Tuesday, February 10, 2026

Puluhan Santri Geruduk Rumah Atalia Praratya, Terkait Pembangunan Ulang Pesantren Al Khoziny

Puluhan Santri Geruduk Rumah Atalia Praratya, Terkait Pembangunan Ulang Pesantren Al Khoziny

BANDUNG, Nawacita – Puluhan santri dan santriwati dari berbagai pesantren di Kota Bandung melakukan aksi demonstrasi di depan rumah istri mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya pada Selasa, (14/10/2025).

Puluhan santri yang tergabung dalam Forum Santri Nusantara se-Bandung Raya itu memulai aksi di Jalan Gunung Kencana, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, tepat di depan rumah pribadi Ridwan Kamil.

Koordinator Aksi Forum Santri Nusantara, Rizky Ramdhan Fadilah mengatakan bahwa aksi yang mereka lakukan merupakan bentuk kekecewaan atas pernyataan Atalia yang menyinggung soal perizinan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Jawa Timur.

- Advertisement -

Pernyataan tersebut sebelumnya dilontarkan Atalia saat adanya rencana pemerintah yang bakal kembali membangun mushola yang roboh di pesantren Al Khozini menggunakan APBN.

Baca Juga: Kementerian PU Tinjau Pembangunan Gedung Ponpes Lirboyo di Kediri

Diketahui tragedi robohnya bangunan mushola di Ponpes Al Khoziny menyebabkan puluhan santri meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Tragedi tersebut disinyalir atau diduga akibat adanya kelalaian dalam konstruksi saat pembuatan bangunan.

Puluhan Santri Geruduk Rumah Atalia Praratya
Capt: Massa aksi tiba di rumah Atalia Praratya atau istri Ridwan Kamil. Foto: Istimewa.

“Kan gitu ini dimulai dari satu respon dari… anggota legislatif yang punya pandangan atau membentuk satu opini ini terhadap pesantren di tengah masyarakat gitu dengan mengatakan bahwa kemudian mungkin telah terjadi pelanggaran berat di tubuh pesantren Al Khozini kan gitu,” kata Rizky saat diwawancarai di lokasi, Selasa (14/10/2025).

Ia menyebut bahwa pernyataan tersebut membuat suasana menjadi semakin keruh saat permasalahan robohnya pesantren Al Khozini sudah mulai selesai. Pernyataan tersebut dinilai membuat legalitas Ponpes Al Khozini dipertaruhkan oleh negara.

“Kami datang ke sini menyampaikan kekecewaan dan solidaritas terhadap Ponpes Al-Khoziny, yang saat ini legalitasnya dipertaruhkan oleh negara. Dan pernyataan Bu Atalia justru memperkeruh suasana,” ucap dia.

Rizky menilai bahwa opini Atalia Praratya yang menolak dibangunnya kembali bangunan mushola Ponpes Al Khozini oleh pemerintah dengan memakai dana APBD membuat citra pesantren menjadi buruk di masyarakat.

Selain itu, pernyataan tersebut juga dinilai Rizky seolah ada sentimen pribadi dark Atalia Praratya kepada dua pesantren.

“Hal ini yang kemudian membuat satu pandangan buruk atau menciptakan satu pandangan buruk di masyarakat terhadap citra dari pesantren ke Indonesia kan gitu. Kenapa hal ini seperti hal yang seperti apa namanya sensitif terhadap pesantren dalam pribadi ibu atalia ini kan gitu,” ungkap Rizky.

Lebih lanjut, Rizky menuturkan bahwa massa aksi juga melayangkan lima tuntutan dalam aksi demonstrasi di depan rumah Atalia Praratya.

Pertama, massa aksi menuntut agar Ketua DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia sebagai Anggota DPR RI karena dinilai opininya telah membuat kegaduhan dan dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan sosial serta konstitusi.

“Yang kedua, menuntut Ibu Atalia melakukan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka kepada publik dan seluruh komunitas pesantren di Indonesia atas pernyataan yang menyinggung perasaan umat dan keluarga korban tragedi di Al-Khozini,” tutur dia.

Ketiga, massa aksi juga menuntut Komisi VII DPR RI untuk menyusun Kebijakan Nasional terkait Keselamatan Pesantren dengan melibatkan Kementerian Agama, Kementerian PUPR dan BNPB. Hal tersebut agar tragedi serupa tidak terulang kembali sekaligus tidak mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pondok pesantren.

“Empat, mendesak pemerintah dan DPR untuk memastikan hak-hak korban tragedi Al Khoziny meliputi satu, santunan keluarga korban dua, bantuan medis dan psikososial bagi santri yang selamat. Tiga, beasiswa penuh bagi santri yatim piatu akibat tragedi ini,” papar Rizky.

Kelima, massa aksi menuntut agar pemerintah segera merenovasi atau membangun kembali mushola Ponpes Al Khozini yang telah roboh.

Terakhir, ia kembali menegaskan bahwa massa aksi melayangkan tuntutan akibat opini Atalia Praratya yang seolah tidak setuju jika pesantren Al Khoziny kembali dibangun menggunakan APBN.

“Yang kami protes adalah tentang beliau seperti tidak sepakat dengan anggaran APBD yang kemudian akan digunakan oleh pemerintah untuk membangun Al Khozini gitu, untuk membangun kembali pesantren Al Khozini,” tegas dia.

(Niko)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru