Saturday, February 14, 2026

Racun Plastik Mengalir di Darah Perempuan Pemilah Sampah: Ecoton Ingatkan Bahaya Nasional

Surabaya, Nawacita.co – Temuan mengejutkan kembali mengemuka dari riset biomonitoring yang dilakukan Ecoton bersama Wonjin Institute Korea Selatan dan Fakultas Kedokteran Unair.

Sebanyak 23 bahan kimia plastik berbahaya terdeteksi dalam darah seluruh pekerja pemilah sampah perempuan di Gresik. Temuan ini bukan sekadar data ilmiah ini alarm keras bagi kesehatan publik.

Di Surabaya, Ecoton bersama mahasiswa Unesa dan Unair menggelar aksi keprihatinan di Perempatan Mulyorejo. Poster-poster protes dibentangkan, menyerukan satu pesan utama: hentikan plastik sekali pakai, terutama botol air minum dalam kemasan.

- Advertisement -

Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Mikroplastik Ecoton, menegaskan bahwa kandungan PET dan ftalat dua bahan utama botol plastik mendominasi polimer mikroplastik yang ditemukan dalam darah pekerja.

“Temuan ini harus jadi pelajaran keras. Kalau pemulung saja terpapar setinggi ini, kita semua berisiko. Stop penggunaan air minum dalam kemasan plastik,” tegasnya.

Aksi serupa juga disuarakan aktivis muda. Mahasiswa Unesa, Anjar, menyoroti dampak ekologis dan kesehatan yang terus diabaikan.

“Botol plastik mencemari sungai, laut, dan akhirnya tubuh manusia. Saatnya Jawa Timur menghentikan plastik sekali pakai,” ujarnya.

Baca Juga: Edible Plastic, Inovasi Mahasiswa PCU dalam Kurangi Sampah Plastik di Surabaya

Penelitian terhadap 32 perempuan pemilah sampah ini menguji 65 bahan kimia dalam darah dan urin. Hasilnya mengungkap paparan senyawa berbahaya pada level mengkhawatirkan—jauh lebih tinggi dari populasi umum.

Dr. Won Kim dari WIOEH memperingatkan bahwa zat seperti BPA dan ftalat berpotensi mengganggu hormon, metabolisme, hingga sistem reproduksi.

“Ini kondisi serius. Tidak boleh diabaikan. Pemerintah harus segera memperbaiki sistem perlindungan pekerja dan pengelolaan sampah,” ujarnya.

Tak hanya bahan kimia plastik, seluruh peserta juga menunjukkan kadar timbal (Pb) tinggi, sebuah neurotoksin yang bisa menurunkan kecerdasan hingga memicu cacat perkembangan pada janin.

Dr. Lestari Sudaryanti dari FK Unair menegaskan urgensi perlindungan pekerja perempuan.
“Paparan setinggi ini sangat berbahaya. Indonesia perlu standar kesehatan dan regulasi kimia yang jauh lebih ketat,” ujarnya.

Dr. Daru Setyorini dari Ecoton menambah bahwa temuan ini mencerminkan rapuhnya sistem pengelolaan sampah nasional.

“Ketika 60% sampah plastik tidak terkelola, pekerja di lapangan menjadi korban pertama. Pemerintah harus segera membenahi tata kelola sampah dan membatasi plastik sekali pakai,” tegasnya.

Temuan ini bukan sekadar laporan laboratorium. Ini gambaran nyata bahwa racun plastik kini mengalir dalam darah manusia. Aktivis, akademisi, hingga tenaga kesehatan sepakat: Pengurangan plastik sekali pakai bukan lagi imbauan ini kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan manusia dan lingkungan.

Reporter: Alus Tri

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru