Candi Dermo, Jejak Sejarah Hindu-Buddha di Tengah Permukiman Warga Sidoarjo
SIDOARJO, Nawacita – Candi Dermo merupakan salah satu situs peninggalan masa klasik Hindu-Buddha yang berada di Dusun Santren, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Situs bersejarah ini menyimpan berbagai tinggalan purbakala berupa struktur bangunan candi, pahatan relief, serta blok-blok batu kuno.
Saat ini, keberadaan Candi Dermo dikelilingi oleh permukiman warga. Di sisi utara, situs tersebut berbatasan langsung dengan sebuah musala, sedangkan di bagian barat, selatan, dan timur berdampingan dengan rumah penduduk. Kondisi ini menjadikan Candi Dermo sebagai situs sejarah yang menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Menariknya, kawasan di sebelah utara candi dikenal dengan nama Terung. Wilayah ini tercatat dalam Prasasti Canggu tahun 1358 M sebagai pelabuhan dan tempat penyeberangan di Sungai Bengawan Brantas. Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti pasti yang menjelaskan keterkaitan langsung antara Candi Dermo dan kawasan Terung tersebut.
Berdasarkan catatan sejarah, Candi Dermo pertama kali dilaporkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1905 hingga 1915. Sejak saat itu, situs ini dikenal sebagai salah satu bukti penting peradaban masa lampau di wilayah Sidoarjo.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Candi Pari Peradaban Majapahit di Sidoarjo
Juru pelihara Candi Dermo, Ahmad Ghozali (20), menjelaskan bahwa pembangunan candi ini diperkirakan berlangsung pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, di bawah kepemimpinan Adi Pati Terung atau Raden Kusen.
“Candi Dermo diyakini bukan bangunan utama tempat ibadah, melainkan gapura atau pintu gerbang menuju kawasan suci umat Hindu pada masa itu,” ujar Ahmad Ghozali, Sabtu (24/1).
Ia menambahkan, pembangunan candi tersebut tidak pernah rampung. Masuknya agama Islam ke wilayah Sidoarjo menyebabkan para penguasa setempat memeluk Islam dan menghentikan pembangunan tempat peribadatan Hindu tersebut.
Nama Candi Dermo sendiri berasal dari kata “darma” yang berarti bakti. Nama ini diyakini mengandung makna sebagai tempat pendarmaan atau pengabdian.
Dalam perjalanannya, Candi Dermo telah mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, sedangkan pemugaran kedua dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Wilayah XI Jawa Timur pada tahun 2014 hingga 2020.
“Awalnya kondisi bangunan belum sempurna. Ada beberapa penambahan dan perbaikan, seperti atap pintu masuk yang menggunakan bata merah kecil, pembenahan dinding candi, serta penataan anak tangga,” jelasnya.
Sementara itu, Ariyana Slamet, siswa SMA Negeri 1 Sidoarjo, mengaku baru pertama kali mengunjungi Candi Dermo. Kedatangannya ke situs tersebut dalam rangka mengerjakan tugas sekolah.
“Saya baru pertama kali datang ke sini. Menurut saya, Candi Dermo merupakan peninggalan sejarah Indonesia yang unik dan penting untuk dipelajari,” ungkap Ariyana.
Keberadaan Candi Dermo diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai warisan sejarah sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda di Kabupaten Sidoarjo. (Deni)

