Nawacita.co – Menjelang Ramadan 2026, industri modest fashion nasional mencatat pergeseran signifikan pada pola belanja konsumen.
Perempuan kini semakin selektif memilih produk fesyen yang tidak hanya memenuhi unsur kesopanan dan estetika, tetapi juga memiliki fungsi praktis untuk menunjang aktivitas harian yang padat selama bulan puasa.
Aktivitas bekerja, beribadah, hingga silaturahmi membuat konsumen cenderung mencari item fesyen yang mudah dipadupadankan, nyaman dikenakan dalam waktu lama, serta dapat digunakan untuk berbagai kesempatan. Tren ini mendorong pelaku usaha modest fashion menyesuaikan strategi produk dan distribusi, khususnya menjelang momentum Ramadan yang selalu menjadi puncak permintaan.
Salah satu respons pelaku industri terlihat dari peluncuran koleksi fesyen head-to-toe yang mengedepankan konsep versatile, mulai dari scarf, tas, sepatu, hingga aksesoris. Pendekatan ini dinilai sebagai upaya menangkap kebutuhan konsumen yang menginginkan efisiensi tanpa mengorbankan gaya.
Baca Juga: Jelang Ramadan 2026: Tarawih di Masjidil Haram dan Nabawi Digelar 10 Rakaat
Founder Zyta Delia, Zyta Delia Rahma, menyebut Ramadan tidak lagi sekadar momentum penjualan musiman, tetapi menjadi indikator perubahan selera pasar. Konsumen saat ini, kata dia, lebih rasional dalam berbelanja dan cenderung memilih produk yang bisa digunakan berulang kali untuk berbagai kebutuhan.
“Perempuan sekarang lebih mempertimbangkan fungsi. Produk yang simpel, mudah dipakai, dan relevan dengan aktivitas sehari-hari justru lebih dicari,” ujarnya.
Dari Usaha Rumahan hingga Serap Tenaga Kerja Lokal
Fenomena pertumbuhan modest fashion lokal juga mencerminkan dinamika pelaku usaha kecil yang mampu bertahan dan berkembang. Berawal dari produksi hijab skala rumahan dengan modal terbatas, Zyta Delia perlahan mengembangkan bisnisnya seiring meningkatnya permintaan pasar.
Keputusan beralih ke hijab printing menjadi salah satu langkah untuk menjaga konsistensi kualitas dan kapasitas produksi. Diversifikasi produk pun dilakukan dengan menambah lini tas dan aksesoris yang disesuaikan dengan kebutuhan daily wear konsumen.
Baca Juga: MBG Tetap Disalurkan saat Ramadan, Menunya Kurma hingga Telur Rebus
Dalam perkembangannya, usaha ini turut membuka lapangan kerja bagi tenaga lokal, mulai dari penjahit rumahan hingga pekerja di lini produksi dan distribusi. Model bisnis ini menjadi salah satu contoh kontribusi sektor fesyen terhadap ekonomi kreatif dan penyerapan tenaga kerja.
Ekosistem Digital Jadi Pengungkit Penjualan
Transformasi digital turut memengaruhi pola distribusi dan pemasaran modest fashion. Masuk ke platform e-commerce sejak 2021, Zyta Delia memanfaatkan kampanye tematik, fitur live streaming, serta konten video pendek untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Pada periode kampanye tertentu, penjualan tercatat meningkat signifikan dibandingkan hari normal. Interaksi langsung antara pemilik brand dan konsumen melalui live shopping juga dinilai efektif membangun kepercayaan sekaligus mendorong keputusan pembelian.
Warna Lembut dan Desain Simpel Dominasi Ramadan 2026
Untuk Ramadan hingga Lebaran 2026, tren desain modest fashion cenderung mengarah pada warna-warna lembut dan potongan simpel. Tas dengan siluet fleksibel, ukuran variatif, serta detail minimalis menjadi pilihan utama, terutama bagi konsumen muda yang mengutamakan kenyamanan dan tampilan clean.
Baca Juga: Ramadan 1447 H, Baznas RI Tetapkan Zakat Fitrah Rp50 Ribu per Jiwa
Koleksi dengan material bermotif seperti jacquard juga muncul sebagai statement item yang tetap mudah dipadukan dengan busana netral. Pendekatan ini mencerminkan kebutuhan konsumen akan produk fesyen yang adaptif, fungsional, dan tidak cepat usang oleh tren.
Pengamat industri menilai, tren modest fashion Ramadan tahun ini menegaskan bahwa konsumen semakin matang dalam berbelanja. Produk yang relevan dengan keseharian, mudah digunakan, dan memiliki nilai guna jangka panjang diprediksi akan terus mendominasi pasar.*

