Surabaya Punya Modal PLTS Terbesar se-Jawa Timur Tinggal Keberanian Eksekusinya
SURABAYA, Nawacita – Di tengah meningkatnya desakan agar kota-kota besar berani melompat menuju energi bersih, sebuah temuan terbaru justru menempatkan Surabaya sebagai salah satu daerah dengan peluang paling besar untuk memimpin transisi tersebut.
Manajer Proyek SETI dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Malindo Wardana, menegaskan bahwa Surabaya memiliki posisi unik dalam peta transisi energi nasional.
“Potensi PLTS atap di Surabaya bukan hanya besar, tetapi sangat layak dikembangkan. Studi ini memberi gambaran jelas bagi pemerintah kota untuk menentukan lokasi prioritas dan langkah percepatannya,” ujar Malindo.
Dalam temuan studi itu, potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Surabaya—bahkan tanpa memasukkan sektor industri—mencapai, 379 MWp kapasitas terpasang. Dengan 568,6 GWh energi bersih per tahun, dan pengurangan emisi hingga 494.645 ton CO₂ per tahun.
“Jumlah energi bersih itu setara pasokan listrik untuk 134.877 rumah tangga, dengan asumsi konsumsi rata-rata 351 kWh per bulan,” ucap Malino.
Baca Juga: Studi Ungkap Surabaya Boros Energi: Rumah Susun hingga Kantor Pemerintah Jadi Penyumbang Terbesar
Menurutnya, potensi sebesar itu harus dibaca sebagai peluang yang tak boleh dibiarkan lewat begitu saja, apalagi kota ini tengah mengejar visi menjadi kota rendah karbon dan efisien energi.
Padahal, temuan lain dalam studi ini juga menunjukkan konsumsi listrik Surabaya masih sangat boros, mulai dari tingginya pemakaian AC di rumah tapak hingga borosnya bangunan pemerintah. Di sisi lain, potensi PLTS atap justru menawarkan solusi yang tepat untuk menekan beban tersebut.
Dengan kapasitas 379 MWp yang bisa digarap, Surabaya sebenarnya punya peluang besar menjadi kota percontohan PLTS atap di Indonesia bahkan bisa sejajar dengan kota-kota yang lebih dulu maju dalam transisi energi di Asia.
Malino menegaskan, Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar data, tetapi peran dari, kebijakan insentif, kemudahan perizinan,kewajiban PLTS atap untuk bangunan pemerintah, serta kemitraan kuat sektor privat dan masyarakat.
Studi ini telah memberi peta jalan yang jelas. Kini, giliran Pemerintah Kota Surabaya menentukan apakah potensi raksasa itu akan diwujudkan menjadi lompatan besar menuju Surabaya sebagai kota energi bersih, atau kembali menjadi laporan yang hanya berhenti di atas kertas. (Al)

