Di Balik ART RI-AS, KH Abdussalam Ajak Ulama Kaji BoP untuk Palestina
SURABAYA, Nawacita – Rencana penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 menuai sorotan tajam dari kalangan pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib, mempertanyakan kemungkinan adanya relasi kepentingan antara agenda dagang tersebut dengan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) untuk Gaza, Palestina.
Sorotan itu menguat lantaran pada tanggal yang sama juga dijadwalkan rapat perdana BoP yang dibentuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Pemprov Jateng Beri Dukungan Nyata untuk Pendidikan Pondok Pesantren
“Publik tentu membaca adanya momentum yang beriringan antara ratifikasi ART dan pertemuan perdana Board of Peace. Ini wajar jika memunculkan pertanyaan: apakah ada relasi kepentingan di balik dua agenda besar tersebut?” ujar KH Abdussalam Shohib, Minggu (15/2/2026).
Sebagai langkah konkret, ia mendorong agar persoalan keanggotaan Indonesia dalam BoP dibahas secara mendalam oleh para ulama.
“Saya berharap isu ini dikaji secara kritis dalam perspektif fiqih oleh ulama pesantren dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama, misalnya melalui Musyawarah Nasional Alim Ulama yang berbarengan dengan Konbes PBNU,” ujarnya.
Menurutnya, bagi Nahdlatul Ulama, isu Palestina bukan sekadar soal politik internasional, melainkan bagian dari konsistensi sejarah dan sikap moral organisasi sejak awal berdiri.
“Ini bukan sekadar diplomasi dagang. Ini soal komitmen terhadap kemerdekaan dan keadilan,” pungkasnya.
(Alus)

