etua Program Studi Ilmu Falak UINSA, Siti Tatmainul Qulub. Foto: Alus/nawacita
Surabaya, Nawacita.co – Proses rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan di puncak Twin Tower UIN Sunan Ampel (UINSA) OASA, Selasa petang (17/2/2026) belum mendapatkan hasil. Selain langit sedang mendung, hilal (bulan) awal Ramadhan tidak terlihat meskipun menggunakan teropong dan alat canggih.
Kegiatan memantau Hilal dari UINSA Tower dipimpin Ketua Program Studi Ilmu Falak UINSA, Siti Tatmainul Qulub, bersama dosen, mahasiswa, serta tim Laboratorium Fakultas Syariah dan Hukum. Bersama sejumlah mahasiswa UINSA.
Mahasiswa UINSA memantau Hilal awal Ramadhan 2026
Siti menjelaskan dari hasil pemantauan, tidak ditemukan tanda keterlihatan hilal. Sejak pengamatan dimulai sekitar pukul 17.53 WIB, kondisi cuaca mendung, sementara secara astronomis hilal sudah terbenam lebih dahulu pada pukul 17.49 WIB.
“Hilal memang sudah berada di bawah ufuk. Berdasarkan hisab, tinggi hilal di Surabaya tercatat minus 1 derajat. Karena itu, mustahil untuk terlihat,” jelas Siti.
Ia menambahkan, penentuan awal bulan hijriah mensyaratkan terjadinya ijtimak (konjungsi) dan posisi hilal berada di atas ufuk. Pada pengamatan kali ini, kedua syarat tersebut belum terpenuhi.
“Baik ijtimak maupun posisi hilal belum memenuhi kriteria. Karena itu, besar kemungkinan pemerintah akan menetapkan istikmal, yakni menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Siti memperkirakan awal puasa Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
“Kami tetap menunggu keputusan sidang isbat. Secara data, hilal masih di bawah ufuk dan ijtimak belum terjadi,” tutupnya.