Tuesday, February 10, 2026

Pemkot Surabaya Siapkan Penambahan Nakes 2026, Fokus Tambah Dokter di Puskesmas

Pemkot Surabaya Siapkan Penambahan Nakes 2026, Fokus Tambah Dokter di Puskesmas

SURABAYA, Nawacita – Pemerintah Kota Surabaya menanggapi keluhan masyarakat terkait minimnya tenaga kesehatan (nakes) di sejumlah fasilitas kesehatan sehingga terjadinya antrian pasien seperti pada Puskesmas maupun rumah sakit.

Pemkot Surabaya memastikan penambahan nakes akan terus dilakukan pada tahun 2026 guna memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Penambahan tersebut tidak hanya melalui jalur pegawai negeri, tetapi juga lewat mekanisme kontrak.

Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, kebijakan ini dimungkinkan karena aturan memperbolehkan pemerintah daerah merekrut tenaga kesehatan non-ASN. Hal itu dilakukan untuk memastikan kebutuhan nakes di fasilitas kesehatan dapat terpenuhi.

- Advertisement -

“Kalau penambahan nakes sudah dilakukan dan kita juga tidak hanya menunggu pembukaan pegawai negeri, tapi kita membuka untuk kontrak, karena kita diperbolehkan untuk tenaga kesehatan,” ucap Eri, Jumat (2/1/2026).

Baca Juga: Pemkot Surabaya Deklarasikan Surabaya Bersatu, Tegaskan Perlawanan terhadap Premanisme

Ia menjelaskan, pada tahun 2026 Pemkot Surabaya berencana menambah tenaga kesehatan untuk seluruh rumah sakit milik daerah, sekaligus memaksimalkan program satu RW satu nakes.

“Jadi nanti kita di 2026 akan membuka penambahan nakes untuk kebutuhan di setiap rumah sakit dan untuk 1 RW 1 nakes,” katanya.

Meski demikian, Eri mengakui jumlah kebutuhan nakes masih dalam tahap pendataan oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada perawat atau bidan, melainkan pada ketersediaan dokter.

“Untuk jumlah ini masih didata oleh teman-teman Dinas Kesehatan kebutuhannya berapa, tapi tidak mudah untuk cari dokter,” ungkapnya.

Ia menambahkan, selama ini pendaftar tenaga kesehatan paling banyak berasal dari bidan, sementara dokter relatif sulit direkrut. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya akan memfokuskan upaya pencarian tenaga dokter.

“Kalau kita sudah membuka, pendaftaran dokter itu paling sulit, yang paling banyak bidan. Kita sekarang mencoba untuk mencari dokternya, bukan untuk perawatnya,”jelas Eri.

Nantinya kebutuhan dokter akan diperbanyak dan ditempatkan di masing-masing Puskesmas maupun rumah sakit. Namun, Eri menilai sistem kerja dokter menjadi tantangan tersendiri karena banyak dokter yang tidak terikat di satu tempat praktik.

“Dokter itu rata-rata tidak terikat. Dia bisa ke sini, bisa ke sini (berpraktek di lebih dari satu lokasi). Kalau dia dengan pemerintah kota, secara otomatis dia sampai berapa jam ada di puskesmas maka dia tidak bisa pindah ke tempat lain,” pungkasnya.

Reporter : Rovallgio

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru