Sunday, February 15, 2026

Eri Irawan Kenang Sosok Adi Sutarwijono: Pemimpin yang Mengabdi Tanpa Keluh

Eri Irawan Kenang Sosok Adi Sutarwijono: Pemimpin yang Mengabdi Tanpa Keluh

SURABAYA, Nawacita – Kepergian Ketua DPRD Surabaya sekaligus mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya periode 2019–2024, Adi Sutarwijono, meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak. Salah satunya datang dari Eri Irawan yang mengenang almarhum sebagai sosok pemimpin yang mengedepankan pengabdian dan keteladanan.

“Saya mengenalnya bukan hanya sebagai Ketua DPRD Surabaya, bukan hanya sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2019–2024. Saya mengenalnya sebagai pimpinan sekaligus sahabat. Sosok yang mengajarkan bahwa politik bukan tentang jabatan, melainkan tentang pengabdian. Bahwa kepemimpinan bukan tentang perintah, melainkan tentang keteladanan,” ujar Eri Irawan, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, perjalanan hidup Adi Sutarwijono tidaklah mudah. Namun, almarhum tetap menjalani tanggung jawabnya dengan penuh keteguhan, meski memikul amanah besar sebagai pimpinan di kota metropolitan dengan jumlah penduduk jutaan jiwa.

- Advertisement -

“Hidup tak pernah mudah bagi Adi Sutarwijono. Tetapi beliau memilih menjalaninya dengan kepala tegak dan hati lapang. Kami mungkin tak pernah benar-benar tahu seberapa berat beban yang beliau pikul sebagai pimpinan, amanah yang teramat berat di sebuah kota metropolitan berpenduduk 3 juta jiwa dengan segala kompleksitasnya. Tetapi kami tahu satu hal, bahwa beliau memilih memikulnya dalam diam,” ujarnya.

Eri mengungkapkan, dedikasi Adi Sutarwijono terhadap masyarakat terlihat dari kesibukannya yang hampir tanpa henti. Rumah dinas maupun ruang kerja Ketua DPRD selalu terbuka bagi warga, dan komunikasi dengan masyarakat berlangsung hampir sepanjang waktu.

“Saya sering menyaksikan bagaimana beliau bekerja melampaui batas kewajaran. Waktunya hampir tak pernah menjadi miliknya sendiri. WhatsApp hampir 24 jam, pasti dibalas ketika beliau tidak memimpin rapat. Pagi hingga malam diisi agenda padat, kunjungan warga, menyelesaikan persoalan partai, hingga mendengar keluh kesah masyarakat kecil. Namun tak sekali pun saya melihat beliau mengeluh,” katanya.

Baca Juga: Budi Leksono Kenang Adi Sutarwijono sebagai Sosok Bijaksana dan Pengayom di DPRD Surabaya

Kabar wafatnya Adi Sutarwijono, lanjut Eri, memicu gelombang duka dari masyarakat. Banyak warga mengenang berbagai kebaikan yang pernah dilakukan almarhum.

Ia menceritakan, seorang warga di Kecamatan Rungkut meneleponnya sambil menangis karena merasa terbantu oleh Adi Sutarwijono sehingga anaknya dapat melanjutkan sekolah. Sementara itu, seorang Ketua RW di Kecamatan Sukolilo juga mengirimkan foto kenangan bersama almarhum.

“Kalau tidak dibantu Pak Adi, anak saya sudah putus sekolah,” ujar seorang warga di Kecamatan Rungkut.

Seorang Ketua RW di Kecamatan Sukolilo mengirimkan foto kenangan bersama Mas Adi di rumah dinas. Di foto itu, Mas Adi mengenakan kaus hitam, tersenyum lebar bersama sang ketua RW. “Orang baik itu telah pergi, Mas,” ujar Mas Abidin, ketua RW tersebut dalam pesannya kepada Eri.

Di mata Eri, Adi Sutarwijono merupakan sosok pemimpin yang selalu berada di garis depan saat menghadapi persoalan, namun memilih berada di belakang ketika menerima pujian.

“Jika hidup seperti pertarungan di medan tempur, saya yakin ada banyak luka di punggung beliau. Luka akibat terus berjalan ke depan, menahan beban, melindungi orang-orang yang berada di belakangnya,” ungkapnya.

Selain dikenal sebagai pemimpin, Adi Sutarwijono juga disebut sebagai pribadi yang bijak dalam berpolitik. Salah satu pesan yang selalu diingat Eri adalah pentingnya menjaga sikap dalam perbedaan pandangan.

“Dalam politik, jangan pernah memusuhi orangnya. Lawan gagasannya, bukan pribadinya,” kenang Eri mengutip nasihat almarhum.

Eri juga mengaku banyak belajar dari gaya kepemimpinan Adi Sutarwijono yang mengedepankan pendekatan persuasif. Menurutnya, almarhum tidak pernah mempermalukan bawahan, melainkan membangun kepercayaan dan memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran.

Di luar aktivitas politik, Adi Sutarwijono dikenal sebagai penulis yang tekun. Hingga akhir hayatnya, ia masih aktif menulis sendiri sebagai upaya menjaga ketajaman berpikir.

“Menulis ini bagian dari mengasah pikiran, biar tetap tajam,” ujar Eri menirukan perkataan almarhum.

Kepergian Adi Sutarwijono, kata Eri, meninggalkan kekosongan besar, khususnya bagi keluarga besar PDI Perjuangan Surabaya yang mengenalnya sebagai sosok senior yang lembut dan mengayomi.

“Kepergian beliau meninggalkan ruang kosong yang tak mudah diisi. Bagi banyak orang beliau adalah tokoh publik dan pemimpin, namun bagi kami beliau sosok senior yang lembut hati dan mengayomi. Selamat jalan, Mas Adi. Upahmu besar di surga,” pungkasnya.

Reporter : Rovallgio

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Terbaru