Porter Stasiun Gubeng Rasakan Berkah di Tengah Padatnya Penumpang di Masa Libur Nataru
Surabaya, Nawacita | Masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di Stasiun Gubeng, Surabaya, telah berakhir. Selama periode liburan tersebut, stasiun tersibuk di Kota Pahlawan itu dipadati penumpang yang datang dan pergi silih berganti. Di tengah hiruk-pikuk penumpang, kehadiran para porter menjadi bagian penting dalam membantu mobilitas pengguna jasa kereta api.
Para porter Stasiun Gubeng tampak kompak mengenakan seragam berwarna hijau lengkap dengan nama, nomor identitas, serta logo PT Kereta Api Indonesia (KAI). Seragam tersebut memudahkan penumpang mengenali porter resmi di tengah kepadatan stasiun.
Libur panjang Nataru menjadi momen penuh berkah bagi para porter. Meski tidak menerima tunjangan hari raya (THR) maupun penghasilan tetap, meningkatnya jumlah penumpang selama musim liburan mampu menambah penghasilan harian mereka.
Salah seorang porter Stasiun Gubeng, Shobirin (36), mengaku telah menjalani profesi ini selama sekitar 17 tahun.
“Saya jadi porter di sini sekitar 17 tahun, mulai masih bujang,” ujarnya.
Menurut Shobirin, jumlah penumpang saat libur panjang memang lebih banyak dibanding hari biasa, meski ia menilai kepadatan tahun ini masih kalah ramai dibandingkan Nataru tahun sebelumnya.
Baca Juga: Arus Nataru Daop 8 Surabaya Padat, 20 Ribu Lebih Penumpang Kereta Api Berangkat dalam Sehari
“Kalau hari biasa itu bisa ngangkut lima penumpang. Kalau liburan panjang bisa 8 sampai 10 penumpang per hari,” katanya.
Soal penghasilan, Shobirin menjelaskan bahwa tarif yang diberikan penumpang bervariasi. Walau secara resmi ada tarif yang ditetapkan oleh KAI.
“Satu penumpang itu ada yang ngasih Rp15 ribu, Rp20 ribu, Rp25 ribu, Rp30 ribu, bahkan ada yang lebih dari Rp50 ribu, tergantung kemampuan penumpangnya,” ungkapnya.
Secara resmi, KAI menetapkan tarif porter sebesar Rp38.000. Namun, nominal tersebut kerap tidak terpenuhi karena kembali disesuaikan dengan kemampuan penumpang. Saat ini, KAI juga telah menyediakan layanan e-porter yang terintegrasi dengan aplikasi KAI Access. Dari tarif Rp38.000 tersebut, Rp8.000 masuk ke KAI dan Rp30.000 diterima porter.
“Kalau lewat aplikasi itu kebanyakan yang pakai penumpang yang enggak mau ribet. Tapi banyak juga yang enggak mau karena harus download aplikasi, pakai email, dan prosesnya dianggap lama,” jelas Shobirin.
Baca Juga: Selama Nataru Penggunaan Kereta Api oleh Wisatawan Mancanegara di Daop 8 Surabaya Meningkat
Ia menambahkan, layanan e-porter umumnya lebih diminati penumpang muda, yang paham dengan cara penggunaan aplikasi, sementara penumpang lanjut usia cenderung memilih cara manual. Meski begitu, Shobirin bersyukur libur panjang tetap membawa tambahan rezeki.
“Kalau pas libur panjang gini ya berkah. Pernah juga saya berangkat sampai pulang itu enggak dapat seribu rupiah pun,” kenangnya, merujuk pada kondisi sepi penumpang saat bulan puasa.
Shobirin menjelaskan, sistem kerja porter di Stasiun Gubeng dibagi menjadi dua sif dengan jatah libur satu kali dalam seminggu. Para porter bukan tenaga outsourcing, melainkan pekerja harian lepas yang mengabdi dan dibutuhkan oleh stasiun.
“Penumpang itu ingin cepat dan praktis. Yang pakai porter ingin mudah bawa barang dan cepat keluar stasiun,” katanya.
Untuk batas usia, Shobirin menjelaskan bahwa profesi porter di Stasiun Gubeng tergolong fleksibel. Yang terpenting para porter memiliki kemampuan fisik yang prima.
“Usia enggak dibatasi, yang penting masih kuat kerja. Paling tua sekitar 67 tahun, paling muda sekitar 20 tahun,” pungkas Shobirin.

