Tempuh Coffee, Ruang Komunal dan Secangkir Impian di Sudut Ganesha
BANDUNG, Nawacita – Di tengah menjamurnya kafe-kafe estetik dan fancy di Kota Bandung yang sering kali hanya mengejar tren visual, sebuah kedai kopi di kawasan Ganesha hadir dengan narasi yang berbeda. Tempuh Coffee, sebuah ruang komunal yang didirikan oleh Dimas, seorang lulusan arsitektur yang memilih jalan unik dalam merajut mimpi dan usahanya.
Dimas, sang owner sendiri menuturkan, filosofi “Menempuh” dan Jejak Personal Nama “Tempuh” bukanlah sekadar kata tanpa makna. Bagi Dimas, nama tersebut merepresentasikan fase kehidupan yang harus dilalui setiap orang.
Menariknya, pemilihan lokasi di dekat kampus ITB (Institut Teknologi Bandung) memiliki keterkaitan emosional yang mendalam dengan masa lalunya.
“Dulu cita-cita saya kuliah di ITB. Perjuangannya panjang, bolak-balik Brebes-Bandung untuk bimbel dan menginap sebulan, tapi ternyata tidak lolos,” kata Dimas saat diwawancarai di Tempuh Coffe, Jumat (9/1/2026).
Meski akhirnya menempuh pendidikan S1 di UII Yogyakarta dan baru bisa kembali ke Bandung untuk melanjutkan jenjang berikutnya, memori perjuangan tersebut ia abadikan dalam semangat Tempuh Coffee. Kedai ini berdiri sebagai “jembatan” pengingat akan proses yang pernah ia lalui.
Berbeda dengan banyak kafe di pusat kota yang menyasar segmen pasar tertentu, Dimas merancang Tempuh Coffee sebagai wadah yang egaliter. Ia menyadari bahwa di Bandung masih minim ruang yang benar-benar bisa menampung kebutuhan produktifitas seperti Work From Cafe (WFC) atau mengerjakan tugas dengan harga yang tetap ramah di kantong mahasiswa.
Baca Juga: Mengenal Waroeng Bako Kopi, Berawal dari Mimpi Sang Istri sampai Menyuguhkan Cita Rasa Asli
“Harapannya, di ruang komunal ini semua bisa melebur. Mau remaja, dewasa, hingga orang tua yang arisan, semuanya kita akomodir. Kami ingin menjadi tempat yang inklusif,” ucap dia.
Sifat inklusif ini tidak hanya terlihat dari fasilitas meja untuk meeting gratis bagi klien arsitekturnya, tetapi juga dari kebijakan rekrutmen karyawannya. Dimas tidak mematok syarat pengalaman bertahun-tahun atau latar belakang pendidikan tinggi bagi baristanya.

“Barista kami ada yang sebelumnya bekerja sebagai ART namun ingin berkembang. Kami latih dari nol. Jika kita terus meminta syarat pengalaman, mereka yang belum punya pengalaman tidak akan pernah bisa mulai bekerja,” tegas Dimas.
Sinergi Arsitektur dan Bisnis Organik
Latar belakang Dimas di bidang arsitektur dan tata kota pun turut mewarnai strategi bisnisnya. Sebelum membuka kedai, ia melakukan riset mendalam mengenai pergerakan mahasiswa di berbagai titik di Bandung. Hasilnya, kawasan Ganesha dipilih karena dianggap memiliki massa yang stabil dan organik.
Tanpa strategi pemasaran “bakar uang” melalui KOL (Key Opinion Leader), Tempuh Coffee tumbuh secara alami dari mulut ke mulut. Dimas terinspirasi dari kedai-kedai legendaris di Bandung yang mampu bertahan belasan tahun karena kedekatan emosional dengan pelanggannya.
Bagi Dimas, Tempuh Coffee bukan hanya sekadar bisnis kopi. Ini adalah batu loncatan sekaligus wadah operasional bagi studio arsitektur dan desain urban yang sedang ia rintis.
Melalui kedai ini, ia membuktikan bahwa kegagalan di masa lalu seperti tidak lolos ke kampus impian bisa menjadi bahan bakar untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.
“Setiap orang punya tahapannya masing-masing untuk menempuh mimpinya. Kami di sini hanya ingin menjadi bagian dari perjalanan itu,” tutur dia.
(Niko)

