Tuesday, February 10, 2026

Narasi Ekstrem Menyasar Anak Muda, Duta Damai BNPT Dorong Etika Bermedia Digital

Narasi Ekstrem Menyasar Anak Muda, Duta Damai BNPT Dorong Etika Bermedia Digital

SURABAYA, Nawacita – Koordinator Duta Damai BNPT Jawa Timur, Achmad Reza Rafsanjani, mengingatkan bahwa ruang digital saat ini tidak lagi netral. Media sosial telah berubah menjadi arena pertarungan narasi, ideologi, dan kepentingan, yang kerap dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk menyebarkan paham radikal secara sistematis dan emosional.

Menurut Reza, kelompok ekstrem memanfaatkan cara kerja framing dengan membingkai persoalan sosial sebagai pertarungan hitam-putih: kami versus mereka. Isu agama, identitas, hingga ketidakadilan global dikemas sedemikian rupa sehingga tampak rasional, padahal sarat dengan pembenaran kebencian dan kekerasan.

“Jika dibiarkan tanpa tandingan, ruang digital berisiko menjadi ruang normalisasi kebencian,” tandasnya, Selasa (6/1/2026).

- Advertisement -

Situasi ini semakin berbahaya ketika bertemu dengan kerentanan remaja. Pada fase pencarian identitas, anak muda mudah tertarik pada narasi yang menawarkan kepastian, tujuan hidup, dan rasa memiliki.

Baca Juga: Buka Workshop AI dan Digital Marketing, Gubernur: Ubah Mindset Anak Muda Sumsel

Minimnya literasi digital kritis membuat mereka sulit membedakan informasi, opini, dan propaganda, sementara algoritma media sosial justru memperkuat paparan konten serupa secara berulang.

“Ekstremisme bukan sekadar masalah individu, tetapi kegagalan ekosistem komunikasi digital,” tegas Reza.

Karena itu, ia menekankan pentingnya etika bernarasi di ruang digital. Narasi tidak boleh mendehumanisasi, menggeneralisasi, atau menyederhanakan realitas yang kompleks. Kebebasan berekspresi, lanjutnya, harus berjalan beriringan dengan prinsip pencegahan bahaya agar ruang digital tidak memicu kekerasan simbolik yang berujung pada kekerasan nyata.

Namun, Reza menilai narasi damai juga harus bertransformasi. Seruan normatif semata tidak cukup untuk melawan propaganda ekstrem.

Narasi perdamaian harus dikemas secara membumi, emosional, dan relevan dengan pengalaman sehari-hari masyarakat, terutama anak muda. Pendekatan storytelling dinilai lebih efektif ketimbang bahasa yang terlalu akademik atau elitis.

Selain itu, strategi komunikasi juga harus memahami logika algoritma media sosial yang berbasis keterlibatan. “Pesan damai harus menarik, konsisten, dan adaptif secara teknis. Jika tidak, ruang digital akan terus dikuasai narasi ekstrem yang lebih agresif,” ujarnya.

Reza menutup dengan menegaskan bahwa narasi damai adalah investasi jangka panjang untuk membangun ketahanan sosial. Melawan ekstremisme di ruang digital bukan hanya soal menghapus konten, melainkan membangun ekosistem narasi yang adil, inklusif, dan manusiawi.

“Karena membiarkan ruang digital dikuasai kebencian adalah pilihan yang jauh lebih berbahaya,” pungkasnya. (Al)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru