Penetapan Upah 2025 Dibahas, Emil: Ada Formula, Tapi Konteks Lapangan Lebih Penting
Surabaya, Nawacita.co – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan keyakinannya bahwa forum tripartit yang melibatkan pemerintah, pengusaha, dan buruh akan kembali menemukan titik temu dalam pembahasan penetapan upah tahun ini.
Hal tersebut disampaikan Emil mengingat selama beberapa tahun terakhir, Jawa Timur selalu berhasil merumuskan keputusan yang berpihak pada pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
“Biasanya di Jawa Timur ada titik temunya. Mudah-mudahan kita bisa kembali menemukan kesepahaman seperti sebelumnya,” ujar Emil.
Baca Juga: Emil Dardak: Pengukuhan Pahlawan Nasional Jadi Momentum Wariskan Nilai Perjuangan
Emil menegaskan bahwa meskipun persentase kenaikan upah secara nasional ditetapkan oleh pemerintah pusat, forum tripartit daerah tetap memegang peran penting sebagai ruang musyawarah dan penjaringan masukan. Menurutnya, pusat tetap membutuhkan dinamika diskusi yang terjadi di daerah sebagai salah satu pertimbangan.
“Memang ada formulasi yang dibuat dalam peraturan pusat, tetapi duduk bareng dalam forum tripartit tetap penting. Ini memperkuat proses pembahasan dan memberi gambaran situasi nyata di lapangan,” jelasnya.
Emil menjelaskan bahwa berbagai catatan hasil diskusi dalam forum tripartit mungkin tidak selalu terlihat secara langsung dalam keputusan akhir. Kendati demikian, catatan tersebut tetap menjadi rekam jejak penting yang dapat ditelusuri untuk melihat kebijakan-kebijakan di tahun berikutnya.
Baca Juga: Dari Bumi Pahlawan, Emil Dardak Serukan Semangat Juang Baru Bangun Jawa Timur Maju dan Inklusif
“Ada formula, tetapi kenyataannya proses yang kita tempuh tetap sama. Aspirasi disampaikan ke pusat dan keputusan diambil bersama,” ungkapnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa keputusan akhir selalu mengikuti rumusan secara kaku. Menurutnya, setiap keputusan tetap dipengaruhi konteks tahunan, kondisi ekonomi, serta dinamika pembahasan.
“Keputusan akhir memang sering mengacu pada formula, tetapi selalu ada konteksnya. Kalau melihat jejak tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah 100 persen sama,” tutup Emil.
Reporter: Alus

