Makna Hujan serta Ucapan Gong Xi Fa Cai dalam Tradisi Tahun Baru Imlek
JAKARTA, Nawacita – Makna Hujan serta Ucapan Gong Xi Fa Cai, Dalam perayaan Chinese New Year atau Tahun Baru Imlek, salah satu ucapan yang paling sering terdengar adalah “Gong Xi Fa Cai” (恭喜发财). Bukan hanya sekadar kalimat tradisional, frasa ini menyimpan makna harapan yang lebih dalam bagi penerimanya.
Makna Harfiah dan Budaya, Secara harfiah dalam Bahasa Mandarin, Gong Xi Fa Cai berarti “semoga berbahagia dan memperoleh kekayaan besar”. Dalam rincian maknanya:
Gong Xi (恭喜) berarti selamat atau semoga berbahagia.
Fa Cai (发财) berarti bertambah kaya atau makmur secara finansial dan kehidupan.
Dengan demikian, ucapan ini bukan sekadar “Selamat Tahun Baru Imlek” seperti yang sering disalahartikan, melainkan doa dan harapan akan keberuntungan, kemakmuran, dan rezeki yang melimpah bagi orang yang dituju.
Asal-usul dan Tradisi Penggunaan
Ucapan Gong Xi Fa Cai telah digunakan turun-temurun di kalangan masyarakat Tionghoa dalam berbagai perayaan, terutama pada momen Imlek. Frasa ini awalnya muncul dalam konteks tradisi sosial masyarakat agraris kala merayakan panen yang baik atau tanda awal musim baru yang penuh harapan.
Walaupun berasal dari Bahasa Mandarin, ungkapan ini juga punya variasi pengucapan dalam dialek lain, seperti “Gong Hei Fat Choi” dalam dialek Kanton yang memiliki makna serupa.
Baca Juga: Daftar Kata-kata Ucapan Selamat Hari Imlek 2023 dalam Berbagai Bahasa, Gong Xi Fa Cai!
Lebih dari Sekadar Kata
“Gong Xi Fa Cai” bukan sekadar frase populer, ia mencerminkan nilai harapan, kebahagiaan, dan kemakmuran yang menjadi inti dari perayaan Tahun Baru Imlek. Ucapan ini lebih tepat dipahami sebagai doa dan kehendak baik bagi orang lain, bukan sekadar ucapan selamat biasa.

Hujan yang turun saat perayaan Tahun Baru Imlek kerap dimaknai sebagai pertanda baik oleh masyarakat Tionghoa. Dalam kepercayaan tradisional, hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan simbol datangnya keberuntungan, kemakmuran, dan rezeki di awal tahun.
Makna Hujan dalam Tradisi Tahun Baru Imlek
Air memiliki posisi penting dalam filosofi Tionghoa karena melambangkan kehidupan dan kesuburan. Bahkan, dalam simbolisme budaya dan bahasa Mandarin, air sering dikaitkan dengan aliran kekayaan.
Oleh karena itu, hujan yang turun bertepatan dengan Imlek dipercaya membawa berkah, khususnya bagi aktivitas ekonomi seperti pertanian, perdagangan, dan usaha keluarga.
Kepercayaan ini juga merefleksikan harapan masyarakat agar tahun yang baru berjalan lancar, penuh peluang, serta dijauhkan dari kesulitan ekonomi.
Faktor Musiman dan Penjelasan Kalender Lunar, Di luar makna simbolik, hujan saat Imlek juga memiliki penjelasan secara alamiah. Perayaan Tahun Baru Imlek mengikuti kalender lunar, yang jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Periode ini di banyak wilayah Asia, termasuk Asia Timur dan Asia Tenggara, memang bertepatan dengan musim hujan atau masa transisi cuaca.
Kondisi tersebut membuat hujan saat Imlek menjadi peristiwa yang cukup umum terjadi setiap tahunnya. Meski demikian, bagi masyarakat Tionghoa, hujan tetap dimaknai secara positif sebagai awal yang baik untuk memulai tahun baru.
Di tengah ketidakpastian global dan dinamika ekonomi yang terus berubah, simbol hujan pada perayaan Imlek menjadi pengingat optimisme bahwa tahun yang baru tetap menyimpan peluang dan harapan akan pertumbuhan yang lebih baik.
Penjelasan BMKG
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan hujan dengan perayaan Tahun Baru Imlek itu sendiri.
Hujan yang kerap turun saat Imlek semata-mata karena momen tersebut bertepatan dengan puncak musim hujan di Indonesia. BMKG menjelaskan, tingginya curah hujan pada Januari-Februari dipengaruhi oleh pola angin Monsun Asia.
Baca Juga: Sederet Pantangan yang Tak Boleh Dilakukan saat Imlek, Wajib Tahu
Angin ini bertiup dari Benua Asia yang bertekanan tinggi menuju Benua Australia yang bertekanan rendah, membawa massa udara basah dari Asia dan Samudera Pasifik ke wilayah Indonesia melalui angin baratan.
Artinya, meskipun Imlek tidak memengaruhi cuaca, potensi hujan memang sedang tinggi-tingginya pada periode tersebut. Sistem penanggalan Imlek menggunakan kalender lunar-solar yakni menggabungkan perhitungan Matahari dan Bulan.
Konsekuensinya, Tahun Baru Imlek hampir selalu jatuh pada Januari atau Februari. Di saat yang sama, sebagian besar wilayah Indonesia memang tengah berada dalam fase puncak musim hujan.
Dengan kata lain, faktor kalender dan siklus monsun menjadi kunci utama. BMKG sendiri memproyeksi hujan akan terjadi di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, pada hari ini, Senin (16/2/2026) atau tepat sebelum perayaan Imlek besok Selasa.
Hanya Ada di Indonesia?
Menariknya, sejumlah tokoh Tionghoa menyebut fenomena hujan saat Imlek kemungkinan hanya terjadi di Indonesia. Pasalnya, di negara lain seperti China dan mayoritas wilayah Eropa tidak mengenal musim hujan seperti di Indonesia.
Di belahan dunia tersebut, perayaan Imlek justru kerap bertepatan dengan musim dingin, bahkan turun salju.
Namun bagi masyarakat Tionghoa di Tanah Air, hujan saat Imlek bukanlah hambatan. Sebaliknya, hujan dipercaya sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.
Semakin deras hujan yang turun, semakin besar pula harapan akan rezeki dan keberkahan di tahun yang baru.
Singkatnya, hujan saat Imlek bukan fenomena mistis, melainkan kombinasi antara siklus monsun dan sistem kalender. Namun di balik sains cuaca, tetap ada nilai kearifan lokal yang memberi makna tersendiri bagi masyarakat.
cnbnws.

