Cegah Banjir Rob, Pemkot Surabaya Maksimalkan Infrastruktur yang Ada
Surabaya, Nawacita | Cegah banjir rob, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya optimalkan infrastruktur yang telah dimiliki, diantaranya bozem, pintu air dan rumah pompa.
Syamsul Hariadi, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya menjelaskan dengan optimalisasi infrastruktur diharapkan mampu meminimalisir banjir rob.
Kota Surabaya memiliki tiga bozem utama, yaitu Bratang, Kalidami, dan Morokrembangan. Dimana masing-masing bozem tersebut mampu menampung hingga 80 ribu meter kubik air.
“Yang besar itu ada tiga, yaitu Bozem Bratang, Kalidami dan Morokrembangan. Itu kapasitas bisa sampai 80 ribu meter kubik. Mereka mampu sementara (menampung air saat hujan deras), tinggal kekuatan pompa kita yang harus kita optimalkan,” ucap Syamsul, Senin (8/12/2025).
Hadirnya bozem sangat efektif sebagai tempat penampungan sementara air dari darat saat pasang air laut. Sehingga debit air dapat dikontrol secara maksimal.
Baca Juga: Integrasi Data, Pemkot Surabaya Siapkan Kebijakan Tepat Sasaran Mulai 2026
“Kalau hujan, air masuk ke bozem, kemudian dipompa ke laut saat pasang. Tapi kalau surut, air dari bozem bisa langsung mengalir, gravitasi dibantu pompa juga, jadi dua kali kecepatannya lebih cepat,” ujarnya.
Namun untuk lebih memaksimalkan pencegahan banjir rob, peran tanggul laut yang dilengkapi pintu dan pompa air sangatlah penting.
“Penanganan banjir rob itu memang harus ada tanggul laut, kemudian dilengkapi dengan pintu air dan pompa air,” katanya.
Namun infrastruktur yang dimiliki Pemkot Surabaya hingga kini, belumlah merata. Seperti di wilayah timur Surabaya, infrastruktur pengendali banjir di wilayah tersebut sudah lengkap. Sehingga, untuk banjir rob itu bisa diminimalisir.
Akan tetapi, di area barat seperti Kali Krembangan, Kalianak, dan Kali Sememi belum memiliki fasilitas pintu air maupun pompa air, sehingga banjir rob dapat terjadi di wilayah tersebut.
“Jadi, kami agendakan untuk rumah pompa di tiga atau empat sungai yang menuju ke laut di wilayah barat itu. Wilayah barat itu ada sekitar lima akses yang menuju laut,” terang Syamsul.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Gelar Istigasah Untuk Korban Bencana Alam di Pulau Sumatera
Syamsul menjelaskan, pembangunan tanggul laut belum dapat direalisasikan seluruhnya dikarenakan hingga saat ini belum seluruh wilayah membutuhkan.
“Seperti di wilayah barat, Kalianak dan lain sebagainya, itu sebetulnya sudah ada tanggulnya. Bukan tanggul laut namanya, tapi itu sudah proteksi terhadap air laut,” jelasnya.
Selanjutnya, sebagian wilayah di Surabaya barat telah ditinggikan oleh pengembang, sehingga pemkot tinggal melengkapi infrastruktur pengendalian air.
“Karena di sana kebanyakan tanahnya itu milik pengembang-pengembang dan pergudangan. Dan itu sudah otomatis ditinggikan oleh mereka, sehingga kita tinggal melengkapi saja,” tutupnya
Reporter : Rovallgio

