipina), hingga bahasa Thai yang menggunakan slang khusus, menjadi amunisi tambahan. Kekuatan bahasa daerah terletak pada konteks budayanya. Sebuah kata dalam bahasa daerah bisa memiliki makna yang sangat dalam atau sarkastik yang tidak akan bisa dipahami oleh orang luar meskipun mereka menggunakan kamus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas lokal kini menjadi instrumen kekuatan di ruang digital global. Netizen tidak lagi merasa inferior dengan bahasa ibu mereka, melainkan menjadikannya identitas yang membanggakan sekaligus alat pertahanan.
Cara Netizen Melindungi Identitas Digital
- Gunakan dialek lokal untuk menghindari pelacakan kata kunci otomatis.
- Manfaatkan aksara tradisional (Jawa, Bali, Sunda) untuk komunikasi internal komunitas.
- Hindari menggunakan kata-kata kasar dalam bahasa Inggris yang mudah dideteksi algoritma report.
- Gunakan metafora atau perumpamaan budaya yang hanya dimengerti oleh sesama warga lokal.
- Selalu utamakan data dan fakta sebelum melakukan serangan balik (counter-argument).
Kesimpulannya, penggunaan Aksara Jawa dan bahasa daerah oleh SEAblings adalah bukti bahwa kearifan lokal bisa menjadi senjata modern yang sangat relevan. Di tengah arus globalisasi, menjaga akar budaya ternyata tidak hanya penting untuk pelestarian, tetapi juga sebagai perisai di dunia maya yang semakin tanpa batas.
Kesimpulan
SEAblings vs KNetz adalah fenomena trending di X (Twitter) yang bermula dari insiden konser DAY6 di Malaysia, lalu berkembang menjadi perang komentar antar netizen Asia Tenggara dan Korea Selatan.
Istilah SEAblings muncul sebagai simbol solidaritas netizen ASEAN, sementara konflik membesar karena isu stereotip dan komentar yang dinilai rasis. Walaupun ini bukan konflik antar negara secara resmi, viralnya topik ini menunjukkan betapa cepatnya perdebatan fandom bisa berubah menjadi konflik identitas di ruang digital.
wrtkpminws.


