Kecanduan Internet di Kalangan Lansia China, Apa yang Terjadi?
Nawacita – China kini menghadapi krisis sosial baru yang tak terduga. Bukan soal pertumbuhan ekonomi atau ketegangan geopolitik, melainkan ‘epidemi’ kecanduan internet yang menyerang penduduk lanjut usia (lansia). Fenomena ini bukan sekadar soal waktu yang terbuang, tapi sudah merambah ke area yang membahayakan finansial dan kesehatan mental para kakek-nenek di Negeri Tirai Bambu.
Kisah Wang Qingfeng, warga Shaoxing berusia 46 tahun, menjadi potret buram fenomena ini. Sang ayah yang kini berusia 70 tahun mulai terjebak dalam candu layar sejak pindah ke kota pada 2023. Hiburannya? Menonton siaran langsung di Douyin –TikTok versi China– dari pagi buta hingga larut malam.

“Ayah saya sangat suka menonton siaran langsung dan memberi tip (sawer) kepada para host wanita. Bulan Desember lalu saja, dia menghabiskan sekitar 10.000 yuan (sekitar Rp21 juta) hanya untuk itu,” keluh Wang sebagaimana dilansir China Daily, Kamis (12/2/2026).
Ironi Kesepian di Balik Gawai
Wang menyadari, ayahnya hanyalah satu dari jutaan lansia yang mencari pelarian. Setelah ibunya meninggal, sang ayah kehilangan teman bicara di dunia nyata. Ponsel pintar akhirnya menjadi satu-satunya ‘sahabat’ yang setia menemani.
Namun, dampaknya akut. Tak hanya sawer penyiar, banyak lansia lain yang dilaporkan terjebak dalam belanja daring produk kesehatan murah yang tidak jelas kualitasnya, hingga menghabiskan waktu berjam-jam menonton drama pendek berbayar.
Data terbaru dari Pusat Informasi Jaringan Internet China per Desember 2025 menunjukkan angka yang fantastis: terdapat 1,125 miliar pengguna internet di China. Mirisnya, hampir 54 persen orang berusia 60 tahun ke atas kini aktif secara daring, menjadikannya kelompok demografi yang paling rentan terhadap kecanduan digital.
Pelarian dari Peran Sosial yang Memudar
Wang Wenda, Direktur Pendidikan Kesehatan Psikologis di Xinhua College, Universitas Ningxia, membedah fenomena ini dari sisi sosiologis. Menurutnya, lansia di China kini merasa kehilangan peran penting, baik dalam keluarga maupun di pasar kerja.
“Internet menjadi pelarian. Bagi mereka, memberi tip kepada penyiar atau membeli barang secara daring memberikan rasa hormat dan kendali yang sudah hilang di dunia nyata,” jelas Wang Wenda.
Gejala kecanduannya pun mulai mengkhawatirkan: mulai dari jadwal harian yang berantakan, hilangnya kesabaran saat tidak memegang ponsel, hingga kepercayaan buta terhadap informasi hoaks yang tersebar di jagat maya.
Baca Juga: Atasi Kecanduan Internet, China Larang Anak Sekolah Bawa HP
Ancaman Penipuan dan Solusi Keluarga
Di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), risiko yang dihadapi para ‘lansia digital’ ini semakin besar. Batasan antara konten asli dan palsu yang kian kabur membuat mereka menjadi sasaran empuk penipuan daring dan skema deepfake.
Para ahli sepakat bahwa benteng pertahanan utama ada pada keluarga. Membantu lansia mendapatkan kembali harga diri mereka di dunia nyata –seperti merawat cucu atau membangun interaksi sosial di lingkungan rumah– adalah kunci utama.
“Penting bagi anggota keluarga untuk menetapkan batasan waktu penggunaan ponsel dan limit pembayaran pada aplikasi dompet digital. Pemerintah pun harus lebih agresif melakukan edukasi anti-penipuan melalui notifikasi langsung ke ponsel mereka,” pungkas Wang Wenda. inlh

