Jerit Warga Dibalik Rampungnya Flyover Nurtanio: Akses Jalan Bawah Ditutup Total
Bandung, Nawacita – Kebijakan penutupan total jalur akses bagian bawah karena hampir rampungnya pembangunan Flyover Nurtanio, Kota Bandung, memicu gelombang protes dari warga setempat.
Penutupan yang diberlakukan sejak Selasa (6/1/2026) tersebut dinilai memutus urat nadi aktivitas harian masyarakat, mulai dari akses pendidikan hingga mobilitas darurat.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa warga, khususnya pejalan kaki, pelajar, dan pedagang kecil, kini kehilangan akses penyeberangan yang krusial menuju kawasan Husein Sastranegara.
“Yang mau nyebrang ke arah Husein enggak ada penyeberangan. Anak-anak sekolah kasihan, mau nyetop angkot juga susah,” ujar Maman (48), salah seorang warga terdampak saat ditemui di lokasi, Jumat (9/1/2026).
Dampak dari kebijakan ini tidak hanya membebani biaya transportasi warga, tetapi juga memaksa mereka melakukan tindakan nekat demi mencapai tempat tujuan.
Baca Juga: Pemkot Bandung Targetkan Flyover Nurtanio Bisa Dibuka 31 Desember
Maman mengungkap fakta memprihatinkan bahwa sejumlah mahasiswa yang indekos di wilayah tersebut terpaksa melintasi gorong-gorong demi memangkas waktu dan ongkos.
“Ada mahasiswa sampai lewat gorong-gorong. Banyak yang kos di daerah sini, kalau muter jalannya jauh dan ongkosnya nambah,” tambah dia.
Keluhan serupa datang dari Udeng (57) yang menyoroti sisi kemanusiaan yang terabaikan akibat penutupan ini. Menurutnya, akses darurat seperti pengantaran jenazah kini menjadi persoalan serius.
“Bukan cuma orang jalan kaki, pedagang kecil juga kesulitan. Bahkan kalau ada yang meninggal, jenazah harus diputar jauh,” tutur Udeng.
Sementara itu, Jeri (45), perwakilan warga lainnya menyodorkan usulan agar pemerintah atau pihak kontraktor menyediakan jalur khusus pejalan kaki seluas satu setengah hingga dua meter.
Baca Juga: Hampir Rampung, Jalan Layang Nurtanio Bakal Jadi Kado Akhir Tahun Bagi Warga Bandung
“Minimal ada akses jalan kaki. Itu bisa dipakai untuk pejalan kaki dan keperluan darurat seperti membawa jenazah,” tegas Jeri.
Selain itu, ia mengusulkan skema buka-tutup jalur pada jam-jam sibuk dengan pengawasan ketat dari petugas keamanan.
Menurutnya, selama akses tersebut hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan bukan kendaraan bermotor, risiko gangguan terhadap operasional kereta api dapat diminimalisir.
Kini, warga hanya bisa berharap pemerintah Kota Bandung segera turun tangan untuk mengevaluasi kebijakan tersebut agar pembangunan infrastruktur tidak justru mengorbankan hak-hak dasar rakyat kecil.
Reporter: Niko

