Tuesday, February 10, 2026

Relokasi RPH Pegirian: Pemkot Surabaya Siapkan Jagal Pengganti Jika Ada Penolakan di Lokasi Baru

RPH Surabaya Pastikan Pemotongan Sapi Pindah ke Tambak Osowilangun, Siap Ditempati Jagal Baru Apabila Jagal Pegirian Menolak

SURABAYA, Nawacita – Direktur Utama PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya, Fajar Arifianto, menjelaskan bahwa pihaknya tidak bisa membatasi aksi mogok yang dilakukan oleh para jagal pasar Pegirian yang enggan pindah ke lokasi baru di Tambak Osowilangun. Namun pihak RPH Surabaya tidak akan memaksa jagal yang tidak mau menempati lokasi tersebut.

“Ya monggo (mogok dan tidak mau menempati), itu kan haknya mereka yang jelas akan katakan, kami ini penyedia jasa, mereka pengguna jasa. Kalau penyedia jasa dan pengguna jasa nggak sesuai, tidak apa-apa, yang sesuai aja yang kita minta.

Saya mending bermitra dengan pengguna jasa-pengguna jasa yang bisa berkolaborasi dengan baik. Kalau nggak bisa ya sudah, nanti kan nggak cocok, tidak ketemu ini skema kerjasamanya,” ucap Fajar.

- Advertisement -

RPH Surabaya memprioritaskan jagal Pegirian untuk beroperasi di TOW. Namun, jika mereka tidak berpindah, maka slot operasional akan diisi oleh jagal baru.

“Prioritas kami jagal-jagal Pegirian untuk ikut mengoperasikan di TOW. Kalau mereka tidak ikut pindah, pasti jumlah jagal berkurang dan akan diisi oleh jagal-jagal baru,” katanya.

Fajar mengungkapkan, minat dari jagal luar daerah seperti Gresik, Lamongan dan Sidoarjo cukup tinggi, namun pihaknya tetap memprioritaskan jagal lokal Surabaya.

Baca Juga: RI Datangkan 40 Ribu Lebih Sapi Impor untuk Pasok Program MBG

“Respon dari jagal luar lumayan banyak, tapi saya prioritaskan dulu jagal Pegirian,” ungkapnya.

Fajar menyampaikan bahwa yang akan dipindahkan ke Tambak Osowilangun (TOW) hanyalah lokasi pemotongan hewan, sementara Pasar Daging Arimbi sebagai sentra perkulakan daging tetap berada di Jalan Arimbi, Pegirian, Surabaya.

“Yang pindah adalah tempat pemotongannya saja. Sedangkan pasar daging Arimbi sebagai sentra perkulakan daging terbaik di Surabaya tidak pindah. Tetap lokasinya di Pegirian, di Jalan Arimbi,” ujar Fajar.

RPH Surabaya memberikan masa transisi hingga akhir Idul Fitri atau akhir Maret 2026 bagi mitra jagal Pegirian untuk tetap melakukan pemotongan di lokasi lama.

“Kami memberi kesempatan mitra jagal Pegirian untuk menempati TOW terakhir sampai kemarin dan memaksimalkan pemotongan di Pegirian sampai dengan akhir Idul Fitri. Artinya ada waktu Januari, Februari, Maret sampai akhir Maret,” jelasnya.

Selama masa transisi, pemotongan akan dilakukan di dua lokasi secara paralel, yakni di Pegirian dan di Tambak Osowilangun.

“Selama Januari, Februari, Maret, RPH memanfaatkan dua tempat pemotongan sekaligus. Paralel kami jalankan, TOW jalan, Pegirian jalan,” katanya.

Menurut Fajar, masa transisi juga dimanfaatkan untuk memastikan seluruh fasilitas di TOW siap secara teknis dan administratif.

“Kami akan cek apakah bangunan sudah sesuai atau tidak, termasuk perbaikan jika ada kekurangan, mengurus sertifikat halal, sehingga ketika habis Lebaran operasional di TOW bisa maksimal,” ungkapnya.

Fajar menjelaskan bahwa TOW secara fungsi sudah siap dan bahkan lebih representatif dibanding RPA Pegirian yang telah beroperasi sejak tahun 1927.

“TOW bisa menampung 150 ekor sapi Brahman Cross, 80 ekor sapi lokal, dan ada 28 handrail, sama seperti di Pegirian. Bahkan lebih modern, IPAL lebih maksimal, karena Pegirian itu RPA yang sangat tua, banyak alat yang aus,” jelasnya.

Untuk menjawab keluhan jarak antara TOW dan Pasar Arimbi, Pemkot Surabaya menyiapkan armada angkutan berupa pickup dan truk untuk mengangkut daging dari TOW ke Pegirian.

“Pemkot memberikan bantuan alat transportasi kendaraan dari TOW ke Pegirian. Ini semata-mata untuk kepentingan konsumen, supaya warga Surabaya tidak terabaikan,” ucapnya.

Nantinya jam distribusi daging akan diatur agar tidak mengganggu aktivitas pasar. Diharapkan jam pemotongan di TOW dapat dimulai lebih awal sekitar pukul 23.00 atau bahkan lebih cepat agar distribusi dapat dilakukan tepat waktu.

“Pemotongan diharapkan selesai sebelum jam 4 pagi, daging keluar dari TOW masuk ke Pasar Arimbi. Kalau sudah jam 5 ke atas pasti padat dan macet,” tambahnya.

Fajar menyebut kebutuhan daging sapi di Surabaya sekitar 40 ton per hari, dengan sekitar 20 ton dipasok dari RPH Surabaya. Ia berharap tidak terjadi mogok kerja yang justru dapat merugikan pelaku usaha sendiri.

“Kalau mogok, pelanggan bisa cari supplier baru. Takutnya supplier ini hilang, mereka sendiri yang kehilangan,” ujarnya.

Untuk menjamin pasokan, RPH Surabaya juga melakukan pemotongan mandiri dalam sepekan ke depan dan menyalurkan daging melalui outlet resmi.

“Masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak perlu panik. Daging sapi tetap bisa diperoleh melalui outlet RPHSURYA Mart atau pasar-pasar tradisional,” pungkasnya.

Sebanyak 12 outlet pasar tradisional disuplai oleh mitra jagal Kedurus, yakni:

1.Pasar Kembang

2.Pasar Pucang Anom

3.Pasar Soponyono, Rungkut

4.Pasar Paing, Rungkut

5.Pasar Balongsari

6.Pasar Manukan

7.Pasar Sememi

8.Pasar Dukuh Kupang

9.Pasar Kupang Gunung

10.Pasar Pakis

11.Pasar Wonokitri

12.Pasar Mangga Dua

(Catatan: terdapat penyesuaian jumlah menjadi 12 sesuai daftar yang disampaikan narasumber.)

Reporter : Rovallgio

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru