Saturday, February 14, 2026

Dari Tempat Tersembunyi, Tri Astutik Berdayakan Warga dengan Batik Bojonegoro

Bojonegoro, Nawacita.co – Menuju rumah Tri Astutik dengan kendaraan roda 4, butuh waktu sekitar 50 menit dengan jarak tempuh 30 km dari Bojonegoro Kota sampai di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Meskipun mengikuti petunjuk lewat Google Maps, tetap harus turun dari kendaraan dan tanya warga sekitar untuk sampai di sana.

Rumah produksi Batik Sekar Rinambat, berada RT.05, RW.01, tepatnya jalan di timur GOR Dolokgede, terus ke selatan sekitar 500 meter sampai rumah yang terdapat papan nama Kepala Desa, belok ke kiri atau arah timur sekitar 100 meter, belok lagi kiri sekitar 50 meter sampai di depan rumah Tri Astutik, dengan halaman yang luas dan pepohoan rindang.

Di depan rumah dengan dinding bata merah estetik itu, ada dua batik yang sedang dikeringkan di bawah kanopi teras. Di dinding masih berupa bata itu, tertempel papan nama Tempat Kreasi dan Edukasi (Teras) Batik Sekar Rinambat, Desa Dolokgede, Kec. Tambakrejo-Bojonegoro.

- Advertisement -

Tri Astutik, tersenyum ramah tamu yang datang di rumahnya. Ketua Kelompok dan Owner Batik Sekar Rinambat itu menunjukkan koleksi Batik Bojonegoro yang diproduksi di rumahnya. Kemudian, mengajak ke belakang rumah untuk menunjukkan bagaimana produksi batik di sana.

“Dulu hanya ibu rumah tangga biasa. Alhamdulillah sekarang sudah mempunyai usaha batik, juga menjadi tempat edukasi untuk anak-anak TK, SD, SMP, dan juga diminta universitas memberikan edukasi bagaimana membatik,” ujar Astutik sambil mengajak ke tempat produksi.

Baca Juga: Paguyuban Kange Yune Bojonegoro Ajak Masyarakat Cintai Budaya lewat Kegiatan WARTHA

Tutik mengaku, sebagai ibu rumah tangga, dulu sering ditinggal suaminya bekerja di luar kota. Namun setelah menjalankan usaha batik, dan mulai banyak pesanan, suaminya tak tega meninggalkannya karena proses produksi membutuhkan banyak tenaga.

“Sekarang sudah tidak ditinggal lagi, dan ditunggui terus di rumah karena memang butuh tenaga laki-laki untuk proses produksi. Terutama saat proses proses nglorot dan cap butuh tenaga kuat. Kalau ibu-ibu lebih ke mewarnai sampai menyetrika, dan packing,” kata Tutik.

Di hari-hari biasa, Tutik dibantu tetangganya untuk membuat batik. Total ada 7 wanita dan 2 laki-laki dalam proses pembuatan batik. Sedangkan pada saat ada kunjungan edukasi membatik dari sekolah-sekolah, Tutik memberdayakan masyarakat sekitar antara 15 sampai 20 orang untuk membantunya melayani para pelajar yang ingin belajar membatik langsung di lokasi.

Mbak Tutik, sapaan akrabnya, menjelaskan, usahanya ini dimulai pada tahun 2016, ketika ia bersama empat Ibu Rumah Tangga (IRT) lainnya mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh PT Pertamina EP Cepu Zona 12, Operator Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB).

Selama kurang lebih tiga tahun, mereka mendapat bimbingan intensif, mulai dari pelatihan, magang, hingga bantuan modal alat membatik. Berkat dukungan ini, Mbak Tutik mulai menerima banyak pesanan batik.

“Setelah mendapatkan pelatihan, banyak pesanan yang masuk,” jelas Tutik.

Meskipun sempat mengalami kendala saat Covid-19 dan penjualan menurun drastis, ia tetap konsisten berproduksi, meski hanya sedikit, untuk menambah stok. “Alhamdulillah setelah Covid-19 pesanan kembali banyak, dan terus bertambah sampai saat ini,” tambahnya.

Batik Bojonegoro
Tri Astutik (Pojok Kanan) mewarnai batik bersama warga yang membantunya di rumah produksi Batik Sekar Rinambat. (Foto: Parto/Nawacita.co).

Baca Juga: DPRD Dorong Pemkab Bojonegoro Maksimalkan Serap Anggaran

Batik yang diproduksi dengan nama Batik Sekar Rinambat ini semakin dikenal luas. Pemasarannya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, media sosial seperti WhatsApp (WA) dan Instagram, e-commerce, serta aktif mengikuti pameran.

Batik Sekar Rinambat kini memiliki pelanggan tetap, terutama dari sekolah pondok pesantren yang memesan seragam siswa setiap tahun ajaran baru. Pesanan juga datang dari kantor-kantor pemerintah, guru, dan perorangan.

Saat ini, Mbak Tutik telah memproduksi lebih dari 20 motif Batik Bojonegoro. Hebatnya, dua di antaranya akan menjadi bagian dari 10 motif baru yang diluncurkan oleh Pemkab Bojonegoro pada tahun 2025, yaitu motif Sewu Sendang dan motif Agni Amerta Kahyangan. Kedua motif ini sudah diproduksi dalam bentuk batik cap maupun tulis.

Harga batik yang dibuat di Batik Sekar Rinambat bervariasi, batik cap mulai Rp70.000 untuk seragam, sampai Rp250.00 per kain, batik eco print sutra Rp1.250.000, dan batik tulis harga tergantung kerumitan motifnya.

“Untuk membuat batik, kurang lebih bisa sampai 15 hari dari awal tahap proses sampai jadi. Dalam 1 hari bisa produksi sampai 20 batik. Kalau untuk seragam bisa 30 sampai 40 batik per hari,” tambahnya.

Pendapatan dari usaha Batik Bojonegoro itu, rata-rata omzetnya mencapai Rp15.000.000 sampai Rp20.000.000 per bulan. Bahkan, pernah mencapai hampir Rp100.000.000 pada saat mengikuti pameran.

Batik Sekar Rinambat, merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh PT Pertamina EP Cepu Zona 12 di wilayah operasi, khususnya di Desa Dolokgede sejak tahun 2016 silam.

“Kami berkomitmen memberikan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Batik Sekar Rinambat diawali dari ibu rumah tangga, sekarang telah menjadi entrepreneur, dan juga sebagai pembicara untuk memberikan pelatihan membatik. Harapan kami, Batik Sekar Rinambat semakin sukses lagi, dan membawa Desa Dolokgede semakin maju,” kata Senior Officer Comrel and CID Zona 12, Pamita Rossiana Dewi kepada Nawacita.co di lokasi.

Salah satu pecinta batik, Rahmawati mengaku Batik Bojonegoro Sekar Rinambat bervariasi, punya banyak motif yang bisa dipilih sesuai selera. Menurutnya, banyak potensi di Kabupaten Bojonegoro yang bisa dikreasikan menjadi batik, diantaranya Pari Sumilak, Mliwis Mukti, Rancak Thengul, dan Sata Ganda Wangi, Wayang Thengul, Ngiwo Nengen Ancak Prakoso, dan Agni Amerta Kahyangan.

“Kalau di Batik Sekar Rinambat ini, menariknya dari Batik Bojonegoro yang sudah ada di pasaran, ditambah modifikasi sendiri, jadinya beda dengan yang lain. Kalau mau beli ya di sini,” ujar warga Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro itu.

Berikut ini motif Batik Bojonegoro di tahun 2025

Motif Batik Tradisional

1. Pari Sumilak: Melambangkan kesuburan dan kemakmuran hasil pertanian padi di Bojonegoro
2. Mliwis Mukti: Terinspirasi dari legenda Prabu Angling Dharma, mencerminkan kekuasaan raja di wilayah Bojonegoro
3. Rancak Thengul: Menggambarkan Wayang Thengul, salah satu kesenian tradisional khas Bojonegoro
4. Sata Ganda Wangi: Melambangkan tembakau Bojonegoro yang sudah terkenal sejak lama
5. Jagung Miji Emas: Menggambarkan jagung dengan biji emas sebagai simbol kekayaan
6. Sekar Jati: Menggambarkan tanaman jati yang serba guna dari akar hingga daunnya
7. Parang Lembu Sekar Rinambat: Menggambarkan sapi yang ditambatkan secara miring dengan kombinasi warna hitam-putih, melambangkan Bojonegoro sebagai pusat pengembangan peternakan sapi di masa depan
8. Parang Dahana Munggal: Menggambarkan Kayangan Api sebagai salah satu objek wisata unggulan
9. Gatra Rinonce: Salah satu motif batik Bojonegoro yang memiliki filosofi mendalam.

Motif Batik Baru (Hasil Lomba Desain)

1. Jagad Jonegoro: Menggabungkan elemen Kayangan Api, Burung Belibis, dan Wayang Thengul, dibuat oleh Yoga Ardianto (kategori Remaja)
2. Ngiwo Nengen Ancak Prakoso: Salah satu pemenang lomba desain tahun 2024
3. Agni Amerta Kahyangan: Motif lain yang muncul dari lomba desain 2024
4. Obor Sewu: Motif baru yang dikenalkan melalui fashion show di tahun 2025.

Reporter: Parto Sasmito

 

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru